Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Kejutan


__ADS_3

Waktu seminggu berlalu begitu cepat, kini telah tiba waktu pelaksanaan acara. Deni cs telah sibuk dari kemarin, memastikan semua pendukung acara telah beres semua. Berharap acara akan berlangsung sukses tanpa ada kendala apapun.


Dan hari ini mereka harus datang lebih awal ke lokasi acara, dan standby di tempat masing-masing sesuai tugasnya. Setidaknya jam delapan pagi mereka harus siap di sana, karena sesuai undangan acara di mulai jam sepuluh nanti.


"Sayang, aku antar ya?" tanya Ardian saat melihat Renata sedang bersiap


"Nggak usah mas, bukankah kamu mau nemenin anak-anak main." jawab Renata tersenyum


"Lagian bentar lagi Nia juga ke sini, aku bareng Nia aja." lanjut Renata


"Ya sudah kalo begitu, kamu hati-hati ya." ucap Ardian lembut


"Iya, nggak usah khawatir. " jawab singkat Renata


"Enggak lah, yang buat aku khawatir kan nggak bakal dateng." senyum Ardian mengecup kening istrinya


"Sudah ya, jangan mulai lagi." ucap Renata hendak mencubit pinggang Ardian


"Eitss...Jangan mancing ya, entar nggak jadi berangkat baru tahu rasa." Ardian menangkap tangan Renata sambil tersenyum kecil


"Dasar genit...itu sepertinya Nia udah datang. " ucap Renata saat mendengar suara mobil berhenti


"Iya, on time juga dia ya." sahut Ardian mengantar istrinya keluar


"Mas aku berangkat ya." pamit Renata


"Iya, hati-hati." Ardian memeluk sejenak dan mengecup kening istrinya


"Haduhhh....udah kayak mau di tinggal kemana aja, lebay deh." sahut Nia dari dalam mobil


"Biarin, bilang aja pengin...Hati-hati ya Nia, titip jagain istriku baik-baik." ucap Ardian pada Nia


"Siap boss!" jawab Nia cepat


Karena jarak yang tak terlalu jauh, akhirnya mereka telah sampai di lokasi acara yaitu almamater tercinta. Di sana Deni dan yang lain sudah bersiap, menjalankan tugas seperti yang telah dibagi.

__ADS_1


Satu persatu undangan tiba, suasana jadi penuh senyum dan tawa. Saling bercanda melepas kangen pada teman yang nggak terasa sudah 15 tahun tak bertemu. Wajah-wajah yang berubah makin dewasa dan juga banyak yang makin makmur, tak menyurutkan semangat mereka untuk mengenang kembali masa-masa sekolah dan melepas kerinduan bersama teman-temannya.


Suasana acara yang begitu hangat, berisi canda dan tawa dari semua yang datang , diselingi suara merdu yang menyanyikan lagu-lagu request mereka. Kebanyakan yang mereka request memang lagu-lagu kenangan dulu waktu masih sekolah, ada yang riang namun banyak juga yang mellow.


"Ren, kamu nggak mau makan? udah siang ini, ntar telat makan maag kamu kumat, aku yang di damprat suami mu itu." ucap Nia saat melihat Renata hanya mengambil segelas jus buah


"Nggak, entar aja masih kenyang, minum jus sama cemilan udah bikin penuh ini perut." jawab Renata tersenyum


"Ehh...aku mau samperin Tia, biasa ngerumpi cantik...ikut nggak?" tanya Nia menunjuk ke arah Tia dan teman lainnya


"Nggak ah...aku mau duduk di sana aja." jawab Renata menoleh ke arah kelasnya dulu


"Halahh...bilang aja mau nostalgia mengenang dia kan?" senyum Nia menggoda


"Apaan sih, ..." balas singkat Renata berjalan ke tempat yang di toleh tadi


Renata berjalan ke arah kelasnya dulu, ia duduk di tangga depan kelas. Tempat dimana dulu untuk pertama kalinya ia melihat wajah Hendra. Ia duduk dan menatap ke depan ke arah lapangan basket, seperti deja vu ia merasakan bagaimana dulu untuk pertama kali melihatnya berjalan di tempat itu bersama geng nya.


Angan dan pikirannya flash back on ke masa itu, pertama melihat, saat dia mengajak berkenalan, mendapat surat cinta untuk pertama kalinya, hingga air matanya menetes saat mengingat kembali bagaimana ia juga harus melepasnya.


"Oke, selanjutnya sebuah lagu spesial buat Renata, tapi kok nggak ada nama yang request nya ya. Hah...gak papa mungkin setelah mendengar lagu ini Renata sudah tahu siapa yang khusus request untuknya. " suara pembawa acara


Tak berapa lama musik mulai mengalun diikuti suara merdu dari penyanyinya, dari intro nya Renata tahu lagu ini 'Kehilangan by Firman'


'ku coba ungkap tabir ini


'kisah antara kau dan aku


'terpisah kan oleh ruang dan waktu


'menyudutkan mu meninggalkan ku


Ditengah mendengar alunan lagu mellow ini, tiba-tiba Deni menghampiri Renata. Ia tampak tersenyum kecil saat melihat Renata begitu menghayati lagu yang di dengar nya.


"Rena, ada kejutan buat kamu...aku tunggu di sebelah kelas 1 A, oke...!" ucap Deni pada Renata

__ADS_1


"Kejutan apaan sih Den, aku kan nggak ulang tahun." jawab Renata cepat


"Udahlah...entar juga tahu sendiri, jangan kelamaan ke buru basi." sahut Deni sambil pergi meninggalkan Renata


###


Renata kemudian beranjak melangkah ke sebelah kelas 1A, sampai di pertengahan ia mendadak menghentikan langkahnya. Ia baru tersadar bahwa tempat yang di maksud Deni tadi adalah tempat dimana ia dulu biasa bertemu dengan Hendra.


Jantung Renata mulai berdegup kencang saat melanjutkan langkahnya, entah mengapa perasaannya jadi aneh. Saat hampir sampai, Renata terdiam memandangi tempat itu. Kembali ia merasakan deja vu melihat ia tengah duduk disebelah Hendra yang memeluk erat pinggangnya, sedangkan ia sendiri yang berurai air mata menyandarkan kepalanya di dada Hendra. Saat dengan berat hati harus menerima keputusan Hendra untuk menjaga jarak darinya.


Sambil terus melangkah dan kemudian duduk persis seperti yang ia bayangkan tadi, tanpa disadari air matanya kini telah meleleh membasahi kedua pipinya, pandangannya kosong menatap ke depan.


"Renata....apa kabar?" sebuah suara mengejutkan Renata


Saat ia menoleh ke kiri, betapa terkejutnya ia melihat Hendra telah duduk disebelah nya sambil tersenyum hangat. Ia menghapus air mata dan berusaha mengucek matanya, tak yakin dengan apa yang sedang dilihatnya.


"Hendra..." lirih Renata menatap tak berkedip karena tak percaya


"Apa kabar, Rena..." sapa lagi Hendra masih dengan senyumnya


"Apa ini nyata...atau aku sedang berkhayal saja..." ucap pelan Renata


Renata tambah terperanjat saat tiba-tiba tiba ia merasakan ada yang mengusap pucuk kepala nya dengan lembut, seperti kebiasaan Hendra dulu.


"Di tanya kok nggak jawab." ucap Hendra kemudian


"Ka..kabar..ku ba..baik, " jawab Renata terbata dan matanya berkedip-kedip memastikan sedang tak bermimpi


Saat ini ia merasakan shock luar biasa, bukankah dia tak bisa datang lalu kenapa tiba-tiba sudah ada di sebelahnya. Jantungnya berdebar sangat kencang, hati nya berdesir merasakan suatu getaran aneh yang kini sedang ia rasakan.


"Kamu kenapa, Rena?" tanya Hendra menatap wajahnya


"Kamu benar Hendra?" tanya Renata memastikan


"Kalo bukan Hendra, trus menurutmu siapa?" jawab Hendra cepat namun kini dengan ekspresi dingin, tanpa sedikit pun senyum di wajahnya

__ADS_1


__ADS_2