Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Menikah


__ADS_3

Waktu terus berjalan, kini Renata sudah mengambil cuti dan menghitung hari hingga sampai di hari pernikahannya. Semakin ke sini entah mengapa hati Renata menghadapi keraguan lagi, perasaan bersalah pada Hendra kembali menghampiri. Haruskah ia menemuinya langsung untuk memantapkan hatinya.


Namun ia merasa takut bila bertemu lagi dengan Hendra, malah mempengaruhi perasaan dan berubah pikiran. Ia tak mau menyakiti hati Ardian yang sudah mencintai nya tulus apa adanya, meski tahu bahwa dirinya belum mampu melupakan masa lalu.


Hari berlalu terasa sangat cepat, besok pagi Renata dan Ardian akan melangsungkan prosesi ijab qabul yang dilanjutkan dengan resepsi. Persiapan telah selesai seluruhnya, hanya tinggal menghitung jam untuk sampai di hari H.


"Rena, perias sudah menunggumu, nak. " kata Ibu pada Renata selesai subuh.


"Pagi sekali Bu... baiklah sebentar lagi Renata kesana. " ucap Renata yang masih di kamarnya


Cukup memakan waktu lama untuk merias pengantin ini, Renata hanya banyak terdiam saat dua orang wanita dengan telaten mendandani nya.


"Ahh... pengantin nya pendiam ya" ucap salah satu wanita tersebut


"Iya, biarpun pendiam tapi cantiknya kayak putri." Sahut wanita yang lainnya


Renata hanya tersenyum kecil ketika mereka berdua bicara maupun menyanjung nya. Perasaannya tak karuan, jantungnya berdebar-debar namun pikirannya terbang entah kemana. Ia terus berdoa agar semuanya berjalan lancar, dan dirinya bisa tenang dan legowo menerima takdirnya ini.


Sesuai dengan jam yang ditentukan, semua telah berkumpul mulai penghulu, saksi saksi tamu undangan dan juga pastinya sang pengantin pria. Ardian terlihat tampan dan gagah dengan setelan tuxedo warna abu silver.


Yang ditunggu akhirnya tiba, tampak pengantin wanita berjalan bersama pengiring menuju tempat acara. Renata tampak cantik dan anggun,dengan baju kebaya berwarna senada dengan tuxedo yang dikenakan Ardian, hampir semua orang pangling melihatnya. Namun sang pengantin wanita ini berjalan sambil sedikit menundukkan kepalanya, tanpa terhias senyum di wajahnya.


"Tersenyum lah walaupun cuma sedikit, sayang... " ucap pelan Ardian saat mereka telah duduk berdampingan

__ADS_1


"Iya mas... " jawab Renata pelan


Acara dimulai , kedua pengantin tampak tegang. Ardian merasa deg deg-an ketika akan mengucapkan ijab qabul.


"Sah.... "


"Sah... "


Suara sah bersahutan dari para saksi dan tamu undangan, kini Renata dan Ardian telah menikah keduanya telah sah sebagai suami istri. Ardian mencium kening istrinya, Renata membalas dengan mencium tangan suaminya itu. Senyum tampak menghiasi wajah mereka yang sedang bahagia. Renata merasa sangat lega, akhirnya ia bisa melalui prosesi ini dengan lancar.


Namun tanpa sepengetahuan Renata yang sedang tersenyum lega, sepasang mata yang basah memandang nya dari kejauhan. Hendra menyandarkan tubuhnya, ia tak kuasa berdiri tegak, tubuhnya serasa lemas tak bertenaga. Ia sengaja berada di kejauhan, ia tak sanggup untuk menghadiri pernikahan itu dari dekat.


Perasaan Hendra saat ini benar-benar kacau, hatinya serasa remuk melihat orang yang dicintainya bersanding dengan pria lain. Namun dia berusaha tabah, bagaimanapun takdir nya yang penting Renata bahagia.


"Hen, kamu nggak apa-apa nak? " tanya Ibu khawatir saat Hendra tiba di rumah


"Hendra baik-baik saja Bu, Hendra telah ikhlas menerima kenyataan ini, yang penting Renata bahagia. " ucap Hendra sambil merebahkan tubuhnya di sofa


"Ibu lega mendengarnya, rencana Tuhan pasti untuk kebaikan kalian berdua. " ucap Ibu mengelus kepalanya


"Bu, setelah ini Hendra ingin pergi dari sini, Hendra akan bekerja keluar kota. " kata Hendra pada Ibunya


"Apa maksud mu nak, apa kau tega meninggalkan Ibu dan keluarga mu, pikirkanlah baik-baik. " Ibu merasa sedih dengan keputusan Hendra

__ADS_1


"Bu, Hendra nggak bisa terus disini, Hendra nggak sanggup kalo suatu saat bertemu dengan Renata walaupun tanpa sengaja. Itu akan semakin sulit buat Hendra, yang sadar bahwa sampai kapanpun Hendra tidak akan bisa melupakan Renata. Selama Hendra masih bernafas maka selama itu pula cinta Hendra untuk Renata akan selalu ada di hati." terang Hendra pada Ibu


"Kalo memang menurut mu itu keputusan yang terbaik, terserah padamu nak,... doa Ibu akan selalu menyertai mu. " lirih Ibu yang memeluknya penuh cinta


###


Semantara itu resepsi pernikahan Renata berjalan lancar, senyum senantiasa menghias di wajah keluarga dan tamu undangan. Ardian tampak sangat bahagia senyum tak pernah lepas dari bibirnya, demikian juga dengan Renata meski tampak sedikit memaksakan senyuman.


Acara selesai saat hari mulai sore, setelah berjam-jam penuh kemeriahan, khidmat dan bertabur senyum kebahagiaan, akhirnya tamu satu persatu meninggalkan tempat acara.


Renata tampak duduk lesu sambil menundukkan kepalanya, ia kelelahan wajahnya sedikit pucat .


"Sayang, kamu baik-baik saja? " tanya Ardian


"Iya mas, aku cuma capek... " jawab Renata pelan


"Aku mengerti kalo kamu kelelahan tapi sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu? " ucap Ardian sambil memegang tangan Renata


"Enggak mas, mas Ardian nggak usah khawatir, aku baik-baik saja. " elak Renata


"Mungkin kamu nggak mau mengakuinya, tapi dari tadi aku melihat raut muka tak nyaman di balik senyuman mu yang seperti di paksakan. " kata Ardian yang mencoba mencari tahu perasaan Renata saat ini.


"Mas, percayalah padaku, aku ikhlas menerima semua takdir ini. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik, yang menerimamu apa adanya. " Renata mencoba meyakinkan Ardian

__ADS_1


"Baiklah sayang, aku percaya kamu pasti bisa menjadi pendamping yang terbaik untukku. Dan aku mohon jika ada hal yang menganggu hatimu, bicaralah padaku." ucap Ardian dengan sabar sambil mencium kening istrinya


__ADS_2