
Si boss menceritakan pada dokter kronologi hilangnya Hendra dengan detail, secara dokter Arya merupakan salah satu orang yang bisa dekat dengan Hendra. Ia serasa tak percaya orang setangguh dan sekuat Hendra bisa bernasib tragis seperti ini.
Dokter Arya adalah saksi hidup betapa tangguhnya Hendra, entah sudah berapa puluh kali ia selalu menangani Hendra jika mengalami cedera, bahkan beberapa kali luka tembak. Ia sangat tahu betul betapa kuatnya tubuh Hendra, maka dari itu saat ini Hendra pasti bisa bertahan.
"Aku yakin Dia bisa bertahan,...aku tahu orang seperti apa dia." ucap Dokter Arya yakin setelah mendengar cerita si boss
"Aku juga yakin dia baik-baik saja, aku akan kerahkan anak buah ku lebih banyak lagi." sahut si boss tegas
"Kalo di ijinkan aku akan ikut pergi ke pulau X untuk membantu, siapa tahu dia butuh penanganan medis dari ku." ucap Dokter Arya minta persetujuan dari si boss
"Baiklah, besok pagi ikutlah berangkat bersama beberapa orang pengawal terbaik ku." si boss memberi ijin
"Hen...Hendra." lirih Anita saat terbangun dari pingsannya
"Anita, tenang lah...aku janji akan terus melakukan pencarian, dia orang yang tangguh pasti bisa bertahan. " si boss mencoba menenangkan hati Anita
"Paman, aku ingin ikut kesana, ..." pinta Anita pilu
"Anita, kamu tetap disini saja bersama Junior, berdoalah semoga Hendra segera ditemukan. Percayakan kepada ku, aku akan berusaha semaksimal mungkin. " jelas si boss memberi pengertian pada Anita
"Anita, kuatkan dirimu...jaga kesehatan mu jangan sampai nge drop, saat ini Junior sangat membutuhkan mu. Aku yakin kamu wanita yang kuat, sama seperti suamimu itu." Dokter Arya ikut menenangkan Anita
Saat ini Anita merasa sangat lemah, ia sangat takut akan kehilangan Hendra. Tiap hari ia lalui dengan rasa cemas dan khawatir, bagaimana tidak meskipun si boss sudah menambah tim untuk mencari Hendra, namun sampai kini hasilnya masih nihil.
Satu bulan berlalu tapi belum ada kepastian tentang kondisi Hendra, apa dia masih hidup atau sudah mati. Hal ini semakin melemahkan hati Anita, seandainya tidak demi Junior rasanya ia ingin mati saja.
"Hendra, kamu dimana...pulanglah Dad, aku dan Junior sangat merindukan mu." lirih Anita yang sedang menidurkan Junior
Air mata Anita tak berhenti menetes, hampir tiap saat bila mengingat suaminya pasti ia akan terisak pilu. Dadanya semakin sesak jika mengenang hari-hari terakhir nya bersama Hendra yang bahagia, disaat dia mulai bisa menerima Anita.
Anita tiba-tiba saja teringat akan Renata, entah mengapa ia ingin sekali berbagi padanya. Anita menghubungi mertua nya untuk meminta nomer kontak Renata, namun ia sengaja tak memberi tahu tentang hilangnya Hendra kepada mertuanya itu.
__ADS_1
"Hallo, Renata..." sapa pelan Anita saat menghubungi ponsel Renata
"Maaf, ini dengan siapa ya?" tanya Renata saat menerima panggilan dari nomer tak dikenal
"Ini aku Anita, ..." ucap Anita pelan
"Anita...istrinya Hendra?" tanya Renata kaget tak menyangka
"Iya Ren, ....maaf mengganggu mu." jawab pelan Anita
"Ah nggak kok, apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Renata penasaran yang mendengar lirih isak tangis Anita
"Ren...Hendra, Ren..." ucap Anita sambil terisak
"Hendra...ada apa dengannya?" tanya Renata yang semakin penasaran
"Hendra menghilang, sudah sebulan lebih tak ada kabar?" ucap Anita yang isak tangisnya semakin jelas di dengar oleh Renata
"Kok bisa, bagaimana ceritanya..." sahut Renata yang mulai cemas mendengarnya, jantungnya berdebar kencang
"Ren, aku harus bagaimana...aku tak sanggup kalo harus kehilangan dia." isak Anita pilu
"Anita, aku tahu apa yang kamu rasakan. Aku akan meminta ijin mas Ardian agar bisa mengunjungimu, ..." ucap Renata mencoba memberi support pada Anita, meski sebenarnya dia kini juga merasa hatinya berdesir perih mendengar berita ini
"Terima kasih Rena, aku akan menunggu kedatangan mu, aku benar-benar butuh tempat berbagi saat ini. Oh ya tolong jangan beritahu Ibunya Hendra dulu, aku khawatir beliau akan shock nanti." ucap Anita pelan dan serak akan terlalu banyak menangis
"Iya Anita, aku usahakan secepatnya, tolong kabari aku jika ada berita tentang Hendra." Renata berkata sambil menahan tangis
Setelah mendapat kabar dari Anita, kini Renata menjadi tidak tenang, hatinya tak kalah teriris mendapati kenyataan ini. Tak bisa dipungkiri lagi, Hendra adalah penghuni hatinya yang dari dulu hingga sekarang masih betah berada disana. Air matanya tak berhenti mengalir, ia mulai mengenang lagi kisahnya dengan Hendra.
"Hen, bertahanlah apapun keadaan mu saat ini...tolong tepati janjimu, jangan pergi dalam keadaan begini." lirih Renata berurai air mata
__ADS_1
"Sayang, kamu menangis..." ucapan Ardian mengagetkan Renata, ia tak menyadari suaminya yang telah datang dan masuk ke dalam kamar
"Mas..." Renata tiba-tiba memeluk erat tubuh Ardian yang berdiri di depannya dan isaknya semakin keras
"Ada apa sayang, katakanlah..." Ardian melepaskan pelukan Renata dan duduk di sebelah istrinya
"Maaf mas, kamu jangan berfikir macam-macam ya, ...Hendra mas," ucap Renata ragu, takut kalo suaminya akan salah paham lagi
"Hendra...kenapa lagi dengannya." sahut Ardian dengan raut muka tak senang
"Mas, jangan marah atau salah paham dulu, aku baru mendapat kabar langsung dari Anita." pinta Renata yang mulai menjelaskan
"Anita...istrinya Hendra ?" tanya Ardian penuh selidik
Renata mulai bercerita sesuai apa yang di dengar nya dari Anita, Ardian yang mendengar dengan serius menjadi prihatin juga dengan nasib tragis yang dialami Hendra. Meskipun selama ini Ardian menganggap Hendra sebagai saingan terberatnya, namun ia juga tak tega jika ia harus berakhir se tragis ini.
"Apa mungkin dia sudah mati?" Ardian keceplosan bicara
"Mas...kenapa kamu berfikiran sejahat itu. " ucap Renata keras menatap tajam wajah Ardian
"Ahh maaf, bukan begitu....maksudku apa dia bisa bertahan selama itu." ucap Ardian meralat ucapannya
" Mas, dia itu pria yang kuat...semoga saja ada seseorang yang berhasil menolongnya, karena jasadnya saja tidak ditemukan. Aku yakin dia masih hidup, entah dimana dan dengan siapa saat ini." ucap Renata mencoba tenang dan berfikir positif
"Ya semoga saja begitu, kamu jangan terlalu larut memikirkan ini ingatlah kesehatan mu." pelan Ardian mengusap kepala Renata
"Mas, bisakah aku pergi menemui Anita, saat ini dia sedang butuh teman." pinta Renata penuh harap
"Kamu kesana sendirian?, nggak bisa...lalu anak-anak gimana?" Ardian merasa keberatan
"Mas, aku akan minta Ibu untuk menemaniku...dan tolong sementara kamu urus dulu anak-anak, aku mohon mas,...." kata Renata mencoba memohon pada suaminya
__ADS_1
"Mas, aku mohon ijinkanlah..." lirih Renata menggenggam erat tangan suaminya
"Baiklah, ajak Ibu tapi jangan lama-lama." Ardian akhirnya mengijinkan meski hatinya terasa berat, namun demi kemanusiaan ia biarkan Renata untuk memberi support pada Anita