
Dokter Arya pergi ke pulau X seorang diri untuk menjemput keluarga Dina, hatinya tengah berbunga-bunga karena hendak bertemu gadis muda yang telah mencuri hatinya. Setelah sampai di bandara, anak buah si boss sudah menjemputnya.
"Anda mau istirahat dulu atau langsung, tuan?" tanya anak buah saat hendak menyalakan mobil
"Langsung saja, jaraknya lumayan jauh...Jangan buang waktu, biar aku tidur di dalam mobil." jawab Dokter Arya
"Baik, tuan." sahut anak buah segera menyalakan mobil dan melaju cukup kencang
Arya tidur di sepanjang perjalanan, waktu tempuh yang cukup lama tak terasa baginya. Hari menjelang senja saat Arya dan anak buahnya sampai di tujuan, Dina beserta ayah dan ibunya telah menyambut di depan rumah.
"Selamat datang Tuan Arya, silahkan masuk....pasti Anda lelah setelah menempuh perjalanan jauh." ucap pak Arif ramah
"Nggak terlalu kok, pak...tadi selama dimobil saya tidur, jadi nggak begitu capek." kata Arya yang tak lepas menatap wajah manis Dina
Setelah semua masuk ke dalam rumah , bu Tari segera menyiapkan minuman dan beberapa makanan dibantu oleh Dina. Kemudian mereka semua berkumpul diruang tengah mengobrol sambil menikmati hidangan yang disiapkan.
"Malam ini menginap disini kan tuan, saya sudah siapkan tempat , namun mohon maaf jika hanya seadanya. " ucap pak Arif merasa sungkan
"Nggak apa-apa pak, yang penting bisa buat istirahat...oh ya apa pak Arif dan keluarga sudah berkemas dan siap berangkat besok pagi." ramah Arya yang nampak langsung akrab dengan keluarga tersebut
"Sudah tuan, kami sudah berkemas dan menyiapkan semuanya." jawab pak Arif
"Apa kabar Dina?" sapa Arya yang menghampiri Dina yang tengah duduk sendiri di teras rumah
"Tuan, mengagetkan saja..." sahut Dina tersenyum simpul
"Sedang ngelamunin Hendra ya?" goda Arya yang telah duduk di sebelah Dina
"Ah tuan,...bukankah Tuan Arya sendiri yang bilang agar saya membunuh perasaan cinta terlarang ini." ucap Dina menunduk menyembunyikan wajahnya
"Tunjukkan wajah manismu nona, jangan menunduk begitu. Tak baik bicara tanpa menatap, ..." ucap Arya tersenyum dan dengan perlahan menyentuh dagu Dina dan mengangkatnya
__ADS_1
"Ahh, saya malu tuan..." sahut Dina yang memalingkan wajahnya saat Arya menatap nya
"Ijinkan aku untuk menatap wajah nona, karena dengan begitu bisa menenangkan hati ini." pelan suara Arya meraih tangan Dina dan menggenggam nya
Dina tersentak saat tangannya digenggam Arya, jantungnya berdegup kencang. Apalagi saat menatap matanya, ia merasa hatinya berdesir namun merasa sangat nyaman. Ia yang sempat jatuh hati pada Hendra, kini merasakan getaran aneh saat saling bertatapan dengan Arya.
"Istirahat lah nona, besok pagi-pagi sekali kita akan berangkat." ucap Arya tetap menatap lembut wajah Dina
"Tuan, saya merasa bimbang...entah apa nanti yang akan kami lakukan disana. Kami hanyalah orang kampung yang belum pernah sekalipun pergi ke ibukota. " ucap polos Dina
"Tenang saja, Hendra dan istrinya sudah menyiapkan segalanya, dan kalo nona ijinkan aku akan selalu menemani kemanapun nona ingin pergi." jawab Arya menenangkan hati Dina
"Terima kasih, tuan." sahut lirih Dina
Kemudian mereka berdua masuk untuk beristirahat, karena besok harus berangkat pagi. Meski harus berbagi kamar dengan anak buahnya, namun Arya merasa nyaman karena berada dekat dengan pencuri hatinya.
Pagi tiba, mereka semua menuju bandara. Setelah perjalanan pesawat untuk beberapa jam, mereka tiba di ibukota. Dina dan keluarganya tampak begitu tertegun saat melihat betapa ramai dan megahnya ibukota.
Perjalanan dilanjutkan dengan mobil menuju rumah Hendra, jaraknya tak terlalu jauh. Setiba di rumah Hendra, semua orang sudah menunggu termasuk si boss pun ada di sana.
"Pak Arif kenalkan ini istri dan anak saya, dan ini adalah atasan saya." lanjut Hendra mengenalkan satu persatu dan mempersilahkan mereka masuk
"Inikah gadis muda yang kamu maksud Arya?" ucap si boss menyenggol lengan Arya
Arya mengangguk sambil tersenyum, lain halnya dengan Dina yang tampak tersipu malu. Namun Arya tampak tak begitu senang, karena sempat melihat Dina menatap Hendra dengan penuh perasaan. Arya menyadari bahwa Dina masih punya hati pada Hendra, entah apa perasaan cintanya akan berbalas.
Setelah saling berbincang hangat, Anita mengantar keluarga tersebut menuju paviliun samping rumahnya yang akan menjadi tempat mereka menginap selama di ibukota.
"Silahkan beristirahat, kalo ada yang dibutuhkan bilang saja, jangan sungkan karena sekarang kita bersaudara." ucap Anita dan berlalu kembali ke rumah utama
"Daddy,...gadis muda itu cantik juga ya, pantas saja Arya tertarik padanya." ucap Anita saat masuk ke kamar dan duduk di samping suaminya
__ADS_1
"Maksud kamu, Dina..." sahut Hendra yang sibuk menatap ponselnya
"Tapi, saat aku melihatnya menatap mu....sepertinya ia punya perasaan padamu." ucapan Anita mengagetkan Hendra yang langsung meletakkan ponselnya
"Apa kamu sedang cemburu, mom..." sahur Hendra cepat dan menatap istrinya
"Bukan begitu, Dad...tak mustahil jika memang dia jatuh hati padamu, secara dialah yang telah merawat mu selama koma, apa lagi meski usia kalian berbeda jauh tapi kamu tetap ganteng." Anita mencoba menyembunyikan rasa cemburunya
"Tuh kan bener, kamu sedang cemburu ....Jangan khawatir meskipun benar dia jatuh hati pada ku, namun sama sekali tidak dengan ku." ucap Hendra mencium kening Anita dan memeluknya
"Dad...Apa kamu tahu, sekarang aku berteman baik dengan Renata, bahkan waktu kamu menghilang kemarin dia datang kesini untuk menemani dan menguatkan hati ku." ucap Anita dan membuat kaget Hendra
"Benarkah mom, bagaimana bisa ..." sahut Hendra merasa heran
"Ya bisalah, kami kan sama-sama wanita yang mencintai satu pria yang sama." goda Anita tersenyum simpul
"Ayolah, mom...aku tidak sedang bercanda." sungut Hendra
"Iya, ...Renata kan telah mengikhlaskan perasaannya, dan mengijinkan ku untuk mengisi hatimu, begitu juga aku yang telah ikhlas menerima bahwa Renata adalah pemilik hatimu, namun jiwa dan raga mu akan selalu jadi milikku. " jelas Anita
"Dan kami ingin saling menguatkan dan berhubungan baik, saling berbagi dan support satu sama lain." lanjut Anita
"Terima kasih, mom...kamu memang wanita yang luar biasa, aku menyesal baru menyadarinya setelah sekian lama membuat mu terluka." lirih Hendra menatap lembut wajah istrinya
"Dad,...berjanjilah kamu akan tetap seperti ini, jangan pernah sekalipun berubah dalam hal apapun. " ucap Anita menatap penuh cinta
"Aku berjanji mom, ...hidupku hanya untuk kamu dan Junior, sampai kapanpun." jawab Hendra penuh perasaan
Anita tersenyum bahagia mendengar jawaban dari mulut Hendra, hingga ia tak dapat menahan diri dan langsung menyambar bibir hangat di depannya. Hendra terkejut mendapat serangan spontan dari Anita, hingga matanya membulat sempurna.
Namun hanya sekejap, dan beberapa detik kemudian keduanya telah saling menye sap dan melu mat dengan menggebu. Keduanya seakan tak ingin melepasnya, dan terus semakin memanas.
__ADS_1
ting...
Mereka terpaksa menyudahi aksinya, meski hasrat telah memuncak pada keduanya. Saat terdengar suara dari ponsel Anita, dan saat meliriknya ternyata dari Renata.