
Disaat Anita dan Andi sedang mempersiapkan pernikahan mereka, Renata tampak masih setia dengan rutinitas barunya yang telah berlangsung selama sepuluh tahun terakhir, yaitu mengadakan acara syukuran bersama anak-anak asuhnya di hari lahir Hendra.
Renata memang telah mengangkat beberapa anak asuh, dengan atas nama Hendra, bagi anak-anak asuhnya Renata adalah ibunya dan Hendra ayahnya. Disaat hari lahir Hendra, tepat saat Renata selalu mengalami may syndrome lebih tepatnya lagi setiap tanggal 29 Mei, Renata dan beberapa anak asuh serta Ardian dan juga anaknya sendiri, mengadakan acara syukuran, berdoa bersama dan mengunjungi makam Hendra.
Renata selalu menanamkan pengertian pada anak-anak asuhnya, bahwa ayah mereka yaitu Hendra adalah pria yang pemberani, tangguh, bertanggung jawab dan setia. Meski dikenal sebagai pria yang dingin namun dia begitu baik dan peduli pada sesama apalagi pada orang-orang yang dicintainya.
"Mas, hari ini aku ingin sendiri dulu disini, kalian semua bisa pulang dulu..." ucap Renata pada Ardian saat mereka semua berada di makam Hendra
"Baiklah sayang, aku akan menjemput mu 2 jam lagi..." jawab Ardian menye sap pundak istrinya
"Agak sore aja, mas..." sahut Renata yang ingin berlama-lama di tempat itu
"Tapi sayang, apa itu tidak terlalu lama, ingatlah jangan terlalu larut dalam kesedihan....dia sudah tenang disana, dan pasti merasa sangat bahagia dengan apa yang telah kau lakukan untuknya. " kata Ardian mengingatkan
"Iya mas, aku hanya ingin ngobrol dengannya....aku janji nggak akan ada air mata. " ucap Renata tersenyum kecil
"Baiklah, kami pulang dulu..." ucap Ardian sambil mengecup kening istrinya dan berlalu pergi bersama anaknya dan anak-anak asuhnya
__ADS_1
Setelah mereka semua pulang kini tinggallah Renata seorang diri disana, ia duduk di samping nisan Hendra dan mengusapnya lembut. Meski telah lama berlalu, bagi Renata seperti baru kemarin ia masih menemaninya di rumah sakit.
"Hen, apa kabar?" lirih Renata sambil mengusap lembut nisan Hendra
"Selamat ulang tahun, sayang..." ucap lembut sambil mencium perlahan nisan bertuliskan nama Hendra
"Semoga kamu bahagia di sana, apa kau lihat anak-anak kita tadi, meski mereka hanya anak asuh kita tapi mereka sangat menyayangi mu tanpa harus mengenal mu lebih dulu." ucap Renata tersenyum bahagia
"Sayang, meski kamu berada di sana tapi kamu selalu temani aku dalam mendidik dan mengasuh mereka, aku juga sangat bahagia karena mas Ardian sangat mendukung ku." kata Renata dengan raut wajah penuh kebahagiaan
"Hen, tahun ini adalah tahun kesepuluh sejak kau pergi dan tahun ke dua puluh lima sejak pertama kali kita bertemu dan saling jatuh cinta, dan aku janji untuk tahun-tahun berikutnya aku akan selalu bersamamu." ucap Renata pelan sambil terus mengusap lembut nisan Hendra
"Hen, meski Anita dan aku sudah berusaha move on tapi kamu akan selalu berada di hati kami. Apalagi bagiku kamu adalah cinta pertama sekaligus cinta abadi ku, kamu adalah pemilik hatiku meski mungkin Tuhan tak mengirim mu untuk menjadi pendamping hidupku, namun sampai kapan pun kamu akan selalu tersimpan di hati ku." lirih Renata berkaca-kaca tapi berusaha tersenyum
"Hen, apa kau tahu....aku menulis sebuah novel tentang kamu, tentang kisah kita berdua. Dari sejak awal kita yang sama sekali tak saling mengenal meski telah dua tahun di sekolah yang sama, kemudian untuk pertama kali kita bertemu dan saling jatuh hati, semua perjalanan cinta kita dan juga air mata yang menghiasi kisah percintaan kita. Semua aku tulis lengkap di novel ini, seandainya saja kau masih di sini pasti akan ku minta untuk me review nya. " Renata mulai bercerita pada Hendra dengan terus mengusap lembut nisannya
"Novel ini aku persembahkan hanya untukmu, Hen...aku menjadikannya sebagai kenangan indah yang tak pernah lekang oleh waktu. Di saat aku sedang merindukan mu maka aku selalu membacanya lagi, entah sudah berapa kali aku mengulangnya. " lanjut Renata sangat antusias
__ADS_1
"Hen, sampai saat ini aku juga masih menderita may syndrome, saat memasuki bulan kelahiran mu aku selalu teringat padamu, bahkan tiap hari aku merasakan seperti kau ada di sebelah ku, bersama ku setiap waktu. Pernah suatu hari mas Ardian marah karena aku selalu menyebutnya sebagai kamu, aku selalu berhalusinasi tentang mu, dan itu seperti nyata hanya di bulan mei. Makanya tiap tahun di tanggal 29 Mei aku selalu mengadakan acara doa bersama untuk mengenang mu, agar kau tenang di sana seperti saat ini aku akan seharian menemani mu di sini." ucap Renata sambil tersenyum menatap pusara Hendra
"Hen, hingga saat nanti tiba waktu ku untuk menyusulmu di sana, aku ingin kamu tak merasa kesepian, aku ingin kamu selalu bahagia dan tersenyum lepas, tak seperti waktu masih di dunia ini kau jarang sekali tersenyum. Jangan lagi menjadi pria dingin seperti dulu, tersenyumlah karena kamu terlihat begitu tampan dengan senyum di bibir mu." ucap Renata dengan suara lembut dan tersenyum bahagia
"Sayang, sudah sore....kita pulang sekarang." ucap Ardian yang ternyata sudah berada di sebelahnya
Ardian merasa sangat terharu saat melihat Renata sedang memeluk nisan Hendra dan tersenyum bahagia, mereka berdua seperti sedang ngobrol asik. Untuk sesaat ia hanya berdiri terpaku, saat Renata belum menyadari kedatangannya.
"Hen, mas Ardian sudah datang menjemput ku..." kata Renata sambil menatap ke arah Ardian
"Tenang dan bahagia lah di sana, aku pulang dulu.....sampai jumpa cintaku, pemilik hatiku. Jika aku masih di dunia ini kita akan ngobrol lagi dan aku akan menemani mu lagi disini, di tanggal 29 Mei tahun depan." ucap Renata sambil bangkit berdiri dari duduknya
"Sayang, aku begitu terharu melihat mu yang masih begitu besar mencintai nya, cinta kalian memang abadi, tak terpisahkan jarak dan waktu meski telah beda dimensi namun cinta kalian tetap terjaga dengan baik. " kata Ardian menatap lembut wajah istrinya
"Mas, kamu tidak sedang cemburu padanya kan..." sahut Renata meraih tangan Ardian dan menggenggam nya erat
"Tidak sayang, aku kini telah menyadari cinta mu padanya tak tergantikan... cinta kita dan cinta mu padanya adalah dua hal yang berbeda. Terima kasih telah mencintaiku dan tetap berada disamping ku hingga kini dan untuk selamanya. " ucap Ardian sambil mencium kening istrinya mesra
__ADS_1
"Sampai jumpa, Hen....aku akan menjaga selalu Renata mu, tenang lah di sana...." lanjut Ardian menyentuh nisan Hendra dan kemudian menggandeng mesra tangan Renata dan berjalan meninggalkan pusara Hendra