
Deni memang termasuk orang yang supel, sangat mudah bergaul. Baru sebentar saja ia sudah bisa dekat dengan istri dan anak Hendra, bahkan juga dengan art nya. Keberadaan Deni di rumah itu membuat suasana jadi lebih rame, secara ia memang sedikit konyol dan suka jahil.
"Sejak awal apa sikapnya sudah begitu, kak?" tanya Deni pada Anita dengan sebutan kak, ia ingin lebih sopan pada istri sahabatnya itu
"Iya Den, dan aku maklum...ini sudah jauh lebih baik daripada awal menikah dulu." jawab Anita
"Kok bisa sih, menikah sama gunung es begitu?" ucap Deni kemudian
"Yang penting aku mencintainya, ceritanya panjang...." jawab Anita mulai bercerita
Anita bercerita panjang lebar pada Deni, sejak awal mengenalnya hingga akhirnya menikah dengan Hendra. Deni tampak tertegun penuh haru, ia begitu salut pada Anita yang ternyata begitu sabar menghadapi sikap Hendra.
"Sifat keras dan sadisnya ternyata bertambah setelah meninggalkan kotanya, mungkin karena faktor pekerjaan juga." ucap Deni setelah mendengarkan cerita Anita
"Apa memang sejak sekolah begitu?" tanya Anita ingin tahu
"Iya sejak sekolah memang dia di kenal berandalan, bisa dibilang bad boy...namun tak sedingin itu." jawab Deni
"Mungkin karena ia pernah kecewa ya." sahut Anita
" Kamu tahu kisahnya dulu?" tanya Deni selidik
"Dia hanya bilang bahwa hatinya sudah ada yang memiliki, tidak ada lagi celah untuk yang lain...Apa kau kenal Renata? ucapan Anita mengagetkan Deni
"Iya, bahkan sangat mengenalnya, kami bersahabat satu sekolah." jawab Deni dengan hati-hati
"Den, ceritakan padaku semua tentang mereka berdua." pinta Anita pelan
Deni mulai bercerita tentang hari-harinya dulu waktu masih sekolah, tentang kenakalan bersama Hendra, dan sampai akhirnya Hendra bertekuk lutut di depan Renata. Sejak awal mereka bertemu hingga akhirnya harus menjauh dan terpisah, semua diceritakan Deni dengan sangat jelas.
Tanpa sadar Anita yang mendengarnya telah menitikkan air mata, ia tak menyangka ternyata Hendra begitu dalam mencintai Renata hingga memendam sakitnya seorang diri. Entah mengapa setelah mendengar cerita Deni, ia merasa semakin mencintai Hendra dan akan berusaha untuk selalu memahaminya.
###
"Hen, jadi nggak ngajak aku jalan, dua hari di sini masak diem aja, bosen tau." rengek Deni saat makan malam
__ADS_1
"Sorry Den, aku ada kerjaan yang harus segera dibereskan,..." jawab Hendra singkat
"Anita, besok temani Deni jalan-jalan, ke buru balik dia." ucap Hendra datar pada Anita
"Eitss...nggak, mana mungkin aku jalan berdua sama istri kamu." sahut Deni cepat
"Siapa yang bilang berdua, ajak Junior sama bibi sekalian." lanjut Hendra
"Nggak,...harusnya kamu tuh yang ngajak anak sama istri mu, jalan-jalan atau piknik kemana kek biar tampak harmonis." ucap Deni kemudian
"Kalo nggak mau ya udah, nggak usah ikut campur urusanku, dasar banyak omong..." ucap Hendra dengan nada tinggi
"Kamu ini kenapa sih, Hen...dia pasti kecewa kalo tau sikap kamu begini." kata Deni pelan saat Anita telah meninggalkan meja makan
"Udah diem,...atau pulang sekarang sana." sahut Hendra mulai emosi
"Oke, aku pulang hari ini juga...harusnya kamu inget janji kamu sama dia, aku yakin dia akan benar-benar kecewa. Apalagi setelah tahu sikap kamu yang sangat keterlaluan selama ini pada Anita." Deni bangkit dan berkemas
"Apa yang kamu tahu tentang aku dan Anita?" tanya Hendra murka
"Ada apa ini, kamu mau kemana Den? katanya lusa baru pulang." tanya Anita melihat Deni menenteng tas
"Aku sudah muak, sangat kecewa pada sikap sahabatku ini, dasar tak punya hati." ucap Deni bergegas pergi
"Hen, hentikan Deni...susul dia, jangan biarkan dia pulang dalam keadaan emosi begitu." ucap Anita pelan sambil mengusap lengan Hendra yang mematung di tempatnya
"Apa yang telah kamu ceritakan pada Deni?" tanya Hendra tiba-tiba
"Maaf, kalo karena aku kalian jadi berselisih, aku benar-benar nggak bermaksud begini." jawab Anita sedih
"Dasar bodoh." bentak kasar Hendra sambil berlalu menyusul Deni
Setelah Hendra pergi , Anita berlari masuk ke kamar dan menghempaskan tubuhnya. Ia menangis merasakan sakit dan pedih di hatinya, selama ini ia berusaha tegar namun ternyata ada batasnya juga. Ia berniat untuk melepaskan Hendra jika mungkin itu membuat nya lebih baik.
Sementara Hendra tampak duduk di sebelah Deni yang sedang menunggu kereta di stasiun. Namun keduanya hanya terdiam dalam hiruk pikuk suasana stasiun yang lumayan ramai.
__ADS_1
"Den, aku mohon jangan ceritakan padanya tentang semua ini." ucap Hendra pelan
"Kamu sangat keterlaluan Hen, begitu teganya kamu pada wanita yang dengan tulus menerima dan mencintaimu selama ini." sahut Deni pelan
"Den, cintaku pada Renata memang telah membunuh jiwaku...Aku bagaikan mayat hidup tanpa hati dan perasaan." ucap lirih Hendra kemudian
"Aku tahu Hen, tapi demi kemanusiaan hargai dan anggaplah dia seperti seorang istri dan juga ibu sebagaimana layaknya. " Deni menatap dalam wajah Hendra
"Renata dulu juga sulit menerima kenyataan hidupnya, namun ia berusaha keras untuk bisa menghargai orang yang mencintainya setulus hati, dan tidak menyakiti juga mengecewakan nya. Aku yakin kamu juga bisa, seperti halnya Renata yang juga yakin bahwa kamu bisa menjadi pria yang baik untuk keluarga mu." lanjut Deni membuat Hendra menunduk merasakan desiran di hatinya
"Den, aku tahu telah begitu dalam menyakiti Anita...Aku merasa sangat bersalah padanya karena sedikitpun tak bisa mencintai nya. Aku..." Hendra tak melanjutkan ucapannya
"Hen, Anita itu wanita yang baik tak seharusnya menderita seperti ini, ia pantas mendapatkan perhatian dari mu. Jangan sampai kau menyesalinya, renungkanlah itu Hen." pesan Deni sebelum beranjak
"Aku pulang dulu, kereta nya sudah tiba. Jangan kecewakan kami, kamu pasti bisa." ucap Deni menepuk pundak Hendra dan memeluknya
"Sampai jumpa lagi..." Deni berjalan meninggalkan Hendra
Setelah Deni menghilang di dalam kereta, Hendra pun berjalan menuju mobilnya. Ia terduduk diam di balik kemudi, matanya basah merenungi apa yang diucapkan oleh Deni tadi. Wajah Anita dan Renata bergantian hadir di pelupuk matanya, suara Deni masih jelas terngiang di telinga.
"Bi, kok sepi...Junior dan Anita kemana?" tanya Hendra pada bibi saat tiba di rumah namun tak melihat Anita dan anaknya
"Bi, kok diam...?" Hendra menghempaskan diri di sofa dan menghela nafas panjang
"Anu tu..tuan, nyonya dan aden...." ucap bibi gemetar
"Bicara yang jelas, ada apa..." sahut Hendra pelan
"Nyonya membawa aden pergi dari rumah , tuan." ucap bibi kemudian
"Apa maksud ucapan mu, dan kemana mereka pergi." Hendra tersentak kaget mendengar ucapan bibi
"Tidak tahu tuan, tadi nyonya berkemas dan pergi dengan taxi, dan juga menitipkan ini untuk tuan." bibi menyerahkan secarik kertas pada Hendra
"Anita..." lirih Hendra saat akan membaca tulisan di secarik kertas itu
__ADS_1