
Ternyata Ardian tak main-main, pernikahan mereka benar-benar dipercepat tepatnya dua minggu lagi. Kedua belah keluarga sibuk mempersiapkan acara pernikahan mereka. Namun kedua calon pengantin masih tetap sibuk dengan rutinitas kerja nya tiap hari.
"Kapan kalian akan mulai cuti? " tanya Ibu Renata
"Rena udah ngajuin cuti nanti mulai H-3, mas Ardian juga sama. " jawab Renata
"Kok mepet banget, ingat banyak yang harus disiapkan, pernikahan kalian ini kilat nggak bisa kalo cuma kami yang mengurusnya. " protes Ibu
"Harusnya seminggu sebelumnya kalian udah cuti. " lanjut Ibu
"Tidak apa-apa Bu, semua sudah Ardian dan Rena serahkan ke pihak WO, mereka yang akan mengurus semuanya. " Ardian coba menjelaskan.
"Ya sudah terserah kalian saja." ucap Ibu kemudian
Waktu terasa berlalu dengan cepat, seminggu lagi hari itu akan tiba. Sejujurnya Renata merasa tidak tenang, entah kenapa beberapa hari ini perasaannya nggak enak. Dan entah kenapa juga ia jadi teringat Hendra.
"Hendra kamu kenapa, apakah sesuatu terjadi padamu, apa kamu baik-baik saja. " pikir Renata dalam hati.
Seharian ini pikiran Renata selalu bersama Hendra, ia merasakan sesuatu sedang terjadi pada nya. Sore itu pulang dari kantor, kebetulan ia bawa motor sendiri, sengaja ia lewat memutar ke arah tempat tinggal Hendra.
Tepat di perempatan sebelum rumah Hendra, Renata bertemu Deni yang sedang nongkrong di sebuah warung kopi. Renata menghentikan motornya, saat Deni memanggilnya untuk mampir.
"Renata, gimana kabar kamu,... lama banget lho nggak ketemu kamu. " sapa Deni dengan gaya nya yang tak pernah berubah.
"Kabar ku baik, kamu sendiri gimana? " balas Renata sambil duduk di depan Deni.
"Waah... kalo aku always baik lah, happy forever... " jawab Deni sambil tertawa
"Dasar kamu ya, nggak berubah sedikitpun... apa mungkin lebih selengekan lagi, dasar preman kampung. " balas Renata
"Ehh, btw emang mau kemana sih... ke rumah Hendra? " tanya Deni kemudian
"Enggak juga sih, cuma pengin lewat aja. " elak Renata
__ADS_1
"Tak kira mau jengukin Hendra. " kata Deni enteng
"Apa,... memangnya kenapa dengan Hendra, apa dia sakit? " Renata tampak sangat terkejut.
"Lhah.. kamu ini gimana sih, kan dia habis kecelakaan... serius lagi. " kini gantian Deni yang kaget.
"Kecelakaan... aku nggak tau, ceritakan pada ku, Den. Aku benar-benar udah cukup lama lost contact ama dia. " Renata mulai khawatir.
"Oh.. jadi kalian udah beneran putus ya, sayang sekali... bukankah kalian saling mencintai, seharusnya kalian bersama-sama memperjuangkan cinta kalian, jangan malah menyerah begini. " ucap Deni kecewa
"Ceritanya panjang dan rumit, Den. Sekarang cerita kan padaku kejadiannya dan gimana keadaan dia sekarang. " Renata tak sabar lagi
"Seminggu yang lalu, entah kenapa setelah sekian lama Hendra ikut balapan lagi. Karena nggak fokus saat di tikungan terakhir sebelum finish, dia tak dapat mengendalikan motornya hingga terjadilah kecelakaan tunggal. Kecepatan yang cukup tinggi membuat lukanya sangat serius. " jelas Deni, sementara Renata mulai meneteskan air mata.
"Dia sempat tak sadarkan diri selama dua hari karena luka di kepalanya yang cukup serius, kondisinya belum pulih benar tapi dia minta pulang dan akhirnya kemarin lusa dia sudah pulang ke rumah. " lanjut Deni menjelaskan.
Renata mendengarkan penjelasan Deni dengan berurai air mata, dadanya terasa sesak, berulang kali ia menyebut nama Hendra. Ternyata inilah jawaban dari perasaannya yang nggak enak selama ini.
"Den, mungkin ini salahku... aku ingin sekali menemuinya sekarang, tapi apa dia mau bertemu dengan ku. " suara Renata serak karena tangisnya
"Cobalah Ren, aku nggak tahu gimana hubungan kalian saat ini, tapi apa salahnya mencoba. " saran Deni
Setelah terdiam beberapa saat, Renata bangkit dan berkendara menuju rumah Hendra. Saat tiba di depan rumah, Renata merasa ragu tapi hatinya ingin sekali bertemu dan melihat langsung kondisi Hendra saat ini.
Saat hendak mengetuk pintu, tiba-tiba Ibu Hendra sudah membuka pintu dan keluar ke teras. Sepertinya beliau tadi sudah melihat kedatangan Renata dari balik jendela.
"Renata,... " sapa Ibu datar
"Iya, Bu... apa kabar? " Renata menjabat tangan Ibu Hendra
"Duduklah disini, Rena. "
Mereka berdua duduk di teras depan, sepertinya Ibu sengaja tak membiarkan Renata masuk ataupun agar Hendra tak mendengar kedatangan Renata.
__ADS_1
"Bu, Rena ingin melihat keadaan Hendra. " ucap Renata pelan mengurai keheningan
"Ren, keadaan Hendra sudah cukup baik dan Ibu yakin dia akan segera pulih, tapi sebaiknya kamu nggak usah menemuinya. " ucap tenang Ibu
"Kenapa Bu,... kenapa Rena tak boleh menemuinya, Rena ingin melihat langsung kondisi Hendra, tolong ijinkan Rena Bu. " Renata memohon
"Rena, cukup lama Ibu berusaha menenangkan hati nya, kalo kini kamu menemuinya maka sia-sia perjuangan Hendra untuk bangkit dari keterpurukan nya. Kamu mungkin sudah tahu kenapa dia begini, Ibu tak menyalahkan siapa pun ini memang sudah jalan Tuhan untuk Hendra. " jelas Ibu berurai air mata, demikian juga dengan Renata yang mendengarkan
"Maafkan Renata Bu,... tapi Renata sama sekali tak menduga akan begini jadinya, ini semua memang salah Renata. Mungkin keputusan Renata ini salah hingga menyakiti perasaan orang yang sangat berharga di hati Renata. Ibu, sampai kapanpun Hendra tak akan pernah hilang dari hati Rena. " air mata Renata semakin deras mengalir.
"Ibu mengerti benar perasaan kalian berdua, dan Ibu juga mengerti keputusan mu saat ini, Ibu juga seorang wanita jadi tahu apa yang kamu rasakan sekarang ini. Ibu tak pernah menyalahkan mu, seperti tadi Ibu bilang ini semua sudah takdir tak ada yang salah. " nasehat Ibu dengan penuh kesabaran
"Renata, alangkah baiknya kalo mulai saat ini kalian tidak usah bertemu lagi, jalanilah takdir kalian masing-masing. Simpanlah kenangan kalian dalam hati, dan lanjutkan hidup dengan jalan yang berbeda sesuai yang telah digariskan Tuhan untuk kalian. " lanjut Ibu sambil menyeka air mata Renata dan Renata dengan ragu menganggukkan kepala.
"Tapi Bu, ijinkan Rena melihat wajah Hendra walaupun cuma dari jauh. " pinta Renata pilu
"Sebentar, Ibu lihat ke dalam dulu. " ucap Ibu kemudian melangkah ke dalam rumah
"Hendra sedang tidur, kamu bisa melihatnya... tapi ingat jangan sampai dia terbangun. " ucap Ibu sesaat kemudian
"Iya, terimakasih Bu. " ucap Renata berjalan menuju kamar Hendra
Renata berhenti di depan pintu kamar, ia melihat Hendra sedang tertidur. Renata tersenyum kecil, ia sangat bahagia melihat wajahnya lagi. Karena rasa kangennya yang lama tak melihat wajah ini, ia melangkahkan kaki mendekati ranjang.
Tanpa terasa air matanya menetes, ia sangat terharu saat melihat wajah di depannya, wajah yang selalu dirindukan nya, wajah yang membayangi nya setiap waktu dan wajah yang mungkin untuk seumur hidup akan selalu ada di dalam hatinya.
"Hendra, ...cinta pertama sekaligus cinta sejatiku, kamu pemilik hatiku, selama nafasku masih berhembus kamu akan selalu ada di hati ini. " lirih Renata dan tangannya mencoba memegang wajah Hendra
"Cukup, Rena... jangan sampai Hendra terbangun. " Ibu menarik tangan Renata dan mengajaknya keluar dari kamar Hendra
Renata langsung pamit pulang ia ingin segera sampai rumah dan menumpahkan sesak di dadanya. Ibu Hendra mengantarkan sampai depan rumah.
"Rena, kamu akan segera menikah kan?, selamat menempuh hidup baru, nak. Semoga kamu bahagia selalu. " ucap Ibu sebelum Renata menyalakan motornya, sambil mengusap air mata di pipi Renata. Dan Renata hanya sanggup menganggukkan kepalanya, tak kuasa lagi berkata.
__ADS_1