
Sementara Renata berusaha untuk mulai membuka hatinya, keadaan Hendra berbanding terbalik. Hidupnya benar-benar kacau, ia seperti tak punya tujuan hidup lagi. Kenakalan waktu sekolah tidak seberapa di banding kelakuannya sekarang.
Sifat temperamen nya semakin menjadi, dalam beberapa bulan ini sudah dua kali dia berurusan dengan pihak berwajib. Namun jangankan jera, hal itu malah membuatnya semakin tak terkendali.
Orang tuanya dibuat pusing dengan kelakuannya itu. Entah cara apalagi yang harus mereka perbuat untuk merubah sikap anaknya tersebut.
"Hendra, ayah sudah mendaftarkan mu di sebuah universitas swasta, besok kamu ke kampus bawa berkas-berkas yang dibutuhkan." ucap ayah Hendra saat di meja makan.
"Memangnya siapa yang mau kuliah." jawab Hendra enteng sambil menyuap makanannya.
"Kalo nggak mau kuliah, mau jadi apa kamu nantinya, kamu itu laki-laki harus memikirkan masa depan. Kelakuanmu harus dirubah jangan seperti preman gini." nasehat ayahnya.
Hendra tak menggubris perkataan ayahnya dan langsung ngeloyor pergi meninggalkan makannya.
"Hendra ayah belum selesai bicara..."
Seperti biasanya, kalo malam keluyuran dan siang hari tidur seharian. Hendra merebahkan tubuhnya di kasur, matanya menatap langit-langit kamar.
"Hendra, boleh ibu bicara sebentar, nak?" ucap ibunya lembut, sambil duduk disebelahnya.
''Bicara apalagi, Bu?" Hendra bangkit dan bersandar di tembok kamarnya.
"Nak, kalo kamu nggak mau kuliah carilah pekerjaan, carilah kegiatan yang positif jangan seperti ini terus." ucap ibu dengan hati-hati.
"Nantilah, Bu ..." jawab Hendra enteng.
"Ibu tahu yang kamu rasakan, Ibu tahu kamu belum bisa melupakan Renata." ucapan Ibu membuat dada Hendra sesak, pandangannya kosong
"Renata pasti sangat sedih bila melihat keadaan mu sekarang, ia pasti sangat kecewa." lanjut Ibu.
"Iya Bu, Hendra tidak pernah bisa melupakannya, mungkin sampai matipun Renata masih akan tetap ada disini." ucap Hendra sambil menunjuk dadanya.
"Ibu mengerti, maka dari itu tata lah masa depan mu, kalo memang berjodoh suatu saat kalian pasti bersama lagi."
"Tidak mungkin, Bu... aku dan dia berbeda."
__ADS_1
"Jangan bilang tidak mungkin, kalo Tuhan berkehendak semua bisa terjadi, semua pasti ada jalannya." ucap lembut Ibu mengusap kepala Hendra yang kini telah berada di pangkuannya.
"Berubah lah, nak. Ibu tidak ingin kamu menyesalinya kelak."
Nasehat ibu selalu terngiang di telinga Hendra. Dia sadar apa yang dikatakan Ibu benar, dia harus berubah.
###
Hendra memutuskan menerima keputusan ayahnya untuk kuliah. Ia mencoba dengan keras untuk beradaptasi dengan lingkungan kampus. Ia mengambil jurusan teknik informatika, fakultas teknik sebuah universitas swasta.
Dasar emang sifatnya yang keras itu, diawal kuliah dia sering bikin masalah di kampus nggak jauh beda seperti saat SMA dulu. Ada saja masalah yang dibuatnya baik dengan satu angkatan atau pun seniornya. Tapi setelah beberapa semester ia mulai serius menjalani kuliahnya.
Oleh teman-temannya ia dijuluki preman kampus, maklumlah kelakuannya memang kayak preman. Kalo cewek-cewek biasa menyebutnya preman ganteng, tak dipungkiri dengan wajahnya yang cool itu banyak cewek yang tertarik padanya.
Bahkan ada beberapa cewek yang terang-terangan nembak dia. Tapi Hendra belum bisa membuka hati untuk cewek lain.
"Hendra, ntar malem jalan yuk." ajak Natalia, cewek yang naksir berat sama Hendra.
"Sorry, Nat nggak bisa aku ada acara." tolak Hendra.
"Hen, kamu kenapa sih, susah banget diajak jalan. Jangan-jangan kamu nggak suka sama cewek." ucap Natalia dengan lirikan mengejek.
"Hen, maafkan aku tapi ..." belum selesai Natalia ngomong, Hendra sudah meninggalkan nya.
Hendra memang belum bisa move on dari Renata, entah udah berapa cewek yang mencoba dekat dengannya tak bakal bertahan lama.
Semakin dia mencoba melupakan, bayangan Renata malah terus mengikutinya. Dia sangat merindukan sosok wanita yang sangat di sayanginya itu. Terbersit di benaknya untuk menemuinya kembali.
"Bu, menurut ibu kalo aku menemui Renata lagi gimana ?" tanya Hendra minta pendapat Ibunya.
"Kamu yakin, nak. ya kalo dia masih sendiri."
"Aku sangat rindu padanya, kalo memang dia sudah punya kekasih lagi nggak apa-apa, Bu." Hendra menarik nafas dalam-dalam.
"Aku sudah merasa lega walaupun hanya memandangnya dari kejauhan." lanjutnya.
__ADS_1
"Bukankah itu hanya akan menyakiti hati mu saja, cobalah untuk menyimpannya dalam hati dan menatap ke depan."
"Biarlah aku merasakan sakit, asalkan bisa memandangi wajahnya." ucapannya terdengar pilu, hingga Ibunya meneteskan air mata.
"Kalo begitu terserah apa kata hati mu." sahut Ibu sambil mengelus kepala anaknya itu.
Minggu pagi Hendra mengendarai motornya menuju rumah Renata, dia sebenarnya agak ragu. Jantungnya berdebar-debar saat mulai masuk gang rumah Renata. Teringat kembali saat untuk pertama kalinya dia main ke rumah Renata, senyum mengembang di bibirnya.
Dia mendadak menghentikan motornya, memundurkan ke belakang sebuah pohon. Dari tempatnya berhenti dia bisa melihat jelas teras rumah Renata, tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras tampak menahan emosi.
"Sayang, kita harus segera berangkat nanti telat lho " ucap Andi pada Renata
"Bentar lagi tinggal satu bab lagi ."
jawab Renata yang sedang membaca novel sambil bersandar di bahu Andi.
"Dilanjutin nanti, lihat ini jam berapa?"
"Iya,. iya..."
"Rena sayang,....." ucap Andi sambil mencium ujung kepala Renata.
"Iya, aku ambil tas dulu." Renata bangkit dan masuk ke dalam rumah.
"Ambil tas kok lama sih, sayang..." teriak Andi tak sabar.
"Ihh nggak sabaran banget ." Renata keluar dan mencubit lengan Andi.
Andi membalasnya dengan ciuman di pipi Renata, kemudian segera menyalakan motornya. Mereka berdua tampak mesra, senyum terus mengembang di bibir mereka, tanpa menyadari ada sepasang mata tengah melihat mereka dengan rasa sakit yang tertahan.
Andi dan Renata berkendara menuju bioskop, ya mereka berdua memang sudah janjian nonton hari ini.
Hendra membuntuti mereka dari jarak yang cukup jauh. Setiba di depan bioskop Hendra menghentikan motornya, ia merasa tak sanggup lagi melihat kemesraan mereka.
"Kamu ternyata sudah bahagia bersama Andi,... Renata apakah kamu sudah melupakan aku." wajah Hendra tampak muram.
__ADS_1
Ia teringat dulu pernah menitipkan Renata pada Andi, tapi saat ini saat ia harus melihat kemesraan mereka hatinya merasa pedih. Seandainya saja dia yang ada diposisi Andi, alangkah bahagianya.
''Rena, tahukah kamu kalo aku masih sangat mencintai mu."