
Seminggu telah berlalu namun Hendra belum bisa mendapat titik terang, karena Andi selalu saja menghindar darinya. Ia terus berfikir untuk menemukan cara yang tepat untuk mulai membuka semua tabir rahasia ini.
"Dad, apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Anita saat melihat Hendra duduk termenung di meja makan
"Apa....tunggu, kenapa tak terpikir sebelumnya." sahut Hendra sedikit tersenyum
"Ada apa Dad?" Anita penasaran melihat raut wajah suaminya sedikit cerah
"Mom,... kau bisa membantu ku, bertemulah dengan Andi..." ucap Hendra melihat ke arah Anita yang duduk di sebelahnya
"Maksudnya aku..." Anita masih belum mengerti
"Aku akan mengatur agar kamu kelihatan tak sengaja bertemu dengan Andi, dan aku akan terus mengawasi mu dari kejauhan. Bagaimana apa kau bisa?" tanya Hendra meminta kesanggupan Anita
"Akan aku coba, tapi apa aku akan baik-baik saja?" tanya balik Anita yang masih tampak ragu
"Kalo memang dia mengagumi mu apalagi jatuh cinta pada mu, pasti dia tak akan berbuat macam-macam. Setahu ku dulu dia pria yang cukup romantis dan penyayang pada wanita yang di cintainya. " kata Hendra mencoba meyakinkan istrinya
"Baiklah Dad, aku percaya padamu...kapan aku harus bertemu dengannya?" Anita yakin dengan keputusan suaminya
"Setiap istirahat siang dia pulang ke rumahnya, kamu bisa menunggunya tak jauh dari rumah itu dan seakan-akan mobil kamu mogok dan butuh bantuan dia." ucap Hendra mengatur rencana
"Tapi bagaimana aku tahu itu dia, aku sama sekali tak mengenalnya?" tanya Anita serius
"Aku akan memberitahu mu, saat mobil Andi hendak melintas di depan mu. Bagaimana apa kau bisa?" kata Hendra lagi
"Baiklah, semoga ini berhasil...Aku ingin semuanya segera jelas dan berakhir." sahut Anita kemudian
"Aku juga akan meminta Arya untuk stand by di sekitar rumah tersebut, jadi jangan khawatir..." tambah Hendra untuk meyakinkan istrinya
__ADS_1
Hari itu Hendra berangkat ke kantor setelah menghubungi Arya, ia menceritakan rencananya pada Arya. Dan saat di kantor ia berusaha untuk bersikap biasa saja, ia tak ingin Andi curiga dan membuat semua rencana berantakan. Hati Hendra terasa terus gelisah menanti saatnya tiba, dan begitu Andi ke luar kantor dan mulai memacu mobilnya ia pun dengan menjaga jarak mengikutinya.
"Anita, bersiaplah sebentar lagi mobil SUV putih akan melintas, itu mobil Andi..." ucap Hendra menghubungi ponsel Anita yang telah bersiap
Anita merasa deg-deg an, ini pertama kalinya ia melakukan pekerjaan ala detektif begini. Dan semoga saja aktingnya berhasil dan tidak membuat curiga Andi. Tak beberapa lama kemudian tampak mobil yang dimaksud, Anita sudah mulai beraksi pura-pura butuh bantuan, dan berhasil mobil itu berhenti di depan nya.
"Maaf, bisakah anda membantu saya tuan...mobil saya tiba-tiba mogok." ucap Anita saat Andi membuka kaca depan mobilnya
"Kamu..." lirih Andi menatap wajah Anita dan tak menyadari ucapannya
"Maaf tuan, apa anda mengenal saya..." tanya Anita yang merasa heran dengan tatapan Andi
"Oh tidak...apa yang bisa saya bantu nyonya?" tanya Andi kemudian
Benar kata Arya, Andi memang bagai cermin Hendra, sangat handal dan profesional. Tanpa disadari Anita sebenarnya Andi telah bisa melihat jika ia sedang diawasi. Namun Andi bersikap biasa saja, dan ia mengikuti alur yang dilakukan Anita.
"Naiklah nyonya, rumah saya dekat dari sini...biar nanti saya hubungi bengkel untuk melihat dan memperbaiki mobil anda." ucap Andi yang merasa deg-deg an juga karena harus sedekat ini dengan Anita, wanita yang selama ini sangat dikagumi nya
"Tapi apa tidak merepotkan anda, tuan?" tanya Anita memastikan
"Tidak, silahkan..." sahut Andi sambil membuka pintu mobilnya
Sepasang pria dan wanita yang kini duduk bersebelahan dalam satu mobil ini sama-sama terdiam, keduanya merasakan detak jantungnya terasa sangat cepat meski dengan alasan yang berbeda. Beberapa menit kemudian mobil telah memasuki pekarangan rumah Andi, setelah turun kemudian Andi menyuruh Anita masuk dan duduk di ruang tamu.
"Silahkan duduk, saya akan hubungi orang bengkel sebentar..." ucap Andi meninggalkan Anita di ruang tamu
"Maaf adanya hanya ini, silahkan..." Andi datang menghampiri membawa minuman dan sedikit cemilan
"Saya sudah menghubungi bengkel, sebentar lagi mereka akan datang. " lanjut Andi kemudian duduk di kursi sebelah Anita
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa...ini sudah lebih dari cukup, terima kasih dan maaf sudah merepotkan anda." ucap Anita tetap bersikap tenang
Suasana terasa sangat hening, keduanya hanya terdiam, Anita terus menundukkan wajahnya. Sedangkan Andi sesekali menatap wajah cantik di depannya, Andi yang sudah terlalu lama menyimpan perasaannya kini tak kuasa menahannya lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk mulai pembicaraan setelah berfikir sejenak.
"Anita...akhirnya aku bisa bertemu dengan mu lagi." lirih Andi menatap Anita hingga membuatnya terperanjat tak menyangka
"Anda...Maaf apa saya mengenal anda?" tanya Anita gemetar antara takut dan deg-deg an
"Mungkin kamu tak pernah menganggap aku ada, dan kamu hanya mengganggap ku sepintas lalu hingga tak penting untuk diingat." ucap Andi terus menatap Anita
"Mungkin kini sudah saatnya, aku tahu Hendra yang menyuruhmu kan...Aku sudah bisa membaca rencana mu." lanjut Andi
"Kamu...siapa sebenarnya?" tanya Anita semakin gemetar mendengar kenyataan jika Andi mengetahui rencananya
"Jadi kamu benar-benar tak mengingat ku meski kini telah berhadapan dengan ku...." jawab Andi bersikap datar dan dingin
"Apa kau masih ingat dulu saat kamu berkendara dengan pakaian pengantin mu, ada seorang pria yang meminta bantuan untuk mengantar ke alamat yang dicari karena pria itu baru pertama kali menginjakkan kaki di ibukota ini. Persis seperti saat ini kamu menghentikan ku untuk meminta bantuan..." jelas Andi mulai mengingatkan Anita
"Kamu...ya aku ingat, itu kamu..." sahut Anita terbata saat mengingat kembali kejadian lebih dari enam tahun yang lalu itu
"Tapi, bagaimana kau tahu tentang aku...seingat ku tak pernah mengatakan apapun padamu." ucap Anita mencoba mencari tahu
"Saat itu kamu terburu-buru dan langsung pergi, aku mengambil motor di rumah teman ku itu dan mulai mengikuti mu." Andi mulai bercerita
"Aku berhenti di depan sebuah rumah yang sangat besar dengan dikelilingi tembok yang cukup tinggi dan pengawal di depannya, karena aku tahu kamu masuk ke sana...cukup lama namun aku tetap menunggu mu di sana, karena sejujurnya saat pertama kali melihat wajahmu hati ku telah terpikat oleh pesona cantik mu." cerita Andi dengan raut wajah serius
"Kamu..." Anita tak kuasa berkata apapun, ia mendengar dengan seksama namun hatinya merasa berdesir
"Sangat lama sampai akhirnya, suasana rumah itu jadi lebih ramai dengan tamu yang berdatangan. Aku berusaha menyusup ke dalam dan melihat mu menikah bersanding dengan seorang pria, ...ya aku begitu shock saat melihat wajah pria itu yang tak lain adalah Hendra. " Andi menghentikan ucapannya dan wajahnya bersemu merah tersirat sebuah amarah
__ADS_1