Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Pertempuran


__ADS_3

Kini sepasang suami istri itu sedang menikmati aktifitas panasnya, pertempuran di atas ranjang yang cukup sengit. Ardian yang sudah cukup lama menahan hasratnya, seakan ingin melampiaskan nya saat ini juga. Dengan nafas memburu dan peluh yang mulai membasahi tubuh, Ardian melahap habis tiap lekuk tubuh istrinya hingga membuat Renata menggelin jang hebat.


"Pelan-pelan, mas." de sah manja Renata menerima setiap serangan kenikmatan dari Ardian


"Aku sudah nggak tahan, sayang..." sahut Ardian dengan suara berat dan nafas memburu


Ardian pun langsung menuju pada inti serangan, terdengar suara de sah an yang saling bersahutan. Terus menggempur inti Renata tanpa ampun lagi, saat itu entah untuk yang ke berapa kalinya, hingga keduanya terkapar tak berdaya kehabisan tenaga.


"Cukup mas, capek... " lirih Renata dengan nafas terengah-engah


"Tapi aku masih mau lagi, si meriam ingin balas dendam karena udah di anggurin lama." bisik Ardian di telinga Renata


"Ahh...mas, jangan...capek. " de sah Renata dengan kedua tangan menahan dada suaminya


"Kamu diam saja, biar aku yang bekerja..." senyum genit Ardian sembari mengarahkan lagi meriamnya


Meski merasa sangat lelah, Renata pun melayani lagi serangan kenikmatan dari Ardian. Walau tak se agresif tadi, namun kini malah semakin membuat hasrat kedua nya menggelora. Pelan dan lembut, slow motion tapi malah semakin nikmat.


Sampai saat pelepasan terakhir, mereka benar-benar terkulai lemas dan tertidur lelap. Entah jam berapa mereka mulai tertidur, sampai akhirnya terdengar alarm sudah berbunyi. Renata mendengarnya tapi tak di hiraukan nya, tubuhnya serasa lemas dan matanya masih terpejam menahan kantuk yang sangat.


"Sayang, masih capek?" tanya lembut Ardian yang sudah terbangun dan mengecup kening istrinya


"He em..." Renata hanya menggeliat pelan


"Ya sudah, tidurlah lagi...biar aku yang antar anak-anak ke sekolah sekalian berangkat ke kantor." ucap Ardian membelai rambut istrinya


Renata tiba-tiba saja membuka matanya, kata-kata Ardian membuatnya tersadar akan tugasnya. Meski bagaimana pun ia harus menjalankan tugasnya.


"Kenapa, kok malah bangun?" tanya Ardian kaget


"Aku harus siapkan sarapan dan mengantar anak-anak ke sekolah." jawab Renata sambil bangkit dan duduk diikuti Ardian


"Sudah nggak apa-apa, sarapan biar bibi yang siapin, dan anak-anak kan bisa bareng aku. Kamu juga baru sembuh, jangan dipaksakan nanti sakit lagi." ucap Ardian meyakinkan


"Ahh...Kamu ini egois, giliran gini nggak apa-apa, lhah tadi malam kamu menggempur ku habis-habisan." sahut Renata menatap tajam suaminya

__ADS_1


"Hehehe...balas dendam sayang." ucap Ardian nyengir mendapati tatapan tajam istrinya


"Udah sana mandi, aku siapin sarapan dulu." Renata bangkit dan mulai berjalan keluar


Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi Ardian menuju meja makan, disana anak-anak sudah menunggunya untuk sarapan. Nasi goreng kesukaannya sudah siap di meja, dan mereka pun mulai menyantapnya bersama.


"Akhirnya bisa makan nasi goreng bikinan mama lagi." ucap Ardian sambil menyendok makanannya


"Iya, kakak kangen masakan mama." seru kakak pada mama nya


"Makanan bikinan mama memang the best." sahut adek tak mau kalah


"Iya-iya, cepetan makan nya keburu siang, mama ganti baju dulu." ucap Renata hendak mengantar anak-anak ke sekolah


"Nggak usah sayang,....anak-anak bareng papa aja ya, baru nanti pulangnya mama yang jemput. Kasihan itu mama masih capek..." ucap Ardian menatap anaknya


"Iya, pa..." jawab kompak anak-anak


Akhirnya setelah sarapan, Ardian berangkat mengantar anak-anak ke sekolah dulu baru berangkat ke kantor. Meski harus sedikit memutar arah, yang penting istrinya bisa istirahat dulu, ia sadar Renata pasti sangat lelah bagaimana tidak baru pulang dari rumah sakit sudah harus bertempur hebat dengannya semalam.


Anita merasa sangat cemas, setelah hari ini ia di hubungi Hendra dan berkata bahwa tugasnya kali ini sangat berat. Dan untuk sementara ia tak bisa dulu menghubungi Anita, ia ingin fokus agar pekerjaannya cepat selesai.


"Hati-hati lah, Dad...jaga dirimu kami selalu menunggu mu pulang." ucap lembut Anita saat dihubungi Hendra


"Iya, aku pasti segera pulang." ucap Hendra mengakhiri percakapannya


Setelah percakapan di ponsel dengan Hendra terakhir kalinya, Anita tiap hari selalu merasa cemas, entah firasat apa yang sedang ia rasakan. Seminggu, dua minggu bahkan kini hampir satu bulan, Hendra belum menghubunginya lagi. Saat Anita menghubungi ponselnya pun tak aktif.


Karena merasa sangat khawatir, Anita menemui paman nya untuk mencari tahu. Mungkin paman tahu apa yang tengah terjadi, hingga dirinya kini lost contact dengan Hendra hampir sebulan lamanya.


"Selamat siang, paman." sapa Anita saat memasuki ruang kerja pamannya


"Anita...ayo kemari, duduklah!" sahut si boss yang juga adalah paman Anita


"Paman, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Anita membuka pembicaraan setelah duduk di depan si boss

__ADS_1


"Ada apa Anita, katakanlah." jawab si boss kini menatap Anita


"Apakah paman tahu keadaan Hendra saat ini, aku sudah hampir satu bulan ini lost contact dengannya. " ucap Anita dengan nada cemas


"Oh...Hendra, dia..." ucap si boss ragu dan kelihatan salah tingkah


"Ada apa paman, tolong katakan padaku apa yang terjadi sesungguhnya." tanya Anita melihat ada yang aneh dari sikap si boss


"Tugas Hendra kali ini memang cukup berat, ada pihak yang mengacaukan bisnis ku di sana." si boss mulai berbicara


"Dan dibilang mereka ini cukup tangguh, meski anak buah ku disana cukup banyak yang membantu Hendra, namun ia sedikit kewalahan." si boss berhenti dan raut mukanya berubah muram


"Lanjutkan paman, apa yang terjadi berikutnya. " sahut Anita yang semakin penasaran


"Saat itu sempat terjadi pertikaian yang cukup sengit, Hendra dan anak buahnya sempat tersudut. Terjadi baku tembak, baik dari pihak ku maupun lawan ada yang tumbang. Setelah keadaan terkendali, tak disangka Hendra mendapat tembakan dari belakang hingga tubuhnya jatuh ke sungai." si boss berhenti karena di potong Anita


"Apa...terus keadaan Hendra sekarang bagaimana?" tanya Anita yang mulai menangis dan tubuhnya serasa lemas tak bertenaga


"Anak buah ku sudah berusaha mencari di sungai tempat Hendra jatuh dan menyusurinya, namun nihil. Sampai saat ini lima hari telah berlalu dari waktu kejadian namun Hendra belum ditemukan." jelas si boss berusaha tenang


"Hendra..." Anita tak sanggup lagi, ia terkulai lemas tak sadarkan diri


"Anita...., pengawal!!" si boss mulai cemas karena Anita pingsan


"Bawa Anita ke kamar itu dan panggil dokter." perintah si boss pada anak buahnya


Setelah memindahkan Anita ke kamar, pengawal itu langsung bergegas memanggil dokter. Si boss tampak sangat khawatir dengan keadaan Anita, tak beberapa lama kemudian dokter datang dan mulai memeriksa kondisi Anita.


"Bagaimana keadaannya?" tanya si boss pada dokter


"Dia mengalami shock yang cukup berat, apa yang telah terjadi padanya?" dokter ganti bertanya


" Dia baru mendapati kabar bahwa suaminya tertembak dan hanyut ke sungai, hingga kini belum di temukan. " jelas singkat si boss


"Maksudmu Hendra?" sahut kaget dokter yang mengenal dekat dengan Hendra

__ADS_1


__ADS_2