Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Dihukum?


__ADS_3

"Benarkah....?" tanya Anita spontan saat berbicara dengan Renata lewat ponsel


"Iya Anita, aku merasa sangat senang dan lega...kini aku dan mas Ardian udah baik kan, dan mbak Dewi juga sudah mengakui jika ia memang sengaja menjebak mas Ardian karena pernah merasa sakit hati. " jelas Renata senang


"Memang wanita itu sakit hati kenapa?" tanya Anita penasaran


"Mbak Dewi itu dulu teman kantor ku, bisa dibilang dulu dia yang mengenalkan ku pada mas Ardian. Ternyata saat itu dia jatuh cinta pada mas Ardian, namun mas Ardian malah lebih memilih ku yang baru dikenalnya. Saat itu dia merasa sangat kecewa dan hancur karena mas Ardian langsung memutuskan untuk menikahi ku." jelas Renata panjang lebar


"Ooo begitu, jadi cinta bertepuk sebelah tangan, kasih tak sampai atau apalah itu namanya." ucap Anita sambil tersenyum


"Terserah kamu menyebutnya apa, yang terpenting bagi ku sekarang keluarga ku sudah damai kembali, semoga saja tak ada lagi Dewi-Dewi yang lainnya. " ucap Renata penuh harap


"Terus gimana sama mas Ardian, apa dia bisa terima dan memaafkan mu begitu saja, secara dia pernah babak belur dihajar Hendra dan disekap pula." tanya Anita yang masih penasaran


"Iya mas Ardian bisa memaafkan aku tentang masalah itu, meski aku tetap dihukum nya." jawab Renata sambil tersenyum kecil mengingat terkaman beringas Ardian malam itu


"Dihukum?, maksudmu dihukum bagaimana?" tanya Anita tambah penasaran


"Iya, hukuman yang sangat hot...malam itu ia benar-benar tak mengampuni ku, tak sedetik pun ia melepaskan aku hingga aku terkulai lemas tak bertenaga lagi." jawab Renata terkekeh merasa geli harus bercerita pada Anita


"Ahh so sweet...aku jadi pengen..." sahut Anita mellow


"Pengen ya langsung minta dong, sama patung es mu itu." goda Renata tertawa kecil


"Ah kamu enteng ngomongnya, butuh perjuangan keras buat melelehkan si patung es, hehehe....kamu nggak cemburu kan?" goda balik Anita


Keduanya tampak semakin seru berbincang lewat ponsel, mereka berdua memang telah sangat dekat satu sama lain. Namun begitu saat digoda balik Anita, sejujurnya hati kecilnya berontak, andai saja tak pernah ada jurang pemisah di antara mereka hingga membuat ia berpisah dengannya, tentu kini dialah yang harus melelehkan patung es itu.

__ADS_1


"Hey, Renata kok diam ...aku cuma bercanda..." ucap Anita saat Renata tak menjawabnya


"Iya, aku tahu kamu cuma bercanda, tapi aku jadi tak enak hati padamu, tak seharusnya rumah tangga mu terus dibayangi oleh masa lalu kami." kata Renata mencoba bersikap tenang dan merasa sangat bersalah


"Sudahlah, jangan tak enak begitu. Aku percaya pada kalian berdua dan juga aku telah ikhlas menerima kenyataan ini. Ahh Rena, kau membuatku sangat merindukan patung es ku..." ucap Anita terbawa perasaan rindu pada suaminya


"Rindu,...memang baru berapa jam kalian tidak bertemu?" tanya Renata terkekeh geli


"Kamu tidak tahu sih, sudah seminggu ini dia pergi keluar kota. Harusnya hari ini atau lusa dia sudah kembali, tapi kenapa belum ada kabar...jujur aku masih trauma dengan kejadian di pulau X itu." ucap Anita merasa perasaan nya jadi tak enak


"Ohh pantas saja kamu rindu berat,...jangan negative thinking dulu, mungkin dia belum sempat saja menghubungi mu, atau mungkin mau bikin kejutan untukmu. Hilangkan perasaan trauma mu itu, selalu lah berfikir positif. " sahut Renata menenangkan hati Anita


"Iya, terima kasih Rena... kamu selalu memberi support untuk ku, aku harap kita akan selalu bersahabat baik. " ucap Anita merasa tenang


"Pasti Anita, ...Sudah dulu ya aku harus jemput anak-anak dari sekolah, ingat jangan mikir aneh-aneh." kata Renata mengakhiri percakapannya


"Iya..." singkat Anita menutup sambungan telepon nya


"Oke beres, ...." ucap Dokter Arya begitu selesai merawat dan mengobati luka tembak Hendra di lengan kirinya yang kini tampak digendongnya


"Makasih Arya, jangan pernah bosen merawat ku." sahut Hendra tersenyum kecil


"Tentu saja, aku ini kan sudah seperti dokter pribadi mu, entah sampai kapan tubuh mu itu sering tertembus peluru. " kata Arya membetulkan perban di lengan Hendra


"Sudah resiko pekerjaan, mungkin selamanya aku harus terus berhadapan dengan peluru dan juga kekerasan. " ucap Hendra menghela nafas panjang


" Iya mungkin, sepertinya si boss akan menunjuk mu untuk jadi penerusnya..." senyum Arya pada teman baiknya

__ADS_1


"Entahlah, biarkan saja semua mengalir apa adanya, aku tak terlalu berambisi." balas Hendra tersenyum juga


" Oke, urusan mu di sini sudah beres kan, kita bisa pulang bareng. Aku yakin Anita sudah sangat khawatir, apa kamu belum menghubunginya?" tanya Arya kemudian


"Iya, aku belum sempat menghubunginya beberapa hari ini, biarkan saja buat kejutan untuknya. Nanti sampai di rumah ia pasti akan sangat terkejut dengan kepulangan ku apalagi dengan kondisi begini." jawab Hendra sambil memandangi lengan kirinya yang terluka


"Pasti dia akan sangat terkejut, dan tentu saja akan menyalahkan aku karena tak memberi tahunya. Jangan kan Anita, Dina saja waktu aku pamit kemarin tampak sangat panik mendengar kamu tertembak. "ucap Arya jadi muram saat menyebut nama Dina


"Kok bisa, jadi Dina masih begitu mengkhawatirkan keadaan ku, gadis muda itu belum bisa move on dari aku." sahut Hendra tersenyum kecil


"Hahh, pede banget kamu....bisa nggak jaga perasaan teman kamu ini." umpat Arya kesal


"Iya-iya maaf, semangat dong....aku yakin kamu bisa membuatnya takluk. Memangnya kamu pernah menanyakan tentang perasaannya padamu." ucap Hendra menepuk pundak Arya


"Bukan pernah lagi tapi sering, dan dia selalu menghindar tak mau menjawabnya langsung." sungut Arya tak senang


"Sabar lah, biasa gadis muda seperti dia masih ingin terus dikejar dan diperjuangkan, jinak-jinak merpati..." ucap Hendra mencoba membesarkan hatinya


"Sebelum berangkat, aku sudah memberinya ultimatum....kalo dia tak juga menjawab maka aku pasrah dan mundur teratur, sabar ada batasnya bro..." balas Arya hendak bangkit dan mengakhiri percakapan mereka


"Hey jangan mudah menyerah begitu, dimana Arya yang keras kepala itu, jangan sampai kamu menyesal jika dia benar-benar pergi." Hendra menarik tangan Arya yang akan berlalu


"Sudahlah jangan dibahas lagi, ayo pulang biar nggak terlalu larut tiba di rumah mu nanti, mumpung aku mau jadi sopir mu." ajak Arya sambil melepaskan tangan Hendra darinya


"Iya, jangan jadi sensi begitu....aku doa kan gadis itu akan jadi jodoh mu, dan berjanjilah kau akan langsung menikahi nya." senyum Hendra berjalan mengikuti langkah Arya


"Hendra, aku bilang cukup....atau mau aku tinggal dan pulang sendiri sana." sahut Arya merasa sangat sebal

__ADS_1


"Iya maaf, oke kita pulang sekarang antarkan aku pada istri dan anak ku,..." kata Hendra memasuki mobil dan duduk di sebelah Arya yang menyetir


"Halahh, gaya mu....jangan sok manis, dasar pria dingin tetep aja dingin." gerutu Arya menatap wajah Hendra


__ADS_2