Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Dilamar


__ADS_3

Beberapa hari terakhir kerjaan Renata menumpuk, kadang malah harus lembur. Dalam seminggu bisa sampai 4 atau 5 hari harus pulang malam. Tapi ada untungnya juga, ia jadi sedikit melupakan kegalauan di hatinya.


Hampir dua minggu setelah pertemuan Andi dan Hendra waktu itu, tapi sampai sekarang Hendra belum menemui dirinya. Renata mulai berfikir apakah Hendra sudah menyerah, apakah dia tidak mau memperjuangkan cintanya. Sampai disini kah semuanya harus berakhir.


"Melamun terus ya, ..." ucap Ardian yang tiba-tiba sudah berdiri didepan meja Renata.


"Eh,...mas Ardian, kapan datangnya?" sahut Renata yang tersadar dari lamunannya.


"Lumayan lama sih buat liatin muka bengong kamu." Ardian tersenyum kecil.


"Maaf mas, saya nggak tahu." Renata tampak salah tingkah.


"Iyalah nggak tahu orang kamu ngelamun." Ardian masih tersenyum.


"Iya, maaf...ada yang bisa dibantu, mas Ardian mau kirim paket atau berkas?" tanya Renata masih salting.


"Enggak kok, aku kesini bukan urusan kerja, aku mau ajak kamu makan siang." ucap Ardian sambil menatap wajahnya.


"A.. apa, saya... makan siang?" Renata terkejut dengan ucapan Ardian.


"Iya, lima menit lagi udah jam istirahat lho." lanjut Ardian sambil menengok jam tangannya.


"Ehh...ada mas Ardian, ada yang bisa dibantu.?" sapa mbak Dewi yang mengetahui kehadiran Ardian.


"Nggak mbak, saya kesini mau ngajak Renata makan siang." jelas Ardian


"Oh silahkan saja, ini juga udah waktunya istirahat kok."


"Iya, makasih mbak Dewi."


Ardian berjalan menuju mobilnya diikuti oleh Renata dibelakang.


"Mau makan apa?" tanya Ardian setelah keduanya di dalam mobil.


"Terserah mas Ardian saja." jawab Renata pelan.


Ardian menyalakan mobilnya dan berkendara menuju tempat makan. Letaknya tak jauh dari kantor tersebut, sekitar lima belas menit sudah sampai. Tempatnya adem dan tidak terlalu ramai.


"Kamu pesan apa, Ren?" tanya Ardian


"Terserah, sama aja kayak mas Ardian." jawab Renata pelan.

__ADS_1


"Dari tadi kok terserah ...ya udahlah aku pesen dulu." senyum Ardian.


Tak terlalu lama pesanan datang, mereka berdua makan tanpa banyak bicara. Hanya keheningan dan suara sendok garpu yang beradu dengan piring.


"Rena, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Ardian setelah keduanya selesai makan.


"Iya, silahkan mas ." senyum Renata.


"Kamu sebenarnya kenapa sih, kok sering banget nggak fokus begitu, banyak ngelamun..." tanya Ardian yang tak lepas memandang senyum Renata.


"Saya,...saya nggak apa-apa kok mas." jawab Renata.


"Kalo kamu ada masalah ceritakan pada ku, siapa tahu bisa melegakan hati mu, berbagilah padaku." ucap lembut Ardian yang tetap memandang wajah Renata.


"Tapi saya nggak enak ngomongnya..." Renata balas menatap wajah Ardian, hatinya berdebar saat kedua mata mereka bertemu.


"Katakanlah, aku ingin bisa menjadi tempat berbagi mu." kata-kata Ardian sangat menenangkan hati Renata.


"Saya belum bisa melupakan masa lalu, hubungan saya dan mantan kandas karena perbedaan keyakinan. Padahal kami berdua masih saling menyayangi tapi sampai sekarang belum ada solusi untuk meruntuhkan tembok penghalang diantara kami." Renata mulai meneteskan air mata.


Ardian tampak mendengarkan dengan seksama setiap curhatan hati Renata, ia mengusap lembut air mata di pipi, dan meraih tangannya. Renata tersentak dengan perlakuan Ardian tapi jujur hatinya merasa tenang sekarang.


Renata memandang wajah di depannya, lembut dan menenangkan apalagi kalau ditambah dengan senyuman. Untuk beberapa saat mereka saling menatap, merasakan perasaan aneh yang mulai muncul.


"Kita kembali ke kantor , nanti sore aku akan menjemputmu, kamu nggak bawa motor kan ?" ucap Ardian lembut sambil tersenyum.


Renata hanya menggelengkan kepalanya, ia merasa nyaman saat menatap wajah Ardian.


Wajah yang lembut, yang selalu dihiasi senyuman.


###


Sabtu malam Renata mengantar adiknya ke toko buku. Mereka berboncengan menuju salah satu toko buku terbesar di kota tersebut. Sesampainya di sana toko lumayan ramai, maklumlah malam Minggu.


Adiknya sibuk mencari buku-buku, Renata hanya mengikutinya saja, entah buku apa saja yang dicari adiknya itu. Cukup lama berada di toko, hampir jam 9 malam mereka baru keluar dari toko.


"Udah semua kan bukunya, nggak ada yang kelupaan.?" tanya Renata pada adiknya.


"Sudah kak, kita langsung pulang ya, kakiku pegel nih kak ."


Mereka bergegas pulang tanpa mampir ke manapun. Kaki sudah terasa pegal semua, hampir dua jam mereka muter-muter di toko buku.

__ADS_1


"Kok lama beli bukunya?" tanya ibu ketika sampai di rumah.


"Iya Bu, ni adik nyari bukunya lama , muter-muter sampe pegel semua ini kaki ." sungut Renata berjalan menuju ruang makan.


"Lapar ni Bu, masih ada makanan nggak." ucap Renata setelah duduk di ruang makan.


"Masih, udah cepat makan."


"Rena, tadi ada tamu nyari kamu." ucap Ibu kemudian.


"Siapa Bu?" tanya Renata sambil terus menyuap makanannya.


"Ardian...." jawab pendek Ibu.


"Mas Ardian, kesini ... terus Ibu bilang apa?"


Renata menghentikan makannya.


"Ya, Ibu bilang kalo kamu lagi ke toko buku nganter adikmu." lanjut Ibu


"Terus dia bilang apa?" tanyanya lagi


"Dia cuma bilang kalo Minggu depan mau ke sini bersama orangtuanya, dia ingin melamar kamu." ucapan Ibu membuat Renata tersedak.


"Apa, apa Ibu nggak salah dengar?"


"Nggak Rena, Ibu jelas mendengarnya, Minggu depan kamu mau dilamar Ardian." ucap Ibu sambil mengelus lengannya.


"Tapi Bu, Renata belum lama kenal sama mas Ardian, jadi nggak mungkinlah lagian Renata juga belum siap." ucap Renata menatap wajah Ibunya.


"Rena, jodoh itu datangnya kadang memang tak terduga, Ibu lihat dia orangnya baik, santun dan ramah. mungkin Allah sudah mengirim dia sebagai jodohmu." nasehat Ibu.


"Bu, kenapa tiap ada pria yang dekat dengan Rena Ibu selalu bilang baik, tapi kenapa tidak dengan Hendra, apa salah Hendra Bu?" Renata menatap wajah Ibu sambil berkaca-kaca.


"Rena, bukannya tidak baik tapi dia itu beda, ada perbedaan yang sangat prinsip di antara kalian. Bukannya ibu tak mau merestuinya, tapi ini demi masa depan kamu. Menikah itu untuk selamanya, orang yang seiman saja kadang bisa gagal apalagi dengan perbedaan seperti itu. Pikirkan baik-baik nak jangan hanya memandang cinta saja, banyak faktor lain yang harus kamu perhatikan." Ibu mengusap lembut kepala Renata.


Renata hanya bisa terdiam mendengar semua nasehat Ibunya. Air matanya mengalir cukup deras, karena tak sanggup lagi menahan sesak di dadanya ia lantas masuk ke kamar dan menghempaskan tubuhnya di kasur.


Entah sampai jam berapa akhirnya Renata terlelap dalam tidurnya. Hingga saat terdengar ketukan pintu ia masih berat membuka matanya.


"Rena, bangun nak...sudah siang." suara Ibu terdengar dari balik pintu.

__ADS_1


"Sebentar lagi Bu....ini kan hari Minggu." sahutnya


"Ayo bangun, Rena...nak Ardian sudah menunggu di depan." lanjut ibunya.


__ADS_2