Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Undangan


__ADS_3

Setiba di rumah, Renata langsung masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Dihempaskan tubuhnya ke atas kasur, air matanya tumpah sangat deras. Ingin rasanya ia berteriak sekerasnya untuk melepaskan rasa sesak di dadanya. Ia sama sekali tak mempedulikan ketika Ibu mengetuk pintu kamar dan menanyakan keadaannya.


"Malam, Bu... "


"Malam nak, kebetulan sekali kamu datang. " kata Ibu ketika malamnya Ardian ke rumah


"Kebetulan?... maksud Ibu? " Ardian heran dengan perkataan Ibu


"Tadi Renata pulang telat, udah gelap baru sampe rumah. Begitu tiba langsung masuk kamar dan menguncinya. Ibu juga sekilas mendengar isak tangis, Ibu jadi khawatir. " jelas Ibu pada Ardian


Ardian dan Ibu kemudian mencoba mengetuk pintu kamar, namun tetap tak ada jawaban.


"Mungkin Renata sudah tidur Bu, biarkan saja besok kita bisa bertanya padanya. " ucap Ardian pada Ibu


"Ardian pamit ya Bu, tadi cuma mau nganter undangan yang sudah siap di sebar. " pamit Ardian pada Ibu


"Iya, makasih ya nak. " jawab Ibu.


###


"Rena, bangun nak, kamu masih harus masuk kerja kan? " Ibu mengetuk pintu kamar Renata


Tidak ada jawaban dari dalam, Ibu mencoba membuka pintu ternyata tidak dikunci. Ibu duduk di tepi ranjang dan dengan hati-hati membangunkan Renata.


"Badan kamu sedikit demam, Ren. kalo sakit mending ijin aja. " kata Ibu mengecek tubuh Renata yang sudah terbangun.


"Nggak apa-apa Bu, Rena cuma sedikit meriang masih kuat buat kerja. " jawab Renata sambil bangkit menuju kamar mandi


Setelah selesai bersiap, terdengar suara mobil Ardian yang sudah datang menjemputnya. Rencananya sore nanti ia dan Ardian akan ke rumah Nia, untuk minta tolong buat nyebarin undangan ke teman-teman sekolah nya.


"Bu, Rena berangkat dulu ya. " pamit Renata


"Iya, Hati-hati ingat jaga kesehatan mu. "


Renata dan Ardian menuju ke mobil dan berangkat ke kantor bersama.

__ADS_1


"Sayang, kamu sakit ya kok kelihatan pucat gitu? " tanya Ardian dalam perjalanan


"Nggak apa-apa mas,... " jawab Renata pelan


"Ibu bilang kemarin kamu pulang telat, trus ngunci diri di kamar, emang ada masalah apa? " tanya Ardian sambil memegang tangan Renata


"Nggak ada mas, Rena baik-baik aja kok. " jawab Renata datar


"Beneran nggak ada masalah, aku ingin kita saling terbuka sayang... kalo ada hal yang mengganggu pikiranmu katakan saja. " Ardian menepikan mobilnya dan menatap wajah Renata


"Iya mas, aku baik-baik saja, mas Ardian nggak usah khawatir. " Renata mencoba tersenyum kecil


Mereka melanjutkan perjalanan ke kantor. Sore harinya Renata dan Ardian pergi ke rumah Nia, setelah menyerahkan beberapa undangan untuk dibagi ke teman-teman nya mereka langsung pulang. Hari sudah cukup malam, dan Renata kelihatan lelah dan sedikit pucat.


"Kamu kelihatan capek sayang,... kamu nggak apa-apa kan? " tanya Ardian saat tiba di depan rumah Renata


Renata terdiam, ia hanya menganggukkan kepalanya. Ardian memegang tangan Renata dan menatap wajah calon istrinya itu. Ardian mencium sekilas bibir Renata dan mengelus kepalanya.


"Istirahatlah sayang,... jangan sampai sakit ya. Aku langsung pulang aja. " pamit Ardian


Setelah Ardian pulang, Renata mandi dan langsung menghempaskan tubuhnya di kasur. Kepalanya sedikit pusing, ia mencoba memejamkan matanya namun bayangan wajah Hendra dan juga ucapan Ibu nya kemarin terus terngiang.


###


Namun Nia berhasil meyakinkan Renata untuk memberi undangan pada Hendra, entah mau datang atau tidak yang penting sudah mengundang dengan itikad baik, tanpa maksud untuk menyakiti hatinya.


Meskipun tidak bisa selesai hanya dalam satu hari, namun ia sempatkan untuk mengantar ke tempat Hendra di hari itu juga.


Sampai di rumah Hendra, Nia awalnya agak ragu juga tapi ia pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah. Ternyata di teras rumah ada Ibu Hendra yang sedang duduk sambil merajut.


"Selamat malam, Bu... " sapa Nia


"Selamat malam, mau cari siapa ya nak? " sahut Ibu ramah


"Saya teman sekolahnya Hendra, apa Hendra nya ada, Bu? " ucap Nia kemudian

__ADS_1


"Nia.... tumben. kok bisa nyampe sini? " belum sempat Ibu menjawab Hendra keluar dari dalam rumah


"Hen, kamu ngapain kok keluar, angin malam nggak baik buat kondisi kamu. " ingat Ibu pada Hendra


"Nggak apa-apa Bu, cuma sebentar... ini teman Hendra. " ucap Hendra yang mempersilahkan Nia duduk


"Hendra, kamu sakit? " tanya Nia setelah duduk dan heran dengan kondisi Hendra yang sedikit pucat


"Kemarin aku kecelakaan, tapi sekarang udah baikan kok, oh ya ada apa ini kok tumben kamu kesini." jawab Hendra sambil tersenyum


"Hen, apa Renata tahu keadaan mu ini? " tanya Nia pelan


"Entahlah Nia, beberapa hari yang lalu aku seperti mendengar suara Renata tapi itu nyata atau hanya mimpi aku juga nggak tahu. " jawab Hendra


"Aku kesini mau antar undangan dari Renata. " ucap Nia sambil menyodorkan sebuah undangan ke tangan Hendra


"Renata menikah.... minggu ini? " lirih Hendra sambil membuka undangan tersebut, raut wajahnya tampak berubah muram


"Iya Hen, maaf aku nggak tahu keadaan mu begini, aku jadi nggak enak. " Nia tampak sungkan


"Nggak apa-apa, Nia... " jawab Hendra pelan


Nia lantas pamit pulang, ia nggak enak lama- lama di sana. Setelah kepergian Nia, Hendra masih terdiam di tempatnya sambil memandangi undangan di tangan.


"Hendra, ayo masuk... jangan kelamaan diluar. " ucap Ibu, kemudian membantu Hendra berjalan masuk menuju kamarnya


"Itu undangan pernikahan Renata ya? " tanya Ibu begitu Hendra telah duduk di tepi ranjang


"Ibu kok tahu,... apa Ibu memang sudah tahu kalo Renata akan menikah. " tanya balik Hendra


"Ibu kan tadi mendengar percakapan kalian. " jawab Ibu yang telah duduk di sampingnya


"Bu, Renata akan menikah minggu ini. Hendra nggak menyangka kalo akan secepat ini. " ucap Hendra sambil menundukkan kepalanya


"Nak, sebaiknya kamu tidak usah menghadirinya, itu hanya akan membuat mu sakit hati lagi." kata Ibu sambil memegang wajah Hendra

__ADS_1


"Hendra tahu Bu, tapi Hendra ingin melihat senyum diwajahnya, dihari bahagianya. Meskipun hati ini sakit tapi jika Rena bahagia maka Hendra merasa tenang. " ucap Hendra sambil berkaca - kaca


"Sampai kapanpun Renata akan selalu ada di hati ini, Hendra akan selalu mencintainya seumur hidup, Renata adalah cinta sejati Hendra, belahan jiwa Hendra, tak akan ada yang bisa menggantikan cinta Hendra pada Renata. " lirih Hendra pilu


__ADS_2