Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Mengakui


__ADS_3

Hari sudah cukup malam ketika Ardian pulang, setelah mengetuk pintu tapi tak ada jawaban, ia langsung masuk karena ternyata pintu tak dikunci. Ardian tambah kaget begitu masuk ia melihat Renata tertidur di sofa ruang depan, masih dengan pakaian kerjanya.


Ardian mendekatinya, menatap wajah istrinya yang nampak sedikit pucat, setelah menempelkan tangannya di kening Renata ia kaget ternyata istrinya demam. Ardian mengangkat tubuh Renata dan membaringkan nya di ranjang, ia melakukannya dengan hati-hati agar Renata tak terbangun.


Setelah mengganti pakaian istrinya, kemudian ia sendiri membersihkan diri. Ia sangat cemas dengan keadaan istrinya, begitu selesai mandi ia kembali duduk di tepi ranjang dan mengecek lagi kondisi Renata. Panas tubuhnya makin tinggi, ia mengambil lap dan mengompres keningnya. Jika besok pagi panasnya belum turun ia akan membawanya ke dokter, pikir Ardian dalam hati.


Sudah larut malam tapi Ardian masih terjaga, dengan sabar ia menunggui istrinya dan sesekali mengganti kompres nya. Entah sampai jam berapa akhirnya ia terlelap juga di samping Renata.


Ardian terbangun dari tidurnya ketika alarm berbunyi, spontan ia langsung mengecek lagi kondisi Renata, ternyata panasnya tak juga turun. Ardian tampak panik, kemudian ia menghubungi mertuanya agar datang.


"Mas... " lirih Renata saat membuka matanya


"Sayang, kamu sakit... sebentar lagi aku akan membawamu ke dokter. " ucap Ardian yang tampak panik


"Aku nggak apa-apa mas, nggak usah ke dokter nanti juga baikan sendiri. " ucap lemah Renata


"Tapi sejak semalam panas kamu nggak turun, jadi lebih baik diperiksa. " Ardian mencoba membujuk Renata


"Panggil kan Ibu saja mas. " pinta Renata


"Iya sayang, aku sudah menghubungi Ibu mungkin sebentar lagi tiba. " Ardian menggenggam tangan istrinya


"Sayang, sebenarnya ada apa... kenapa kamu bisa sakit begini? apa kamu kelelahan, banyak kerjaan di kantor? " tanya Ardian yang tampak sangat khawatir


"Entahlah mas, aku nggak apa-apa kok... kalo kamu mau kerja berangkat saja, biar nanti aku sama Ibu. " ucap pelan Renata

__ADS_1


"Enggak sayang, aku akan menemani mu di sini, biarlah hari ini aku ijin dulu, meskipun berangkat kerja tetap saja aku nggak akan fokus karena mengkhawatirkan mu. " Ardian mengecup kening Renata


"Renata sakit apa, nak? " tanya Ibu yang telah masuk ke dalam kamar


"Badannya panas Bu, sejak semalam nggak turun-turun." Jelas Ardian kemudian ke dapur untuk mengganti air kompres an


Ibu mengecek kondisi Renata, beliau nampak cemas juga. Keringat dingin membasahi tubuh Renata, wajahnya semakin pucat, kemudian beliau menyuruh Ardian untuk segera memanggil dokter.


###


"Ibu,...kenapa Ibu melakukannya. " lirih Renata pada Ibu ketika Ardian sudah berangkat memanggil dokter


"Melakukan apa, Rena? " tanya Ibu yang tak tahu maksud Renata


"Ibu kan yang dengan sengaja menjauhkan Rena dari Hendra... kenapa Ibu jahat sama Rena? " Renata mulai terisak


"Tidak penting siapa yang mengatakan, dan yang jelas bukan Hendra. Hendra itu amanah Bu, mungkin sampai mati pun dia tak akan pernah cerita pada Rena. " nada bicara Renata meninggi


"Jadi ini yang membuat kamu jadi sakit,...iya Ibu mengakui memang Ibu pernah menemui Hendra tapi itu semua demi kebaikan mu. " ucap Ibu mengakuinya


"Baik buat Rena atau Ibu,... Rena benar-benar nggak menyangka Ibu tega melukai hati kami berdua. " mata Renata berkaca-kaca


"Rena, berulang kali Ibu menasehati mu tentang semua ini tapi ternyata tak juga membuatmu paham. Begitu besar kah cintamu padanya hingga akan menyakiti orang yang mencintaimu setulus hati dan menghancurkan hidupmu sendiri. " Ibu mencoba menasehati Renata lagi


"Ibu pernah bilang kan, simpanlah cintamu itu jauh di lubuk hatimu dan kunci rapat, jangan sampai masa lalu menghancurkan masa depanmu. Kamu boleh mengenangnya tapi jangan sampai kenangan itu menguasai hatimu dan malah menyakiti orang yang dengan tulus mencintaimu, menerimamu apa adanya. " lanjut Ibu

__ADS_1


"Apa Ibu tak pernah sedikitpun memikirkan perasaan Hendra, begitu bencikah Ibu padanya. Dia yang hatinya hancur, karena terpaksa membunuh perasaannya sendiri. Dia yang hampir saja mati karena tak sanggup hidup dengan rasa sakit yang sangat besar. Dia yang telah banyak berkorban demi Rena, dia yang berusaha keras untuk berubah demi Rena. " ucapan Renata terhenti sejenak


"Kini, dengan egois Rena harus meninggalkan nya sendiri merasakan sakit, pedih, kecewa, marah, dan hancur. Dengan susah payah ia bangkit dari keterpurukan hidupnya dan sekarang harus pergi jauh meninggalkan semuanya, seorang diri. " tangis Renata tak terbendung lagi


"Bu, jika waktu bisa diulang kembali, Renata ingin tetap berada di samping Hendra selamanya. Tak peduli betapa besar perbedaan kami, Renata akan tetap berjuang bersama Hendra sampai maut yang memisahkan." dada Renata semakin sesak karena tangisannya


"Maafkan Ibu, jika menurut mu Ibu yang salah. Sebagai orang tua Ibu hanya ingin melihatmu bahagia, tapi kalo ternyata Ibu salah, tolong maafkanlah. " Ibu mengusap lembut kepala Renata


"Ibu, semuanya sudah terlambat... Hendra kini telah jauh pergi, entah kemana tak ada yang tahu." lirih Renata


"Entah kapan Renata bisa bertemu lagi dengannya, atau mungkin sampai mati Renata tak akan pernah bisa bertemu dan meminta maaf kepada Hendra lagi. Mungkin rasa bersalah ini akan terus berada di hati Renata sampai mati. " lanjut lirih Renata


"Tenangkan hati mu, nak... jika memang Allah mengijinkan suatu saat kamu bisa bertemu dengan nya. " ucap Ibu sambil menggenggam tangan Renata


"Untuk saat ini jagalah baik-baik apa yang sudah Allah takdir kan untukmu, bukankah kamu tidak ingin melukai perasaan seseorang yang mencintaimu setulus hatinya. Ardian adalah suami yang baik, apa kamu tega membuatnya kecewa dan sakit hati. Cintanya pada mu sangat besar dan ia telah membuktikan kesetiaan nya meskipun tahu bagaimana perasaanmu padanya saat ini. " Ibu menghapus air mata Renata


Renata terdiam mendengarkan ucapan Ibu, dalam hatinya ia memang tak tega mengecewakan hati Ardian. Bagaimana pun juga suaminya telah memberikan pengertian yang besar untuk dirinya. Ardian tak pantas mendapatkan rasa kecewa dan sakit hati karena dia.


Biarlah cukup dia dan Hendra yang merasakan pedih dan sakitnya karena cinta, ia tak ingin lagi menyakiti hati orang lain. Apalagi orang sebaik Ardian, mungkin hanya dia lah satu-satunya pria yang bisa menerima nya setulus hati, yang sangat sabar mendampingi nya yang masih sering galau.


"Silahkan masuk, Dokter. " suara Ardian mengagetkan Renata


"Tolong periksa keadaan anak saya, Dok. " pinta Ibu kepada dokter


"Baiklah akan saya periksa dulu, tolong tunggu saja diluar untuk memberi ruang bagi pasien. " ucap dokter pada Ibu dan Ardian

__ADS_1


Ardian dan Ibu melangkah keluar kamar, mereka berdua menunggu dengan cemas. Sesekali Ardian mendekati pintu kamar, berharap istrinya akan baik-baik saja.


__ADS_2