Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Kangen banget


__ADS_3

Renata kembali terdiam, dan merasa sangat canggung hingga terlihat salah tingkah. Kini ia telah yakin bahwa yang ada di depannya kini adalah Hendra. Ucapan datar dan wajah dingin tanpa ekspresi itu memang milik Hendra, sang pemilik hatinya.


"Kenapa, kok celingukan begitu?" tanya Hendra ketus pada Renata


"Deni kemana ya , tadi dia bilang nunggu di sini." jawab Renata kaku


"Jadi sekarang tempat ini jadi tempat ketemuan kamu sama Deni." ucap datar Hendra


"Ahh...nggak kok, ta...tadi dia bilang nunggu di sini." jawab Renata terbata


"Deni lagi ketemu sama Aira, mau nostalgia." ucap Hendra cuek


"Aira temen sekelasnya Tia, kok bisa?" tanya Renata penasaran


"Iya dulu kan Deni naksir berat sama Aira, tapi cemen nggak berani ngomong, kangen lama nggak ketemu katanya." jelas Hendra tanpa ekspresi


"Kamu kangen nggak sama aku?" tanya Hendra tiba-tiba


Renata terhenyak mendengar ucapan Hendra yang tiba-tiba, ia terdiam lidahnya serasa kelu tak mampu berkata-kata. Detak jantungnya berdebar cepat, hatinya kembali berdesir merasakan sensasi aneh itu.


"Kok diem...apa malah sudah lupa sama aku, jadi nggak mungkin merasa kangen..." ucap Hendra pelan sambil menatap wajah Renata


"Kangen kok...Kangen banget..." jawab Renata terbata dan terlihat tegang


"Benarkah,...Apa pria dingin dan sadis ini pantas di kangeni, pria yang telah membuat mu kecewa dan..." Ucapan Hendra terpotong


Renata refleks meletakkan jari telunjuknya di bibir Hendra, ia tak ingin Hendra meneruskan ucapannya. Keduanya saling menatap, mata mereka saling beradu merasakan getaran aneh yang kini sedang mereka rasakan.


"Tolong jangan teruskan..." lirih Renata sambil menundukkan kepala


"Kenapa?" Hendra memegang dagu Renata dan mengangkatnya


Wajah Renata yang kini kembali menatap wajah Hendra tak bisa menyembunyikan air matanya yang mulai meleleh. Hendra merasa hatinya pedih melihat air mata Renata, perasaannya jadi tak karuan.

__ADS_1


"Kamu menangis Rena?, apa aku begitu dalam menyakiti hati mu..." ucapan Hendra bergetar


"Maafkan aku, Hendra." lirih suara Renata


"Maaf?, maksudnya..." tanya Hendra heran


"Aku sudah begitu egois, membiarkan mu memendam sakit seorang diri padahal semua ini karena Ibu ku." ucap Renata pelan


"Dari mana kau tahu tentang itu?" Hendra menatap tajam Renata


"Tidak penting dari mana, harusnya aku yang tanya kenapa kamu nggak pernah cerita ke aku." Renata membalas tatapan Hendra


Hendra terdiam sejenak, mereka berdua bertatapan begitu dekat hingga bisa saling merasakan hembusan nafas masing-masing. Andaikan mereka hanya berdua saja, ingin rasanya saling memeluk erat dan melepaskan segala kerinduan yang selama ini tersimpan di hati.


"Sudahlah, semua telah berlalu, apa semua itu masih penting untukmu..." ucap Hendra kemudian


"Aku merasa sangat bersalah, harusnya aku mencari tahu kebenarannya. Aku terlalu mudah menyerah dan egois hingga kau memendam beban ini sendiri. " ucap Renata mencoba tenang


"Apa kau bahagia dengan pernikahan mu, Rena?" tanya Hendra tiba-tiba


"Aku...Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya balik Renata


"Jawab saja, aku hanya ingin tahu." jawab singkat Hendra


"Aku sangat beruntung memiliki keluarga kecil yang bahagia, dua anak yang ganteng dan cantik serta seorang suami yang sangat mencintai dan pengertian." jawab Renata


"Apa kau mencintai nya, maksudku suami mu ." tanya Hendra lagi


"Dia pria yang sangat baik, ia sangat mencintaiku dan menerima ku apa adanya. Meski ia tahu awalnya aku belum bisa menerimanya namun dengan segenap ketulusan nya dan kesabarannya hingga bisa membuka hatiku." jelas Renata menatap raut wajah Hendra yang berubah


Hendra berusaha menahan sesuatu yang menyesak di hatinya, saat mendengar penjelasan Renata dan memuji suaminya itu. Ingin rasanya ia membekap mulut Renata agar tak melanjutkan ucapannya. Hatinya serasa teriris mengetahui Renata telah bisa membuka hatinya bahkan mungkin mencintai pria lain.


"Hen, kenapa...Apa aku salah bicara?" tanya Renata saat melihat ekspresinya

__ADS_1


"Jadi dia telah berhasil menyingkirkan aku dari hatimu, membuangnya jauh..." Hendra tak sanggup meneruskan ucapannya


Hendra mengepalkan kedua tangannya kuat, menahan sesuatu yang rasanya ingin meledak, jantungnya berdebar kencang, wajahnya memerah menahan amarah dan kecewa. Ingin rasanya ia pergi dan meluapkan amarahnya, andai saja ada puluhan musuh di hadapannya pasti sudah di habisinya dengan beringas.


"Hen, jangan seperti ini." Renata menenangkan Hendra saat melihat perubahan pada sikap Hendra


"Kenapa kamu bisa melakukannya, sedang aku sama sekali tak sanggup, bahkan untuk sedetik pun." geram Hendra


Hendra benar-benar tak bisa menahan dirinya lagi dan seketika bangkit hendak pergi, namun tangan Renata menarik tangannya dan menahannya. Hendra berdiri mematung tak bisa beranjak, namun pandangannya nanar penuh kekecewaan.


"Hen, duduklah lagi dan dengarkan kata hatiku...please." pinta Renata


Hendra tetap terdiam tak menjawabnya, namun tarikan tangan Renata membuatnya terduduk kembali. Ia mencoba tenang dan menghela nafas panjang.


"Maafkan aku yang dulu begitu egois memutuskan untuk menerima pria lain, aku hanya ingin terus melanjutkan hidupku. Namun perasaan ku padamu tak pernah berubah sedikitpun, sejak pertama aku melihat mu bahkan sampai detik ini. Dan mungkin untuk seumur hidupku kamu akan tetap ada di hatiku, meskipun aku bisa membuka hati dan menerima hati yang lain namun tidak akan pernah sama seperti aku mencintaimu." jelas Renata menatap wajah Hendra sambil berlinang air mata


"Rena aku sangat mencintaimu, sejak awal bertemu hingga detik ini bahkan sampai di akhir hidup ku nanti hanya kamu yang ada di hatiku. Sedikitpun aku tak bisa membuka hatiku, cinta ini benar-benar telah membunuh jiwaku." ucap Hendra dengan suara bergetar penuh perasaan


Keduanya saling menatap penuh perasaan, penuh kerinduan yang begitu besar hingga tak disadari bibir Hendra mencium sekilas bibir Renata, sangat lembut penuh perasaan. Dada keduanya berdebar hebat merasakan sensasi sentuhan kedua bibir ini, sangat hangat dan menenangkan jiwa.


"Renata, kembalilah padaku..." pinta Hendra dengan mata yang mulai basah


"Hen,...Apa itu mungkin terjadi?" lirih Renata dengan mata sembab


"Rena, aku rela melakukan apapun asal kau kembali bersama ku." jawab lirih Hendra


"Aku percaya Hen,...namun apa kita sanggup membuat hati yang telah dengan tulus menerima kita apa adanya menjadi terluka. Apa kita tega membuat mereka merasakan sakit dan luka yang dalam." kata Renata mencoba memberi pengertian


"Biarlah cukup kita berdua saja yang merasakan betapa pedih dan sakit hati karena cinta. Cukup kita berdua yang memendam beban berat ini, dan biarlah rasa ini tetap tersimpan di benak kita selamanya. " lanjut Renata


"Kamu mungkin sanggup, tapi aku tidak Rena...bahkan hingga detik ini hanya bayangan mu yang selalu ada di hadapan ku. Meski dia bisa menerimanya, namun aku akan selalu merasa bersalah." jawab Hendra menahan sesak di dadanya


"Dibalik sifat mu yang keras namun dingin ini, aku yakin kamu tak akan sanggup melihat keluarga mu terluka. Biarlah perasaan ini tetap tersimpan rapat dalam hati kita berdua, biarlah kita berkorban demi orang-orang yang telah dengan tulus mencintai dan menerima kita apa adanya." Renata menggenggam erat tangan Hendra

__ADS_1


__ADS_2