
Anita yang menunggu Hendra yang tak kunjung pulang akhirnya terlelap dalam tidurnya. Memang Hendra pulang hampir dini hari, ia pun langsung tidur dan tak mau membangunkan Anita. Saat pagi hari ketika Anita membuka matanya terlebih dahulu, ia menatap suaminya yang masih tertidur pulas, ia pun segera bangkit dan sengaja membiarkan suaminya yang tampak begitu lelah.
"Bi, sarapan Tuan biar aku bawa ke kamar saja." ucap Anita pada bibi
"Baik, nyonya...saya ambilkan nampan. " kata bibi sambil mengambil nampan dan menyerahkan pada Anita
"Apa Junior belum bangun, bi?" tanya Anita yang menyadari belum mendengar suara anaknya
"Belum nyonya, mungkin nanti agak siang karena semalam tidurnya lumayan larut." jawab bibi
"Baiklah, nanti kalo bangun tolong bibi bantu mandi dan terus sarapan." ucap Anita
"Baik nyonya, saya mengerti." sahut bibi yang tahu kalo setelah ini majikannya itu tak ingin di ganggu
Anita memang ingin bicara pada Hendra setelah dia bangun nanti, ia tak ingin membiarkan masalah ini menjadi berlarut-larut. Ia ingin semuanya selesai dengan jelas dan pasti, hingga tak merasa galau lagi.
"Pagi Dad,..." ucap Anita saat melihat Hendra membuka matanya
"Mom, sedang apa kamu disini?" tanya Hendra heran melihat Anita duduk di tepi ranjang menunggunya bangun dari tidur
"Menunggu mu dan membawakan sarapan untuk mu." jawab Anita tersenyum kecil
"Tumben, kan aku bisa nanti sarapan di meja makan, pakai diantar ke kamar segala..." ucap Hendra duduk bersandar di ranjang nya
"Semalam aku menanti mu hingga tertidur, emang kamu pulang jam berapa?" tanya Anita sambil menyodorkan secangkir teh hangat
"Hampir jam 2..." jawab Hendra singkat lalu menyeruput teh hangatnya
"Dad, kamu mau mandi atau sarapan dulu..." tanya Anita menatap wajah suaminya
__ADS_1
"Memangnya kenapa,..." sahut Hendra sembari meletakkan cangkir teh nya
"Aku ingin bicara padamu, sejak semalam aku menanti mu ingin bicara..." ucap Anita pelan namun terpotong karena melihat raut wajah suaminya berubah
"Dad, apa kamu tidak ingin membahasnya...kenapa raut wajah mu jadi berubah " lanjut Anita
"Hari ini aku , Arya dan si boss akan bertemu dengan Iwan dan pamannya, kami akan selesaikan dengan negoisasi baik-baik namun jika tak berhasil ya terpaksa dengan kekerasan. " ucap Hendra kemudian
"Jadi maksud mu sekarang kita tidak bisa bicara dulu..." sahut Anita sedikit kecewa
"Aku ingin semua urusan pekerjaan ini selesai." kata Hendra datar
"Lalu bagaimana dengan aku, apa urusan perasaan ku tidak penting bagimu?" tanya Anita menatap sendu wajah suaminya
"Mom, please..." singkat Hendra tampak menghindar dari tatapan Anita
"Lalu apa mau mu, kamu ingin aku melepasmu untuk Andi..." sahut Hendra ketus
"Hendra....Apa yang kau katakan, apa kau sadar ucapan mu telah melukai hatiku..." kata Anita yang wajahnya memerah menahan amarah
"Bukankah dia mencintaimu, dan dia itu pria yang sangat pandai memanjakan wanita, kau pasti bahagia bersamanya. " balas Hendra tersenyum kecut
"Teganya kau, ...aku sungguh tak menyangka kau berfikir seperti itu, kau kira aku wanita seperti apa, dengan mudahnya berpindah ke pria lain..." ucap Anita meneteskan air mata
"Kau sudah bertemu dan bicara dengannya, dan sepertinya kau juga begitu yakin kalo dia sungguh mencintai mu, sedang aku mungkin selamanya tak bisa memberikan cinta seperti yang dia lakukan." kata Hendra pelan tanpa menatap Anita
"Hen, tatap mataku....dan katakan jika kau tak pernah menganggap ku ada, jika pengorbanan dan pengertian ku selama tak ada artinya bagimu. " lirih Anita sambil meraih lengan Hendra
"Maaf Anita, aku hanya ingin kau merasakan bahagia yang sesungguhnya, aku ingin kau rasakan bagaimana rasanya sangat di cintai oleh seseorang dan aku yakin kamu akan mendapatkan itu dari Andi, dia pria yang baik dan aku tahu itu." kata Hendra pelan mencoba menatap Anita
__ADS_1
"Bukan itu yang ingin aku dengar..." sahut Anita semakin tumpah air matanya
"Aku tahu selama ini tak pernah bisa mengerti akan perasaan mu apalagi mencintai mu, aku hanya pria dingin yang selalu menyakiti hatimu, kini saatnya kamu mendapatkannya dari seseorang yang benar-benar mencintai mu." ucap Hendra kini menatap wajah Anita dalam dan menghapus air mata di pipi Anita
"Tapi aku sangat mencintai mu..." lirih Anita
"Mencintai tak harus memiliki, tapi hidup dengan orang yang sangat mencintaimu itu akan lebih membuatmu bahagia, dan kamu berhak untuk bahagia, Anita..." ucap Hendra mencoba meyakinkan istrinya
Meski sebenarnya dalam hati Hendra juga terasa berat jika harus berpisah dengan Anita, namun ia sadar bahwa selamanya ia tak akan bisa memberikan cinta seperti yang Andi berikan. Hati dan cintanya telah membeku untuk Renata sampai kapan pun, meski selama ini ia berusaha untuk bersikap manis pada Anita, namun itu hanya semu saja.
"Anita, kamu wanita yang sangat baik, kamu berhak mendapat cinta dan perhatian yang tulus dari pria yang memang sangat mencintaimu sepenuh hati, bukan pria dingin tanpa hati seperti aku." ucap Hendra menakup wajah Anita
"Begitu mudahnya kamu melepas ku begitu saja,..." lirih Anita terdengar begitu pilu
"Sejujurnya aku juga berat melepas mu, namun aku lebih tak ingin lagi membiarkan kamu hidup tersiksa bersamaku untuk selamanya. " ucap Hendra mengecup kening Anita dan memeluknya
"Aku sangat mencintaimu, aku terima apapun kenyataan mu dan aku rela...." kata Anita pelan namun segera di potong Hendra
"Cukup Anita, pikirkan lagi semua ini...masa depan mu masih panjang, dan kau sangat berhak mendapatkan cinta dan kebahagiaan. " ucap Hendra mengusap kepala istrinya
"Dia pria yang baik, dia pasti akan membuat mu bahagia dan terus tersenyum, dia tak akan pernah membiarkan mu menangis lagi, bukalah hati mu untuknya dan belajarlah melupakan aku...." ucap lagi Hendra tenang dan datar
"Seumur hidup aku tak akan bisa melupakan mu, kamu cinta pertama dan terakhir ku....aku ingin selamanya bersamamu. " lirih Anita memeluk erat tubuh Hendra
"Aku tahu, tapi kau berhak mendapatkan cinta dan perhatian yang tulus....dia akan memberi kebahagiaan pada mu, percayalah padaku. " kata Hendra pelan sambil mengusap lembut punggung Anita yang memeluknya
"Aku tak bisa meninggalkan kamu sendiri..." sahut Anita sambil menangis di bahu Hendra
"Aku memang di takdirkan dalam kesendirian, dan aku akan dengan senang hati menjalaninya...aku hanya ingin orang yang cinta padaku dan mengerti padaku hidup bahagia." ucap Hendra melepas pelukan Anita dan menakup wajahnya
__ADS_1