
Sepuluh tahun telah berlalu sejak kepergian Hendra, namun rasanya rasa kehilangan itu masih sangat jelas terasa. Anita kini menjadi single parent untuk Junior, meski Andi selalu ada di sampingnya. Junior telah tumbuh menjadi remaja yang sangat tampan dan begitu mirip dengan daddy nya.
"Mom, aku akan pergi keluar dengan teman- teman ku..." ucap Junior minta ijin
"Iya, tapi jangan pulang terlalu larut..." kata Anita berpesan
"Tapi mom, rencananya kami akan menginap di rumah Ryan, teman sekelas ku....besok kan hari minggu, boleh ya..." ucap Junior sambil memohon
"Apa kamu tega membiarkan mommy dirumah sendiri...." sahut Anita
"Kan ada bibi yang menemani..." jawab Junior bersikukuh ingin menginap di rumah temannya
"Tapi nak..." singkat Anita
" Mom,...kenapa sih mommy nggak menikah saja sama om Andi, jadi mommy nggak akan kesepian lagi jika aku sedang keluar." ucap Junior tiba-tiba hingga membuat Anita kaget
"Om Andi itu baik, mom....dia begitu sabar mendampingi mommy selama ini, sepuluh tahun sejak daddy pergi rasanya sudah cukup untuk mommy move on lagi." kata Junior memeluk tubuh mommy nya mencoba meyakinkan
"Apa kau ingin om Andi jadi pengganti daddy..." lirih Anita mengusap kepala anaknya
"Sampai kapan pun daddy tak pernah tergantikan mom,... tapi setidaknya ada yang akan selalu menjaga mommy dan menjadi teman ku." sahut Junior yang ternyata punya pemikiran yang sudah dewasa
"Mom, tolong pertimbangkan ini...aku hanya tak ingin mommy merasa kesepian. " lanjut Junior karena Anita hanya terdiam
"Iya, akan mommy pertimbangkan." singkat Anita
Hanya sejenak kemudian terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, dan ternyata Andi yang datang. Baru saja di bicarakan orang nya langsung nongol, Andi yang memang sudah sangat biasa dirumah itu langsung masuk dan melihat Anita dan Junior sedang berada di ruang tengah.
"Jun, mau kemana kok udah keren banget..." ucap Andi yang langsung duduk di sofa
"Ya jelas lah keren, ...aku mau pergi sama teman-teman dan menginap, jadi malam ini tolong jaga mommy..." ucap Junior tersenyum
"Junior, ..." sahut Anita mencubit lengan anaknya
__ADS_1
"Aduh, sakit mom....iya maaf." pekik Junior mengusap lengannya
"Memangnya mau menginap dimana?" tanya Andi pura-pura tak mendengar kalimat terakhir Junior
"Dirumah Ryan, om..." jawab singkat Junior
"Boleh saja menginap, tapi jangan macam-macam....ingat jangan pernah menyentuh narkoba." pesan Andi yang memang telah menganggap Junior seperti anaknya sendiri
"Siap boss, ...oke aku pergi dulu. " sahut Junior lantas memeluk dan mencium pipi mommy nya
Setelah Junior pergi, kini hanya Anita dan Andi yang berada di ruang tengah, sedang bibi sudah masuk ke kamarnya setelah selesai beres-beres. Keduanya duduk bersebelahan di sofa, meski merasa ragu Andi memberanikan diri mendekatkan tubuhnya pada Anita dan meraih tangannya.
"Anita, bukankah kau dengar keinginan anakmu tadi, aku akan menjaga mu malam ini..." ucap Andi pelan sambil menggenggam tangan Anita
"Ada bibi, jadi ..." ucapan Anita langsung dipotong Andi
"Anita, apa sepuluh tahun tak cukup untuk meyakinkan hati mu..." lirih Andi menatap dalam wajah Anita
"Andi, aku masih terus teringat padanya..." sahut Anita pelan tak berani menatap Andi
"Apa kau sungguh rela jika aku tetap mengingat dan mengenangnya selalu, apa itu tak akan menyakiti hatimu?" tanya Anita serius
"Aku akan berusaha rela dan ikhlas, cinta memang tak bisa dipaksakan Anita, namun setidaknya terima dan sayangi lah aku dan jadikan aku pendamping hidup mu kini dan nanti, move on lah Anita." kata Andi sungguh-sungguh
"Apa kau sedang melamar ku?" tanya Anita ragu
"Iya, anggap saja begitu...Anita, menikahkan dengan ku, dan jadikan aku sebagai sandaran hati mu." ucap Andi mencium tangan Anita dan menatap lembut wajahnya
Cukup lama Anita hanya terdiam, matanya melihat sebuah ketulusan di mata Andi. Dan entah mengapa saat Andi dengan serius melamarnya jantungnya terasa berdetak kencang, dan perasaan nya menjadi begitu bahagia. Hingga akhirnya dengan pelan Anita menganggukkan kepalanya, sambil tetap menatap wajah Andi.
"Terima kasih, Anita....cinta sejati ku, belahan jiwa ku." sahut Andi tersenyum bahagia kemudian mencium kening Anita
"Aku ingin menikah secepatnya, akan aku urus semua berkas yang di butuhkan..." ucap Andi sangat antusias
__ADS_1
"Kenapa harus buru-buru?" singkat Anita
"Tidak buru-buru sayang, sepuluh tahun apakah masih kurang lama?" sahut Andi mencubit lembut pipi Anita
"Sejujurnya aku sangat kagum dengan kesabaran mu, aku tak menyangka ada pria yang dengan begitu sabar menerima semua penolakan dan sikap ketus ku selama ini." ucap Anita tersenyum kecil
"Jangan kan sepuluh tahun, seribu tahun pun aku akan sabar menanti mu..." sahut Andi menatap lembut mata Anita
"Beneran ya, kalo gitu nikahnya seribu tahun lagi..." ucap Anita menggoda Andi
"Kamu, dasar nakal...." sahut Andi gemas sambil menggelitik pinggang Anita
Anita meronta minta ampun saat Andi terus saja menggelitik pinggang nya, keduanya tertawa lepas terlihat begitu bahagia. Andi dengan lembut men ci um bibir Anita saat berada sangat dekat di depan wajahnya, Anita yang mulanya terkejut mulai membalasnya dengan lembut.
"Aku mencintaimu, Anita..." lirih Andi kemudian melu mat lembut bibir Anita
Kini keduanya saling menye sap dan melu mat lembut, Anita merasa begitu nyaman dengan kehangatan bibir Andi. Hasratnya yang telah cukup lama terpendam, kini terpicu oleh kehangatan bibir dan sentuhan lembut tangan Andi. Ia begitu menikmatinya, hingga membuatnya menjadi agresif dalam mengimbangi setiap sentuhan dan se sap an lembut Andi.
"Andi, cukup...." lirih Anita saat merasakan permainannya semakin panas
"Anita, aku menginginkan mu..." bisik Andi sambil menggigit lembut telinga Anita
"Sabarlah, bukankah kita akan segera menikah ...." lirih Anita lagi sedikit mendorong dada Andi dengan kedua tangannya
"Kau membuatku tersiksa, sayang... apa kau tak melihat dan merasakan nya." ucap pelan Andi melirik bagian bawah nya
"Maafkan aku, untuk saat ini selesaikan sendiri ya..." kata Anita sambil mengusap lembut wajah Andi
"Apa kau tak mau membantuku..." sahut Andi terus mendesak
"Aku janji setelah kita menikah nanti, aku akan turuti semua keinginan mu, apapun itu..." ucap lembut Anita menolak pelan
"Janji ya, awas kalau sampai ingkar...." sahut Andi menatap dalam mata Anita
__ADS_1
"Iya, janji...." singkat Anita mencium pipi Andi
"Baiklah, aku akan selesaikan ini dulu...." sahut Andi kemudian bergegas ke kamar mandi