
"Buat apa mencintai dan bertahan hidup bersamanya, jika dia tak pernah menganggap mu ada." ucap lembut Andi yang terus meyakinkan Anita
"Tidak Andi, ...sampai kapan pun aku akan tetap bersamanya, ini sudah keinginan hati ku sejak awal. Tak peduli bagaimana dia menganggap ku, aku sudah bahagia walau hanya dengan menatap wajahnya dan selalu berada di dekatnya. " kata Anita dengan tenang dan berusaha tegar
"Lalu bagaimana dengan aku, apa sedikitpun perasaan ku ini tak ada artinya bagimu..." sahut Andi tetap menatap Anita
"Andi , terima kasih telah mencintai dan peduli padaku....tapi mencintai tak harus memiliki." ucap Anita membalas tatapan Andi
"Kamu egois,...kata mu mencintai tak harus memiliki, tapi kenapa kau tak mau melepasnya. Hendra juga mencintai Renata namun tak bisa memiliki, jadi di sini hanya kamu yang bisa memiliki cinta mu..." kata Andi mendebat ucapan Anita
"Andi,...Aku..." Anita berhenti berucap karena secara tiba-tiba Andi mengecup bibirnya dengan lembut
Anita hanya terdiam tak menolak tapi juga tak membalasnya, ia shock dengan aksi Andi yang tak terduga. Merasa Anita tak menolaknya, Andi terus melanjutkan dengan menyesap dan melu mat lembut. Nafasnya terdengar begitu memburu, namun dengan segera Anita mendorong dada Andi hingga tautan itu terlepas.
"Hentikan, Andi....mengertilah..." lirih Anita
"Sudah terlalu lama aku selalu mencoba mengerti akan perasaan mu, kini giliran kamu yang harus mengerti perasaan ku. Pertimbangkan lagi perasaan ku, aku yakin bisa membuatmu bahagia dan selalu tersenyum, Anita...." ucap Andi memohon dengan penuh ketulusan
"Aku akan pulang..." sahut Anita yang tak sanggup lagi berlama-lama di tempat itu
"Aku akan mengantar mu...."balas Andi ikut beranjak
"Tidak, ...apa kau lupa kalo mobil ku hanya pura-pura mogok." ucap Anita mulai melangkah
"Tunggu,... setidaknya aku akan mengantar mu sampai ke tempat mobil mu berada." sahut cepat Andi menggandeng tangan Anita
Kemudian mereka pun berjalan kaki menuju tempat mobil Anita berada, jaraknya memang tidak terlalu jauh dari rumah itu. Selama berjalan bersama, Andi terus menggenggam erat tangan Anita. Sesekali Andi menatap ke arahnya dengan tersenyum kecil, Anita sama sekali tidak berdaya dengan sikap manis yang ditunjukkan Andi.
"Terima kasih..." ucap Anita saat sampai tujuan dan lalu masuk ke dalam mobil
"Hati-hati lah, I Love You...." sahut lirih Andi mengusap pipi Anita
###
__ADS_1
Anita telah sampai di rumahnya, namun Hendra belum ada disana hanya Junior yang sedang bermain di temani oleh bibi. Anita hendak langsung masuk ke kamar dan membersihkan diri, namun anaknya merengek minta ditemani karena ia hari ini meninggalkannya di rumah sendiri bersama bibi cukup lama.
"Mommy...kenapa lama perginya?" rengek Junior saat melihat Anita masuk ke rumah
"Maaf sayang, mommy ada urusan penting...maaf ya..." ucap Anita yang menghampiri anaknya
"Sejak tadi aden selalu menanyakan nyonya....bahkan tidak mau bobok siang. " kata bibi memberi tahu Anita
"Junior nggak bobok ya tadi...lain kali jangan gitu sayang, Junior kan sudah besar sudah mau sekolah lagi..." ucap Anita membelai lembut kepala anaknya
"Iya mom....kapan Junior sekolah?" sahut Anaknya manja dan memeluk dirinya
"Mommy sudah mendaftarkan, mulai bulan depan kamu sudah mulai sekolah." jawab Anita tersenyum
"Iya mom,.... horeee aku mau sekolah, bi..." sahut riang Junior melihat ke arah bibi
"Iya, aden pasti jadi anak yang pintar..." ucap bibi tersenyum
"Iya mom...." sahut Junior duduk kembali setelah melepas pelukan dari mommy nya
Anita kemudian bergegas masuk ke kamarnya, selesai mandi ia terduduk di tepi ranjang dan kembali mengingat seluruh kejadian hari ini. Ia tak menyangka ternyata selama ini ada seorang pria yang menjadi pengagum rahasia nya. Namun yang membuat hatinya sedih adalah sikap Hendra padanya yang terkesan tak peduli.
"Dad, kenapa kau bersikap seperti itu..." lirih Anita sendiri dalam lamunannya
Sampai selesai makan malam pun Hendra belum tiba di rumah, setelah menemani Junior tidur Anita terus mondar mandir di ruang depan menunggu suaminya pulang, ia merasa sangat gelisah dan kemudian terduduk di sofa ruang tengah, saat terdengar ponselnya berbunyi.
"Halo Rena..." sapa Anita mengangkat panggilan di ponselnya
"Malam Anita, gimana kabarnya?" tanya Renata kemudian
"Tidak sebaik kamu, Ren..." sahut Anita pelan
"Kenapa Anita,...apa ada masalah?" tanya Renata lagi
__ADS_1
"Rena, aku saat ini lagi bingung..." ucap Anita
"Ceritakan padaku...." sahut Renata
Anita mulai menceritakan semuanya pada Renata, sejak awal saat tak sengaja bertemu Andi, Andi yang jadi pengagum rahasia nya yang selalu mengirim bunga di hari ulang tahunnya, tanpa disadari Andi yang terus menjaganya hingga penyusupan Andi di bisnis pamannya.
"Jadi itu alasan kenapa kemarin Hendra bertanya tentang Andi padaku." ucap Renata setelah mendengar penjelasan Anita
"Iya, tapi yang membuatku kecewa...Hendra hanya mementingkan urusan pekerjaannya, dan terasa tak peduli dengan aku bahkan kemarin ia langsung meninggalkan aku sendirian di rumah Andi." ucap getir Anita
"Benarkah dia bersikap seperti itu?" tanya Renata tak percaya
"Ren, mungkin benar kata Andi bahwa sebenarnya aku memang tak pernah berarti baginya." kata Anita pilu
"Sabar Anita, ...mungkin biarkan dulu urusannya selesai, setelah itu bicaralah baik-baik dengannya. Setahu ku dia bukan pria seperti itu, ..." ucap Renata menenangkan hati Anita
"Ren, mungkin benar jika sedikit pun tak ada cinta untukku tapi setidaknya dia punya rasa empati padaku, apakah semua cinta dan pengertian ku tak ada artinya selama ini..." ucap Anita yang telah menetes air matanya
"Anita tenanglah, jangan berfikiran negatif dulu sebelum kau bicarakan langsung dengannya, aku ingin semuanya baik-baik saja..." kata Renata penuh perhatian
"Rena, kalo Andi itu bagaimana?" tanya Anita kemudian
"Anita,... memang Andi itu pria yang baik, lebih bisa perhatian dan memanjakan orang yang dicintainya, namun saran ku pertimbangkan lagi baik-baik masalah ini jangan gegabah dan terburu-buru dalam mengambil keputusan, ingat ada Junior di antara kalian..." jawab Renata hati-hati mencoba memberi saran
"Entahlah Ren, jujur saat ini aku benar-benar galau...apalagi sampai sekarang Hendra belum pulang, aku ingin sekali segera bicara padanya." ucap Anita pelan
"Bersabarlah Anita, jangan sampai kamu stress...biarkan semua mengalir seiring waktu berjalan, Tuhan memberi mu ujian yang pasti bisa kamu lalui dan takdir Nya sudah pasti yang terbaik untukmu." kata Renata membesarkan hati Anita
"Terima kasih Rena,...lain kali aku hubungi lagi ya..." sahut Anita mengakhiri percakapannya dengan Renata
"Iya , dengan senang hati Anita. " jawab Renata menutup ponselnya
"Daddy,... cepatlah pulang, aku sedang menunggu mu..." lirih Anita sendiri tetap duduk bersandar di sofa
__ADS_1