
Ardian dan Renata berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ke ruang rawat Hendra. Ardian terus menggenggam erat tangan istrinya yang tampak sangat tegang dan gelisah. Saat sampai di ujung lorong mereka berdua telah bertemu dengan Andi yang memang sengaja menunggunya.
"Akhirnya kalian sampai juga. " singkat Andi yang sudah cukup lama menunggu
"Andi antarkan aku menemuinya segera." ucap Renata yang tampak sangat tidak sabar
"Iya, Rena...sabar. Dokter sedang mengevaluasi kondisi Hendra saat ini, kita duduk dulu disana bersama Anita juga." kata Andi lalu mengajak keduanya berjalan ke arah bangku panjang
"Renata..." sahut Anita terkejut saat melihat kedatangan Renata
"Anita..." Renata segera memeluk Anita erat, keduanya terisak bersama
"Rena, tolong bilang pada Hendra agar cepat bangun, katakan padanya aku dan Junior sedang menunggunya. " kata Anita berlinang air mata
"Tentu Anita, aku akan memaksanya bangun...." sahut Renata mengusap punggung Anita lembut
"Kalian berdua duduklah, semoga dokter keluar dengan kabar baik." ucap Andi menatap kedua wanita tersebut
Mereka berempat duduk dengan perasaan gelisah dan cemas menunggu dokter selesai memeriksa kondisi Hendra. Mereka melihat dokter Arya juga ikut berada di dalam ruang ICU tersebut, tak lama kemudian tampak dokter keluar dari ruangan.
"Arya, katakan bagaimana kondisinya?" Anita yang langsung menghampiri Arya dan dokter senior yang baru saja keluar dari ruangan tersebut
"Sabar Anita, tenanglah dan kuatkan hatimu..." sahut Arya
"Apa anda Renata?" tanya Arya kemudian saat melihat ke arah Renata
"Iya, saya Renata...bagaimana kondisi Hendra?" sahut Renata yang terus menggenggam tangan Ardian untuk menenangkan nya
"Bagaimana dok, apa kita ijinkan dia masuk ke dalam sekarang ?" tanya Arya pada seorang dokter senior di sampingnya, membuat keempat orang tersebut semakin cemas
__ADS_1
"Iya dokter Arya, saya rasa itulah yang terbaik saat ini...semoga pasien bisa merespon positif, seperti yang kamu lihat tadi detak jantungnya semakin stabil." jawab dokter senior tersebut
"Mungkin pasien tahu bahwa seseorang yang ditunggu nya sudah ada disini." sahut Arya melirik ke arah Renata
"Arya, katakan ada apa?" tanya Anita sangat gelisah
"Anita, sebaiknya biarkan Renata masuk untuk menemui Hendra, ia terus saja menyebut namanya. Mungkin kehadiran Renata memberi respon positif karena tadi detak jantungnya sudah sedikit stabil. " ucap Arya menatap Anita tenang
"Boleh aku ikut, Arya?" tanya Anita setelah melihat ke arah Renata sekilas
"Tunggulah di sini, hanya boleh satu orang yang masuk, nanti jika kondisinya mulai stabil kau bisa menemuinya juga." jelas Arya yang melihat wajah cemas Anita
"Silahkan Renata, perawat akan membantumu mengenakan pakaian steril..." ucap Arya pada Renata
Renata hanya mengangguk pelan namun jantungnya terasa berdetak sangat kencang, ia benar-benar merasa sangat khawatir. Ardian berusaha menenangkan dan menguatkan hatinya, ia mengusap lembut punggung Renata.
"Masuklah dan temui dia, sayang....katakan kita semua sedang menunggunya. " kata Ardian pelan
Hendra, pria dingin dan ganteng nya itu kini terbaring dengan mata terpejam, tubuhnya dipenuhi dengan selang yang menghubungkan ke berbagai alat medis yang ada di samping nya. Hatinya terasa teriris, pedih dan hancur akan kenyataan ini, ia pun dengan pelan melangkah menuju brankar tempat Hendra terbaring dan berdiri disebelah nya.
"Hen, bangunlah...aku sudah ada di samping mu kini." lirihnya sambil menyentuh lengan Hendra lembut
Renata merasa tubuhnya sangat lemas saat menatap wajah pria pemilik hatinya tersebut, terpejam pucat tak bergerak sedikitpun. Renata mengambil kursi dan duduk disamping brankar sambil menggenggam erat tangan Hendra, air matanya mengalir deras.
"Andi, aku juga ingin menemuinya..." ucap pelan Anita menatap wajah Andi
"Sabar lah dulu, semoga saja kondisinya membaik setelah bertemu dengan Renata. " kata Andi menenangkan hati Anita
"Aku takut, jika yang terjadi justru sebaliknya..." lirih Anita berurai air mata
__ADS_1
"Berpikirlah positif, optimis jika semua akan segera membaik...." sahut Andi menatap lembut ke dalam mata Anita
Andi, Anita dan juga Ardian menanti dan melihat dari luar melalui kaca bening yang ada diruangan tersebut. Mereka begitu terharu saat melihat Renata yang duduk di sebelah Hendra sambil menggenggam erat tangannya, namun Hendra masih saja terpejam tak bergerak sedikitpun.
"Hen, bukalah matamu...aku datang. Kenapa kau membiarkan aku di sini sendiri, bangunlah cintaku...temani aku disini." lirih Renata tak berhenti air matanya mengalir sambil mengusap wajah pucat yang ada di depannya
"Hen, apa kau tak rindu padaku....kenapa kau biarkan aku sendiri , bangun dan temani aku ngobrol." ucap pelan Renata menatap lembut wajah Hendra
Cukup lama Renata berusaha membangunkan Hendra, ia tak mau menyerah dan terus membisikkan kata-kata penuh cinta. Hingga kini ia merasa harus kuat, air matanya pun telah di hapusnya, kini ia berusaha tersenyum manis sambil terus membangunkan cintanya.
"Hen, apa kau tahu....sejak saat itu, saat pertama kali kita bertemu hingga detik ini saat aku berada disamping mu, perasaan ku masih sama, aku selalu sayang sama kamu..." ucap pelan dan lembut Renata sepenuh hati sambil tersenyum, dan tiba-tiba ia merasakan tangan Hendra yang di genggaman nya mulai bergerak pelan
"Hen, apa kamu sudah bangun...." lirih Renata senang dan mencoba memastikan dengan menatap wajah Hendra dan mengeratkan genggaman tangannya
Renata tersenyum bahagia saat ia merasakan genggaman tangannya direspon pelan oleh Hendra, tangan Hendra membalas genggaman tersebut meski dengan sangat lemah. Namun matanya masih terpejam dan terdengar sangat lirih ia menyebut nama Renata.
"Iya, sayang...aku ada disini. Bangunlah dan buka matamu, lihatlah aku ada disampingmu, Hen..." sahut pelan Renata merasa sangat bahagia luar biasa mendapati Hendra mulai bereaksi dan menyebut lirih namanya
"Rena..." lirih Hendra lagi dan kini mulai membuka perlahan matanya
"Iya, ini aku...aku datang untuk menemani mu..." sahut Renata tersenyum bahagia sambil terus menggenggam erat tangan Hendra
"Apa ini hanya halusinasi ku saja..." sangat lirih Hendra saat menoleh ke arah Renata dan menatap lembut wajahnya
"Tidak, Hen...aku benar-benar ada di sini, aku datang untuk menepati janjiku, namun aku tidak ingin ini untuk yang terakhir kalinya, aku ingin kamu bangun dan kembali sehat..." ucap Renata lembut menatap wajah Hendra
"Rena, aku mohon jangan pernah tinggalkan aku lagi...." sahut lirih Hendra namun kembali memejamkan matanya
Renata segera menekan tombol yang berada di samping brankar untuk memanggil dokter, saat melihat Hendra memejamkan mata lagi.
__ADS_1
"Kenapa kau tidur lagi, temani aku sayang....aku janji tak akan pernah lagi meninggalkan mu." ucap Renata mengusap lembut wajah Hendra