
Waktu berlalu terasa begitu lambat bagi Renata, hampir tiap hari ia merasakan sesak di dadanya karena harus terus berpura-pura baik-baik saja didepan anaknya. Meski Ardian saat ini masih terus berusaha meyakinkan dirinya, namun bayangan mbak Dewi yang semakin membesar perutnya selalu membuatnya hancur.
"Halo, Rendy...apa ada berita baik?" sapa Ardian mengangkat telepon dari temannya
"Iya, aku membawa berita baik untukmu, aku sudah berhasil bertemu dengan salah satu laki-laki yang ikut bersama kalian malam itu. Setelah mengancamnya, aku berhasil membuat dia bicara, sebaiknya kita bertemu akan kuceritakan secara detail." ucap Rendy antusias
"Baiklah, siang ini aku tunggu di tempat biasa kita ketemu." sahut Ardian merasa sangat senang
"Oke, sampai ketemu nanti siang." ucap Rendy mengakhiri teleponnya
Siang itu Ardian langsung bergegas ke tempat yang sudah direncanakan, begitu sampai di sana Rendy ternyata sudah menunggu. Ardian kemudian duduk di sebelahnya dan tak sabar ingin segera mendengar berita baik dari temannya itu.
"Ayolah Rendy, cepat ceritakan padaku." ucap Ardian tak sabar
"Santai, bersabarlah...minum dulu, itu pesanan kamu datang." balas Rendy tersenyum melihat ekspresi tak sabar dari wajah Ardian
"Oke, sekarang mulailah bercerita." ucap Ardian selesai meneguk minuman pesenan nya
"Kemarin aku berhasil mencari tahu siapa dua pria yang bersama kalian malam itu, dan aku menemui salah satunya. Mulanya ia tak mau bicara dan terus tutup mulut, namun setelah sedikit mengancam ia pun mulai buka suara. Dia bercerita bahwa malam itu kamu memang tak sampai bercinta dengan Dewi, karena kamu terus menolaknya. Dan ternyata pria satunya lagi itu ternyata adalah kekasih Dewi, dan mereka sudah cukup lama berhubungan dekat dan juga sudah sering berhubungan badan termasuk juga malam itu." kata Rendy mulai menjelaskan
"Dasar wanita sia lan, aku tak menyangka dia selicik itu, dan begitu tega menjebak ku seperti ini. Ia tega menghancurkan hati Renata yang pada dasarnya adalah temannya sendiri." ucap Ardian penuh amarah
"Menurut pria itu, Dewi memang sengaja melakukannya karena dulu sebenarnya ia juga jatuh cinta padamu, tapi kamu malah lebih memilih Renata dan sama sekali yang peduli dengan perasaannya. Ia jadi sakit hati dan selama ini dipendamnya, sampai akhirnya ia mendapat kesempatan untuk menjalankan rencana jahatnya ini." kata Rendy kembali menjelaskan kepada Ardian
__ADS_1
"Renata harus tahu semua ini, kamu harus ikut denganku untuk menjelaskan padanya, kalo hanya aku sendiri tentu dia tak akan percaya." ujar Ardian tersenyum lega
"Jangan khawatir, tentu aku akan ikut menemuinya selain itu aku juga sudah merekam semua pengakuan pria itu, tinggal mencari Dewi dan jika kau ingin menuntutnya bisa dijadikan bukti." ucap Rendy ikut tersenyum melihat ekspresi wajah lega pada Ardian
"Kamu memang the best, sangat bisa diandalkan. Yang penting kita temui Renata dulu, setelah salah paham ini berakhir baru nanti aku pikirkan langkah selanjutnya untuk memberi pelajaran pada wanita licik itu." ucap Ardian menepuk pundak Rendy merasa bangga
" Oke, nanti malam aku akan datang ke rumah mu untuk bertemu dengan Renata." kata Rendy mengakhiri percakapan dan pamit duluan karena harus bertemu klien
"Aku tunggu, dan terima kasih banyak atas semua bantuan dan dukungan mu." balas Ardian yang terus tersenyum bahagia karena sebentar lagi salah paham antara dia dan Renata akan berakhir
###
"Hendra, cepat beres kan...aku tak mau ada lagi celah yang bisa dimanfaatkan untuk menghancurkan bisnis ku." ucap si boss yang sedang jelek mood nya
"Siap boss, malam ini juga saya akan berangkat ." sahut Hendra yang mengerti keadaan si boss
Tak lama kemudian saat Hendra hendak beranjak, Dokter Arya datang lengkap dengan tas perlengkapannya. Rupanya ia datang memang untuk memeriksa kondisi kesehatan si boss, akhir-akhir ini si boss kondisinya memang sedikit melemah.
"Hendra, kamu masih disini?" tanya Arya saat bertemu dengan Hendra
"Ini baru mau pulang, nanti malam harus segera berangkat luar kota, oh ya si boss menyuruhmu langsung ke kamarnya." jawab Hendra
"Oke,... kamu hati-hati lah aku dengar urusannya cukup rumit dan mereka juga lumayan tangguh." ucap Arya memberi support untuk teman baiknya itu
__ADS_1
"Tenang saja, ...gimana kisah cintamu dengan gadis muda itu, apa jangan-jangan kau sudah menerkamnya." tanya Hendra menepuk pundak Arya
"Enak saja kalo ngomong, emangnya aku singa main terkam aja....aku masih terus berusaha meluluhkan hatinya, rupanya pesona pria dingin seperti kamu masih melekat kuat di hatinya." jawab Arya menatap tajam ke arah Hendra
"Hem...baru tahu ya, tapi aku yakin ia pasti bisa bertekuk lutut padamu, jangan menyerah di kota ini kamu kan satu-satunya orang yang terdekat dengannya. " ucap Hendra memberi semangat
Dina memang memutuskan untuk tinggal dan bekerja di ibukota, sedang kedua orang tuanya telah kembali ke kota asalnya. Dina memutuskan untuk keluar dari paviliun rumah Hendra dan tinggal di rumah kontrakan kecil. Ia bekerja di bagian administrasi di klinik milik Dokter Arya.
"Thank u bro,... aku periksa kondisi si boss dulu." sahut Arya melangkah menuju kamar si boss
"Oke, aku juga mau pulang dulu dan bersiap." kata Hendra yang juga pergi meninggalkan rumah si boss
Hendra segera memacu mobilnya menuju ke rumah, hari masih sore hingga masih cukup waktu untuk bersiap dan bermain sejenak dengan anak lelaki nya. Sampai dirumah ia langsung membersihkan diri dan mulai berkemas, hingga membuat Anita heran.
"Dad, kamu mau kemana, kenapa berkemas dengan tas sebesar itu?" tanya Anita saat masuk ke kamarnya
"Malam ini aku harus berangkat ke luar kota, ada masalah yang harus segera di beres kan." jawab Hendra cepat
"Kenapa tak memintaku untuk membantumu berkemas, hingga kamu harus melakukannya sendiri." ucap Anita merasa tak enak karena tak membantu Hendra berkemas
"Nggak apa-apa mom, ... aku lihat kamu sedang menemani Junior asyik main, aku nggak mau dia jadi rewel." kata Hendra duduk di tepi ranjang setelah selesai berkemas
"Memangnya kamu pergi untuk berapa lama Dad, ...kenapa sebanyak itu ." tanya Anita yang heran dengan tas yang akan dibawa Hendra
__ADS_1
"Mungkin satu minggu, tapi tergantung urusannya nanti. Kali ini urusannya cukup rumit, mungkin akan butuh waktu dan lagi mereka ini lumayan tangguh dengan jam terbang tinggi, sangat profesional. " jelas Hendra yang membuat Anita tampak khawatir
"Aku jadi khawatir Dad,... hati-hati lah disana dan jaga diri baik-baik. Berjanjilah untuk segera pulang, aku tak ingin terjadi lagi seperti dulu, jujur aku sangat trauma." ucap pilu Anita memeluk erat tubuh suaminya itu