Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Hadiah terindah


__ADS_3

Tiga hari dua malam Hendra dirawat di rumah sakit, akhirnya dia bisa kembali ke kamar yang di rindukannya. Walau tidak terlalu luas, tapi di kamar inilah setiap malamnya dia bisa memimpikan Renata, sang tuan putri tercinta.


"Ahh ...aku kangen sama kamu, Rena." bisik Hendra yang sedang melamun.


"Siapa Rena,..." tanya ibunya.


Hendra tidak tahu kalo ternyata ibunya sudah berdiri di sampingnya. Beliau menanyakan tentang Renata, Hendra jujur mengatakan bahwa dia sangat menyayangi Renata.


"Kamu tidak ingin mengenalkannya pada Ibu?" tanya ibunya


"Mau dong Bu, kapan-kapan ya." jawab Hendra riang, dia bahagia dan lega setelah menceritakan hubungannya dengan Renata.


Sementara itu di sekolah, Renata tampak tidak bersemangat ia merindukan sosok Hendra yang selalu ditemuinya di sekolah. Tiga hari di sekolah tanpa Hendra rasanya seperti se abad saja, ia benar-benar ingin segera bertemu Hendra.


"Hei,... melamun aja awas lho kesambet ntar."


"Ehh... kebetulan Den, kira-kira Hendra kapan masuk sekolah lagi?" tanya Renata.


"Kenapa udah kangen berat ya, besok kalo nggak ya lusa paling udah masuk."


"Kondisinya gimana, udah bener-bener sehat kan?"


"Kelihatannya sih sudah, kamu dengar sendiri kan dokter bilang kalo imun tubuhnya kuat."


"Syukurlah kalau begitu." ucap Renata merasa lega.


"Ren, kamu nggak mau jenguk dia di rumah?"


"Pengin sih sebenarnya, tapi nggak enak sama ortunya."


"Ngapain pakai nggak enak, ortunya asyik kok pokoknya santai aja."


"Beneran nggak apa-apa kalo aku ke sana?"


"Iya,..nanti pulang sekolah aku antar ke sana


" ucap Deni sambil berlalu kembali ke kelasnya.


Seperti janjinya tadi, Deni sudah menunggu di depan sekolah. Sebentar kemudian tampak Renata datang menghampiri, kemudian mereka pun berangkat ke rumah Hendra.


Jarak rumah Hendra tidak terlalu jauh, kira-kira sepuluh menit berkendara akhirnya mereka sampai di rumah Hendra.


"Sorry Ren, aku ada urusan...kamu masuk sendiri nggak apa-apa kan?"


"Masak sendirian, nggak enaklah, Den..."


"Nggak apa-apa, santai saja... nanti pulangnya aku antar setelah urusan ku selesai." ucap Deni sambil menyalakan motornya, dan berlalu pergi.


Renata sebenarnya agak canggung, tapi mau gimana lagi udah sampai di depan rumah masak nggak jadi masuk. Belum sempat mengetuk pintu, seseorang keluar dari ruang depan.


"Lho ada tamu rupanya, mau cari siapa ya?" tanya seorang paruh baya yang kemungkinan Ibunya Hendra.


"Maaf Ibu, apa saya bisa bertemu Hendra?" ucap Renata dengan sopan.


"Ooo, mau ketemu Hendra... jangan-jangan ini yang namanya Renata."

__ADS_1


"Iya Bu, maaf kok Ibu bisa tahu saya?"


"Ya tahulah, Hendra kan sudah cerita. Kenalkan saya Ibunya Hendra."


"Oh iya Bu, saya Renata." ucap Renata tersenyum sambil menjabat tangan ibu Hendra.


"Ayo silahkan masuk, langsung saja Hendra ada di kamar itu." ucap Ibu sambil menunjuk ruangan dengan pintu terbuka di sebelah kanan.


"Iya, terima kasih Ibu ."


Renata berjalan menuju ruang yang ditunjukkan oleh Ibunya Hendra. Renata tersenyum melihat Hendra tengah duduk bersandar sambil bermain gitar.


Untuk sejenak Renata hanya memandangi Hendra dari luar kamar, ia ingin melihat Hendra menyelesaikan permainan gitarnya.


"Tidak ku sangka jago juga main gitarnya." ucap Renata sambil menghampiri Hendra.


"Renata...kamu kok ada disini?" kaget Hendra melihat Renata tiba-tiba ada di hadapannya.


"Aku tadi dengar kamu panggil namaku, makanya aku datang." goda Renata sambil duduk di sebelah Hendra.


"Waduh ngeri dong... dipanggil langsung dateng..." balas Hendra.


"Bisa aja kamu,... gimana keadaan kamu,Hen?"


"Sangat baik apalagi saat ini ada kamu disini."


"Syukurlah, berarti besok sudah masuk sekolah lagi."


"Kenapa, kangen ya ..."


"Renata, tuan putri ku tercinta...aku kangen banget sama kamu."


"Mulai lagi deh gombalnya..."


"Ren, kebetulan kamu kesini, kemarin Ibu bilang pengin kenalan sama kamu. Tadi udah ketemu sama Ibu kan?"


"Iya sudah, Ibu kamu baik ya."


"Pastilah, beliau itu calon mertua idaman jadi cocok sama kamu yang calon menantu idaman."


"Halahhh... bisa aja kamu." cubit Renata.


"Aduh sakit Ren, jangan dicubit tapi dicium dong." goda Hendra sambil mendekatkan wajahnya.


Bahkan sangat dekat dengan wajah Renata, mereka saling menatap, kedua bibir mereka sudah menempel dan hampir saja....Tapi panggilan ibunya dari arah ruang makan mengagetkan mereka. Mereka hanya saling tersenyum sambil berjalan menuju ruang makan.


Renata sangat senang ternyata Ibu Hendra bisa menerimanya dengan baik. Sambil makan mereka bertiga sudah seperti satu keluarga, berbincang santai hingga membuat suasana menjadi hangat.


###


Tidak terasa sudah hampir seminggu Hendra kembali masuk sekolah. Dia cukup banyak ketinggalan pelajaran, guru menyarankan kepada Hendra untuk mengikuti jam pelajaran tambahan. Maklumlah ujian nasional sebentar lagi akan di laksanakan.


"Kapan mulai ikut jam tambahan?" tanya Renata kepada Hendra saat mereka bertemu di kantin.


"Minggu depan, Ren." jawab Hendra sambil menyeruput es teh manisnya.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu,...ingat jangan sampai bolos."


"Berat juga sih, coba aja masak dalam seminggu empat hari harus pulang sore terus."


"Ya nggak apa-apa lah, sebentar lagi kan ujian."


"Semoga saja aku bisa mengejar ketinggalan ku..."


"Semangat Hendra, aku akan selalu mendukungmu...Oke." ucap Renata tegas.


"Oke.... Senin sampai Kamis jam tambahan, Jumat Sabtu pacaran." balas Hendra sambil tersenyum dan melirik Renata.


"Bisa aja kamu...."


"Iyalah,....oke ya udah deal lho."


Bel berbunyi, mereka berdua kembali ke kelasnya masing-masing. Suasana belajar saat ini terlihat lebih serius, siswa setiap kelas tampak mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh, maklumlah sebentar lagi akan ujian nasional.


Jam pelajaran terakhir telah usai, Renata membereskan tasnya sementara temannya yang lain sudah pulang. Belum selesai membereskan tasnya ia terkejut melihat Hendra memasuki ruang kelasnya.


"Hendra, tumben kesini ?" tanya Renata heran.


"Emangnya nggak boleh?"


"Ya bolehlah, tapi biasanya kan nunggu di tempat biasa."


"Bentar ya, sedikit lagi beres kok"


Renata lanjut membereskan tasnya, tidak terlalu lama akhirnya selesai. Ia lantas bangkit dari duduknya.


"Ok, selesai...ayo pull..lang, " ucapan Renata terpotong saat tanpa diduga Hendra menarik tangannya.


Kini tubuhnya berdiri berhadapan dengan Hendra, sangat dekat sampai dengan jelas ia bisa menatap matanya.


"Mau kemana, Rena ...?" bisik Hendra pelan.


"Pulang..." jawab Renata berdebar-debar.


"Tapi aku kesini untuk mengambil hadiahku."


Belum sempat Renata mengucapkan kata, tangan Hendra sudah memeluk pinggangnya. Tiba-tiba ia merasakan bibir hangat Hendra sudah menyentuh bibir lembutnya, nafas mereka tampak memburu jantung berdegup kencang.


Untuk beberapa lama mereka menikmati sensasi luar biasa yang baru pertama mereka rasakan. Hendra mulai ******* bibir lembut Renata, menjelajahi setiap sudut mulutnya hingga membuat Renata memejamkan matanya, ia pun tak mau kalah mengimbangi permainan lidah Hendra. Semakin agresif, keduanya seakan tak ingin melepaskannya.


"Terimakasih atas hadiah terindahnya." bisik Hendra di telinga Renata.


"Sama-sama..." suara Renata terdengar bergetar.


Hendra belum mau melepaskan pelukannya, tangannya masih melingkar kuat di pinggang Renata. Dipandanginya wajah Renata, detak jantungnya masih berdegup kencang.


"I love u, Rena ..."


"Love u too...."


Ruang kelas seakan menjadi saksi bisu kemesraan mereka, dan sekali lagi Hendra ******* habis bibir lembut Renata.

__ADS_1


__ADS_2