
Dokter Arya dan dokter senior yang tadi memeriksa Hendra telah tiba diruang ICU setelah menerima panggilan Renata. Mereka kemudian bergegas masuk dan segera memeriksa kembali kondisi Hendra yang kini terpejam lagi.
"Dokter, tadi ia sempat bangun dan membuka matanya, ia juga berbicara sangat lirih namun kembali terpejam lagi." cerita Renata pada kedua dokter
"Tenanglah Renata, kami akan memeriksanya dulu." ucap Arya
"Renata, ternyata benar dugaan kami, kehadiranmu telah memberinya semangat hidup. Namun kondisinya belum stabil meski detak jantungnya membaik, kemungkinan besar sebentar lagi ia akan bangun kembali. Baiklah kami permisi, teruslah menyemangati nya, jangan menyerah..." ucap Arya kemudian melangkah keluar ruangan bersama dokter senior meninggalkan Renata yang kembali terduduk disamping brankar
"Anita, Hendra sempat bangun tadi....berdoalah semoga ini menjadi awal yang baik untuk kesembuhannya. " kata Arya saat menemui Anita di luar ruang ICU
"Benarkah Arya,...kapan aku bisa menemuinya juga?" tanya Anita sangat tak sabar
"Bersabarlah, nanti jika ia benar-benar telah terbangun kembali dan sadar sepenuhnya dengan kondisi yang stabil, baru kalian bisa menemuinya. Sementara ini biarkan hanya Renata yang menemani nya di dalam sana." jelas Arya kemudian bergegas pergi
"Arya, apa si boss sudah kamu kabari tentang perkembangan ini?" tanya Andi sebelum Arya berlalu
"Belum Andi, nanti saja jika memang sudah cukup stabil baru kita kabari, lagipula aku tak mau jika si boss jadi kepikiran dan membuat kondisinya juga menurun." jawab Arya
"Baiklah Arya, bagaimana baiknya menurut kamu saja." sahut Andi pelan
Renata tertidur disebelah Hendra sambil tangannya masih terus menggenggam erat tangan Hendra, Renata memang sengaja ingin tetap menemani Hendra di dalam ruangan tersebut. Bahkan ia menolak saat Ardian mengajaknya untuk makan, hingga mereka bertiga saja yang pergi makan tanpa Renata.
"Rena..." lirih Hendra sambil menggerakkan jarinya membuat Renata terbangun dari tidurnya
"Hen, kamu sudah bangun...." sahut Renata pelan sambil mengusap wajah Hendra dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya tetap menggenggam erat tangan Hendra
__ADS_1
"Ren,..." Hendra menoleh ke samping menatap wajah Renata
"Iya, aku ada disini....bangunlah sayang. " ucap Renata dengan tatapan bahagia dan penuh cinta
"Kau memanggil ku sayang, Rena?" tanya Hendra yang masih nampak sangat pucat
"Iya, bangunlah...kalo kau mau mulai sekarang aku akan memanggil mu begitu." ucap Renata tersenyum bahagia
"Kenapa baru sekarang, saat waktuku sudah tak banyak lagi..." sahut Hendra terus menatap lekat wajah Renata
"Jangan bicara seperti itu, kamu masih punya banyak waktu untuk bersama ku..." kata Renata menyentuh bibir Hendra dengan jari telunjuknya
"Rena, apa kau mau terus menemani ku jika memang waktuku masih banyak?" tanya Hendra kemudian
"Hen, aku..." Renata tak sempat meneruskan ucapannya Renata saat Hendra kembali berucap
"Aku masih sangat mencintaimu dan akan selalu mencintai mu selamanya, meski nantinya aku sudah tiada, aku akan tetap menunggu mu di sana. " lanjut Hendra lirih
"Hendra, sejak dulu hingga detik ini perasaan ku padamu tak pernah berubah, mungkin di dunia ini kamu tak ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidupku." ucap Renata dengan suara lembut dan mulai berkaca-kaca
"Aku tahu, dan aku merasa lelah menanti mu di dunia ini....mungkin lebih baik aku menunggu mu di sana. " suara Hendra terdengar sangat lirih
"Jangan bicara begitu, dan jangan menjadi egois, Anita dan Junior selalu menunggu mu, mereka berdua sangat mencintaimu dan ingin selalu bersamamu." ucap Renata perlahan
"Biarlah Andi yang menjaga mereka, aku yakin dia begitu besar mencintai Anita, dia pasti bisa membuat Anita bahagia dan selalu tersenyum, tak seperti dengan ku yang hanya bisa menyakiti hatinya dan membuatnya menangis. Aku kini bisa tenang meninggalkannya...." ucap Hendra yang tampak telah pesimis
__ADS_1
"Hendra, berjanjilah untuk tetap berada di dunia ini, jangan terlalu cepat pergi, aku masih mau melihat wajah dingin mu..." lirih Renata mulai menitikkan air mata
"Jika aku masih hidup nanti, apa kau mau menjadi pendamping hidupku, kembali padaku melanjutkan cerita cinta kita kembali?" tanya Hendra mengulanginya lagi
"Hen, aku ingin tapi takdir telah berkata lain..." sahut Renata tak berani menatap mata Hendra
"Mungkin takdir memang tak pernah berpihak padaku,...apa kau pernah berfikir untuk melawan takdir demi aku, Ren?" tanya Hendra membuat Renata tak tahu harus menjawab apa
"Hen, mungkin raga ini tak pernah bisa kau miliki....namun hatiku, cintaku, jiwaku dan perasaan ku hanya milik mu, dan kau sangat tahu itu." ucap Renata memberanikan diri menatap lembut wajah Hendra
"Renata,.... pemilik hatiku, belahan jiwaku, cinta sejati ku, meski aku nanti sudah tak bernafas lagi namun cintaku akan selalu abadi, dan aku akan menanti mu meski di dunia yang telah berbeda." ucap pilu Hendra yang kini ikut menitikkan air mata
"Hen, aku mohon bertahanlah...bangun dan kembalilah semangat untuk tetap berada di dunia ini, aku....aku berjanji kali ini akan melawan takdir demi kamu seperti yang kau inginkan." ucap Renata mengusap lembut wajah Hendra
"Rena, aku senang mendengarnya namun sepertinya waktuku memang harus segera berakhir, aku bertahan hanya untuk menepati janji kita, aku mohon katakan juga pada Anita, aku minta maaf jika selama ini hanya bisa mengecewakan nya dan terima kasih karena telah mau menerima ku apa adanya, tolong juga jaga Junior untukku." ucap Hendra yang semakin lemah
"Tidak Hen, kau tak akan pergi kemana-mana....aku janji akan tetap berada disisi mu, kita akan melanjutkan perjalanan cinta kita bersama, aku mohon Hendra...bertahanlah demi aku, demi cinta kita, dan kisah kita yang akan kita jalin kembali." ucap Renata dengan suara bergetar menahan air matanya yang deras mengalir kemudian mencium lembut pipi Hendra
"Jangan menangis lagi Rena, saat aku pergi nanti hanya senyum yang ingin aku lihat di wajah mu. Cinta ku, maafkan aku yang tak pernah bisa memperjuangan cinta kita hingga akhirnya menyerah dengan perbedaan ini, meski hanya kamu lah satu-satunya cinta ku di dunia ini namun aku tak bisa mempertahankan mu..." tangan Hendra perlahan mengusap wajah Renata dan menghapus air mata di pipinya
"Hen, sekali lagi aku mohon bertahanlah dan kita akan mulai semuanya dari awal lagi, aku janji...." sahut Renata menggenggam lembut tangan Hendra yang berada di pipinya
"Dari awal kita bertemu, dan kemudian jatuh cinta pada pertemuan pertama, mulai memberi mu surat cinta dan kau memberiku hadiah pertama..." lirih Hendra sambil tersenyum mengingat perjalanan cinta mereka
"Iya, apa kau masih ingat saat mengambil hadiah pertama mu, ...." sahut Renata tersenyum juga
__ADS_1
"Selalu, aku selalu mengingatnya dan terasa seperti baru kemarin aku mendapatkan hadiah terindah dalam hidupku itu dari mu..." Hendra berkata lirih sambil mengusap lembut bibir Renata