Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Asam lambung


__ADS_3

Hari ini Hendra dan Anita berniat untuk menemui Ardian, mereka berdua mendatangi rumah Ardian namun ternyata yang dimaksud tidak berada di rumah. Hanya ada bibi saja, bibi bilang setelah mengantar anak-anak ke sekolah Ardian langsung ke kantor.


Mereka berdua lantas bergegas menuju kantor Ardian, setelah sebelumnya meminta alamatnya pada bibi. Jarak dari rumah ke kantor Ardian lumayan cukup jauh, kira-kira 40 menit berkendara akhirnya mereka tiba.


"Ada yang bisa di bantu, pak?" tanya seorang yang melihat Hendra dan Anita masuk ke dalam kantor


"Maaf mbak, bisa bertemu dengan pak Ardian?" jawab Hendra pada salah satu karyawan di sana


"Oh ya, apa sudah ada janji sebelumnya?" tanya orang tersebut


"Belum mbak tapi ini masalah penting, menyangkut Ibu Renata, jadi tolong biarkan kami masuk menemuinya." ucap Hendra menjelaskan


"Oh, begitu ya...silahkan jalan lurus aja , ruangan pak Ardian ada di sebelah kanan." sahut orang tersebut


"Baik, terima kasih mbak." ucap Hendra mengakhiri percakapan


Hendra dan Anita berjalan menuju ruangan yang dimaksud, dengan ragu dia memberanikan diri mengetuk pintu ruangan tersebut.


"Masuk." suara sahutan dari dalam


"Selamat siang, mas!" ucap Hendra saat memasuki ruangan tersebut, sedang Anita mengikuti di belakangnya


"Kamu,...dasar breng sek mau apa kamu ke sini." Ardian kaget saat melihat ke arah suara


"Mas, ijinkan saya menjelaskan..." Hendra tak sempat melanjutkan ucapannya


"Tidak ada yang perlu di jelaskan, pergi dari sini sekarang juga." usir kasar Ardian yang mulai tersulut emosinya


"Mas, dengarkan saya dulu...Semua ini salah saya, Renata tak bersalah ia masih selalu setia padamu." ucapan Hendra membuat Ardian berpikir ulang


"Apa maksudmu?" tanya Ardian penuh selidik, lalu menyuruh mereka duduk


Hendra mulai menceritakan secara detail pada Ardian, mulai awal dia tiba di kota ini, dan kemudian tanpa bisa mengendalikan diri datang ke rumahnya. Hendra juga bercerita bagaimana pada mulanya Renata menolak kedatangan nya, lalu dia berusaha menyudutkan Renata hingga terjadilah adegan yang dilihat oleh Ardian dan membuatnya murka itu.


"Percayalah mas, dia sangat setia padamu dan tak berniat sedikitpun untuk menghianati mu, ini semua murni kesalahan ku." ucap Hendra meyakinkan

__ADS_1


Ardian berdiri dan mulai mendekati Hendra, matanya menatap tajam wajah Hendra dengan penuh amarah. Hendra tetap terdiam saat tangan Ardian mulai mencengkeram kerah bajunya, dan menariknya berdiri dari kursi.


"Dasar breng sek..." Ardian melayangkan bogem mentahnya ke wajah Hendra karena tak mampu menahan lagi emosinya


Hendra tersungkur dengan sudut bibir yang berdarah, Anita membantunya bangkit dan berdiri di sebelah Hendra serta mengusap darah dari sudut bibirnya.


"Mas, saya tahu suami saya salah...tapi saya mohon maafkanlah dia." ucap Anita pelan


"Kamu sudah punya istri sebaik dia, kenapa masih harus mengganggu hidup Renata. Bukankah kalian sudah berkomitmen, kenapa kau melanggarnya. " ucap Ardian yang masih nampak emosi


"Maafkan saya, ...saya mengaku khilaf, setelah ini saya tak akan lagi menemui Renata sampai tiba waktunya sesuai dengan komitmen kami." kata Hendra dengan sungguh-sungguh, sebelum Ardian menjawabnya terdengar ponselnya berdering


Kringgg...


"Siang Bu, ada apa ?" Ardian segera menjawab telepon dari Ibunya Renata


"Nak, Ibu sangat khawatir...dari pagi tak ada jawaban dari Renata, dua hari ini ia tak keluar kamar, tak juga mau makan namun masih menyahut. Tapi sejak pagi ini benar-benar tak ada suara dari dalam kamar." jelas Ibu dengan nada yang sangat cemas


"Ardian akan segera ke sana Bu,..." ucap singkat Ardian menutup percakapan dengan raut muka cemas


###


"Ibu, bagaimana Renata?" tanya Ardian segera begitu masuk rumah diikuti Hendra dan Anita


"Kenapa mereka ikut ke sini?" tanya Ibu saat melihat keduanya berjalan di belakang Ardian


"Tak usah hiraukan mereka dulu Bu, yang penting sekarang keadaan Renata." ucap Ardian terus bergegas menuju kamar Renata


Ardian mencoba mengetuk pintu dan memanggil Renata namun tak ada sahutan. Hingga berulang kali mengetuk tak ada jawaban, kini Ardian menggedor pintu cukup keras namun tetap saja nihil.


"Biar saya dobrak saja, mas." ucap Hendra tanpa minta persetujuan sang empunya rumah


Hendra mulai mendobrak pintu yang cukup kokoh itu, semua orang yang ada di sana sangat khawatir. Setelah tiga kali coba mendobrak akhirnya pintu terbuka, dan membuat semua orang terperanjat.


"Rena,..." Ardian langsung menghambur ke arah Renata yang tergeletak di lantai tak sadarkan diri

__ADS_1


"Rena, bangun sayang." Ardian mencoba membangunkan Renata


"Kita bawa ke rumah sakit segera mas, biar saya yang nyetir." ucap Hendra yang ikut panik langsung keluar menuju mobil


Sementara Ardian segera mengangkat tubuh Renata, menggendong nya ke mobil yang telah menyala. Ibu dan juga Anita pun ikut serta masuk ke dalam mobil, tanpa pikir panjang Hendra langsung melajukan mobilnya cukup kencang menuju rumah sakit terdekat.


"Dokter, tolong istri saya." ucap Ardian membopong tubuh Renata masuk ruang IGD


Ardian lantas meletakkan tubuh Renata diatas brankar, suster dan dokter mulai melakukan pemeriksaan. Sedangkan Ardian, Hendra, Anita dan Ibu menunggu di luar dengan perasaan sangat cemas.


Setelah menunggu sekian lama akhirnya dokter keluar, Ardian segera menghampirinya. Dengan raut wajah cemas ia mulai mendengarkan penjelasan dokter.


"Asam lambung istri anda naik, kondisinya cukup mengkhawatirkan. Karena sebelumnya dia punya riwayat menderita maag, jadi mudah memicu naiknya asam lambung. Dan sepertinya kondisi psikologisnya kurang baik, dia terlihat sangat stress atau bahkan mendekati depresi, ini salah satu pemicunya selain telat makan." jelas Dokter pada Ardian


"Tolong dokter, upayakan yang terbaik untuk istri saya." pinta Ardian pada dokter


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, kondisinya memang belum stabil tapi sudah sadar dan akan segera dipindahkan ke ruang rawat." jawab dokter


"Bolehkah saya menemuinya." tanya Ardian kemudian


"Silahkan, tapi satu orang saja, dan jangan terlalu banyak bicara dengannya dulu, karena kondisi psikis nya juga labil." pesan dokter lalu meninggalkan tempat tersebut


"Ibu pulang ke rumah saya saja, titip anak-anak, biar Hendra dan istrinya mengantar Ibu, saya akan menunggu Renata disini." ucap Ardian menatap Ibu dan beralih ke Hendra


"Aku akan tetap disini, Renata pasti ingin aku ada disini." Ucap Hendra yang tak dapat mengendalikan dirinya


"Si alan...Apa kamu kira Renata akan mati, belum saatnya kamu ada disini." Ardian tersulut emosi mendengar ucapan Hendra


"Hen, mas Ardian benar...kita pulang saja. " ucap Anita memegang lengan Hendra mencoba menenangkan


"Hendra, kita pulang...biarlah Ardian yang menemani istrinya. Aku janji akan memberi kabar perkembangan kesehatan Renata." Ibu ikut menenangkan hati Hendra, ia tahu bagaimana sifat pria dingin ini jika hilang kendali


"Ingat janji mu dan pegang ucapan mu tadi, jangan pernah temui Renata lagi sampai waktunya." Ingat Ardian menatap tajam wajah Hendra dengan amarah


"Aku..." ucapan Hendra terpotong oleh Anita yang meletakan jari telunjuknya di bibir Hendra

__ADS_1


"Sayang, tenangkan dirimu...kita pulang." ucap lembut Anita penuh perasaan


__ADS_2