Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Pergi dari rumah


__ADS_3

Renata pulang ke rumah dengan perasaan hancur, air matanya berlinang tak terbendung lagi. Ia langsung masuk ke kamarnya dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang, bibi yang melihatnya tak berani bertanya. Bibi sangat heran dengan sikap Renata, tak biasanya majikannya itu bersikap demikian.


"Bi, apa mama sudah pulang...." tanya kakak yang pulang diantar gurunya


"Sudah , tapi kelihatannya sangat capek jadi biar istirahat di kamarnya dulu. Jangan diganggu, aden butuh apa biar bibi yang membantu. " ucap bibi menjelaskan


" Iya-iya bi, kakak ngerti kok...nggak usah kakak nggak butuh apa-apa. " sahut anak pertama Renata itu bergegas ke kamarnya


Hingga hari beranjak malam, namun Renata tak kunjung keluar dari kamarnya, jadilah bibi sendirian menyiapkan makan malam. Saat Ardian pulang dari kantor langsung menuju dapur, namun ia tak mendapati istrinya hanya bibi yang memasak sendiri.


"Lha kok masak sendirian bi, tumben....biasanya Renata bantu disini." ucap Ardian saat tak menjumpai istrinya


"Anu tuan,...nyonya, entah kenapa tadi sore pulang-pulang sambil nangis terus masuk ke kamar, hingga kini belum sekalipun keluar." Bibi menceritakan apa yang dia lihat tadi sore


Ardian yang mendengar cerita bibi kini jadi cemas, tanpa pikir panjang ia bergegas masuk ke kamarnya. Dan benar saja, saat membuka pintu kamar ia kaget mendapati Renata duduk bersandar di ranjang, matanya sembab karena banyak menangis, dan wajahnya terlihat kusut.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ardian hati-hati yang kemudian duduk di tepi ranjang menatap istrinya


Namun Renata hanya terdiam membisu, pandangannya kosong menatap ke depan. Ia nampak menahan amarah dan kecewa, bahkan saat Ardian mencoba memegang tangannya dengan kasar ia pun melepasnya.


"Sayang, ada apa...katakanlah, apa kau sedang marah, apa aku telah berbuat salah?" tanya Ardian pelan tampak ragu-ragu

__ADS_1


"Masih bisa kamu bertanya seperti itu, mas?" sahut Renata tanpa menatap suaminya


"Apa maksudmu, Rena...jelaskan." ucap Ardian masih tak mengerti


"Aku tak menyangka kamu tega mengkhianati ku, menyakiti hatiku hingga hancur berkeping-keping. Kenapa tak kau bunuh aku sekalian, aku tahu aku mungkin terlalu banyak membuat mu sakit hati, tapi apakah harus seperti ini kamu membalasku. Aku kira kamu benar-benar telah menerima ku tulus apa adanya, ternyata kamu munafik, mas." ucap Renata penuh emosi menahan agar air matanya tak lagi tumpah


"Rena, maksudmu...?" Ardian merasa salah tingkah hingga tak mampu berkata-kata


"Kenapa mas, kamu kaget karena aku mengetahui kelakuan mu di belakang ku, selama ini sikap kamu terasa aneh namun aku tetap berfikir positif, aku terlalu percaya padamu." ucap Renata yang masih emosi


"Sampai kapan kamu akan menyembunyikan nya dariku, apa kamu pernah berniat untuk jujur dan menceritakan semuanya pada ku. Atau kamu mau menunggu hingga perut mbak Dewi membesar?" lanjut tanya Renata membuat Ardian tersentak kaget


"Apa maksudmu, Rena....aku memang merasa bersalah padamu, tapi apa yang aku lakukan tidak sejauh itu. Aku tidak mungkin serendah itu, tolong percayalah padaku." jawab Ardian yang menyanggah tuduhan Renata


"Sayang, kamu mendengar dari pihak dia dan sekarang tolong dengarkan penjelasan dari aku." kata Ardian sambil menatap wajah Renata


Tanpa persetujuan dari Renata , Ardian mulai menceritakan kronologi kejadian saat itu. Kejadian itu terjadi saat Ardian sedang marah hebat dengan Renata yang ketahuan tengah berciuman mesra dengan Hendra. Adegan live yang membuat Ardian akhirnya mengusir Renata dari rumah, dan tinggal dirumah Ibu.


Ardian yang tengah hancur itu, ikut bersama teman-temannya ke sebuah bar untuk minum-minum. Dia yang tak terbiasa minum, langsung mabuk meski baru minum sedikit namun ia masih tersadar. Dan ia masih ingat betul kejadian saat Dewi yang juga ada di disana, membawanya pulang ke rumahnya, namun bukan hanya Ardian ada dua teman laki-laki lain yang ikut bersama mereka.


"Percayalah sayang, aku masih sadar waktu itu...aku ingat betul, kalo aku tak sampai melakukannya bersama Dewi. Ia memang terus menggodaku tapi aku tak meladeninya." ucap Ardian dengan wajah serius mencoba meyakinkan istrinya

__ADS_1


"Apapun yang kamu bilang, namun bukti foto-foto itu dan kehamilan mbak Dewi sekarang sangat bertentangan. Aku ingin percaya pada mu tapi kenyataan berkata lain, aku sangat kecewa padamu, mas." kata Renata yang telah sangat kecewa


"Rena, aku akan buktikan bahwa aku bukan ayah dari bayi yang di kandung Dewi, setelah bayi itu lahir aku akan melakukan tes DNA." ucap Ardian menatap wajah Renata dan memegang kedua bahunya


"Cukup mas, masih enam bulan lagi itu terjadi, namun mulai saat ini aku tak bisa lagi bersamamu. Aku akan pergi membawa anak-anak bersamaku, dan tolong jangan pernah temui aku lagi." ucap Renata membuat keputusan


"Rena, aku mohon beri aku kesempatan...aku akan buktikan padamu, tolong jangan pernah tinggalkan aku, aku mohon maafkan aku seperti halnya aku memaafkan mu." pinta Ardian namun malah membuat Renata kembali emosi


"Aku tahu pernah berbuat salah dan menyakiti hatimu, namun dari awal kita bertemu kamu sudah tahu segalanya. Dan kini kau menyamakan kesalahan ku dengan perbuatan bejatmu itu, tentu saja aku tak mau." ucap Renata marah bangkit hendak berdiri


"Rena, aku mencintaimu...aku sangat menyesal dengan semua ini, tolong maafkan aku." Ardian bersimpuh sambil memegang tangan Renata


"Maaf mas, aku tetap dengan keputusan ku, aku akan pergi..." ucap Renata melepas tangan Ardian dan hendak melangkah ke keluar kamar


"Tunggu, Rena...baiklah jika itu keputusan mu, tapi biar aku yang pergi dari rumah ini. Tetaplah tinggal disini bersama anak-anak, aku janji tak akan menemuimu lagi jika itu yang kau inginkan." ucap Ardian dengan berlinang air mata


Renata tetap terdiam tak memberi jawaban apapun, kemudian Ardian bangkit untuk mulai mengemasi pakaiannya. Renata hanya memandang apa yang tengah dilakukan suaminya itu, saat ini hatinya telah hancur atas semua kenyataan ini.


Renata tak menyangka jika saat ini Ia dan Ardian akhirnya akan berpisah, setelah selama ini berjuang bersama membangun sebuah rumah tangga bahagia, dan hancur seketika karena kehadiran orang ketiga meskipun Ardian tak mengakuinya.


"Selamat tinggal, sayang...maafkan aku telah mengecewakan mu. Jaga diri kamu dan anak-anak dengan baik. " ucap Ardian mengusap kepala Renata dan berlalu keluar membawa sebuah koper dan tas punggung

__ADS_1


Renata tak menjawab sepatah katapun, ia hanya memandang langkah kaki Ardian keluar dari kamarnya. Hari memang sudah larut, hingga anak-anak yang sudah tertidur tak mengetahui kepergian papanya.


__ADS_2