
Setelah berusaha keras untuk membujuk, akhirnya Hendra memaksakan untuk membuka mulutnya. Dina tersenyum bahagia melihat pria di depannya itu kini mau menerima suapan nya. Meski cuma beberapa suap saja, namun lebih baik daripada tidak sama sekali.
"Cukup...terima kasih." ucap singkat Hendra menolak suapan
"Baiklah tuan, tak apa yang penting perut sudah terisi, sekarang minumlah obatnya. " Dina berkata sambil meletakkan piring dan ganti mengambil gelas dan beberapa butir obat
Hendra mengambil obat dan gelas dari tangan Dina, dan meminumnya sendiri. Setelah selesai dan mengembalikan gelas pada Dina, ia mulai bertanya tentang perkembangan kesehatan nya.
"Maaf nona, apa yang dikatakan dokter tentang kesehatan saya, saya ingin segera pulang." tanya Hendra pada Dina
"Dokter bilang kalo tuan rajin minum obatnya, mungkin minggu depan tuan sudah bisa bepergian." jawab Dina tersenyum
"Kenapa masih lama,...nona bisa saya minta tolong?" Hendra berkata sambil menatap wajah Dina
"Tentu saja tuan, katakanlah apa yang bisa saya bantu." sahut cepat Dina
"Saya tahu tempat ini sangat terpencil, mungkin juga belum ada jaringan telekomunikasi. Kalo boleh tolong temui dokter yang selama ini merawat saya, dan minta dia menghubungi nomer yang akan saya berikan. Saya yakin di klinik itu setidaknya ada alat komunikasi." ucap Hendra kemudian meminta kertas dan pena
"Ini tuan." Dina memberikan secarik kertas dan pena yang diminta oleh Hendra
Hendra kemudian memberi nomer kantornya di pulau X tersebut, ia yakin setelah diberi informasi pasti anak buahnya akan segera bergerak menuju ke lokasinya kini berada.
"Ini nona, sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih." ucap Hendra sambil menyerahkan kertas tersebut
"Maaf tuan, apa setelah tuan nanti pergi dari sini, tuan akan melupakan kami begitu saja." lirih Dina yang hatinya seakan tidak rela bila Hendra pergi dari rumahnya
__ADS_1
"Tentu saja tidak, saya sudah berutang budi pada nona dan keluarga, bahkan juga berutang nyawa. Sampai kapan pun dan dengan apapun saya tak akan bisa membalasnya. Apapun yang nona dan keluarga inginkan, pasti saya akan berusaha mewujudkannya." jelas Hendra yang merasa aneh dengan sikap gadis muda itu
Dina lalu berdiri dan melangkah keluar meninggalkan kamar tempat Hendra berada, kini ia mulai ragu. Apa dia ikuti keinginan Hendra untuk bertemu dokter dan memberikan nomer itu tapi dengan konsekuensi Hendra akan segera meninggalkan rumahnya, ataukah ia urungkan pergi agar Hendra bisa berlama-lama di sini.
"Kamu kenapa nak, kok melamun." tanya bu Tari melihat anak gadisnya termenung diteras
"Bu, pria itu namanya Hendra, aku tadi bertanya padanya. Dan dia meminta tolong pada ku untuk menemui dokter di klinik untuk menghubungi nomer ini." kata Dina sambil menunjukkan secarik kertas
"Ya kalo begitu pergilah, mumpung masih pagi." ucap bu Tari pada Dina
"Tapi bu, nanti kalo tuan Hendra cepat pergi dari sini bagaimana?" lirih Dina yang hatinya menjadi sedih
"Nak, jangan berfikir macam-macam ya, harusnya kamu bersyukur karena tuan Hendra bisa cepat bertemu dan kembali pada keluarganya." ucap tegas bu Tari yang melihat gelagat aneh dari sikap gadis muda itu
"Bu, jujur Dina belum rela jika tuan Hendra cepat pergi dari sini, Dina..." ucapannya dipotong dengan cepat oleh bu Tari
"Tapi bu, jujur Dina..." ucapannya terhenti
"Nak, ibu tahu perasaan mu saat ini, ibu juga tahu kamu baru kali ini merasakannya, namun jangan sampai hilang akal. Berpikirlah jernih jangan hanya mengikuti kata hati,..." bu Tari dengan sabar mencoba memberi pengertian pada Dina
Setelah di nasehati ibunya panjang lebar, akhirnya Dina pergi menemui dokter sesuai permintaan Hendra. Jaraknya memang lumayan jauh, ia harus naik ojek dulu baru ganti angkutan umum. Sekitar satu jam lebih ia baru sampai di klinik, dan langsung bergegas masuk untuk menemui dokter.
"Maaf suster, dokter belum datang ya?" tanya Dina pada salah satu suster
" Oh kak Dina,...hari ini dokter sedang ke kota untuk membeli stok obat-obatan, ada yang bisa di bantu?" ucap suster tersebut
__ADS_1
"Gini suster, tuan Hendra...suster ingat kan pada pria yang terluka tembak dan koma cukup lama itu." Dina mulai mengatakan masih kedatangannya
"Tentu saja ingat, jadi namanya Hendra...terus kenapa, apa kondisinya drop lagi?" tanya suster
"Tidak suster, kondisinya semakin membaik. Dia ingin minta tolong untuk menghubungi nomer ini, pak dokter pasti bisa membantunya." ucap Dina sambil menunjukkan secarik kertas
"Oh begitu, ...tidak usah menunggu dokter, biar saya bantu kebetulan di klinik ini ada sambungan telepon." suster mengambil kertas dari tangan Dina
Suster mulai mencoba menghubungi nomer tersebut, namun tak ada jawaban. Setelah tiga kali percobaan akhirnya tersambung, dan terdengar suara laki-laki dari ujung telepon.
"Halo, ada yang bisa dibantu?" sapa suara itu
"Maaf tuan, saya dari klinik CM yang ada di daerah S...saya ingin memberikan sebuah informasi. Apa tuan mengenal tuan Hendra?" ucap suster tersebut
"Hendra, tentu saja saya mengenalnya...saya Dokter Arya teman dekat Hendra. Apa anda tahu keberadaannya dan bagaimana kondisinya?" sahut laki-laki itu yang ternyata adalah Dokter Arya, yang sengaja menetap di pulau X untuk sementara selama pencarian Hendra
"Begini tuan, kira-kira dua bulan yang lalu kami mendapat pasien seorang pria yang terluka tembak dan terhanyut di sungai, ia tak sadarkan diri dan kondisinya sangat mengkhawatirkan." suster mulai menjelaskan
Dokter Arya mendengar penjelasan dari suster tersebut dengan seksama, secara detail suster tersebut menjelaskan dari awal ditemukan hingga kondisinya saat ini. Dokter Arya merasa sangat lega, namun dia tetap harus memastikannya.
Setelah mendapat alamat dari suster tersebut, Dokter Arya segera mengumpulkan anak buah dan memberitahukan informasi tersebut. Segera setelahnya mereka berangkat menuju alamat yang dimaksud, tak lupa Dokter Arya juga menyampaikan informasi tersebut pada si boss.
"Benarkah Arya,...cepat pastikan kebenarannya, dan tolong jangan beritahu Anita dulu. Setelah kamu telah memastikan bahwa itu benar Hendra dan mengecek kondisinya, baru kita beritahu Anita." ucap si boss kemudian
"Baik Boss, saya mengerti maksud boss,...saat ini saya dan beberapa anak buah sedang menuju alamat yang di berikan oleh suster tersebut." sahut Dokter Arya cepat
__ADS_1
"Baiklah, jangan lupa terus kabari aku...semoga itu benar Hendra kita." ucap si boss mengakhiri percakapannya di ponsel