Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Mati rasa


__ADS_3

Malam itu akhirnya semua telah diselesaikan, Ardian dan Renata memutuskan untuk tak memperpanjang masalah ini. Renata dengan ikhlas memaafkan Dewi, hingga membuat Dewi sangat menyesal dan merasa sangat berdosa karena mencoba menghancurkan rumah tangga mereka.


"Terima kasih Rena, dan sekali lagi maafkan aku..." ucap Dewi yang kemudian pamit untuk segera pulang


" Iya mbak, hati-hati dijalan...semoga ke depannya mbak Dewi selalu mendapat kebahagiaan. " sahut Renata tersenyum lega


" Oke, kalo begitu aku juga pamit sudah malam ." ucap Rendy pada keduanya


"Sekali lagi terima kasih banyak, Rendy...tanpa kamu mungkin semua ini belum akan berakhir." kata Ardian pada teman baiknya itu


"Rendy, terima kasih atas semua usaha dan dukungan mu, kami sangat berutang budi padamu." ucap Renata tulus


"Iya sama-sama, tenang aja kita ini kan sudah seperti saudara." sahut Rendy kemudian berjalan keluar meninggalkan rumah Ardian


Setelah Rendy pulang, Ardian kemudian mengunci pintu dan mengecek semua pintu dan jendela sudah terkunci dengan benar. Begitu dirasa semua telah dicek ia pun kemudian masuk ke dalam kamar, dilihatnya Renata tengah duduk termenung di tepi ranjang. Ia menatap kosong, dan begitu mendekat Ardian dapat melihat istrinya itu sedang meneteskan air mata.


"Kamu kenapa sayang, apa yang membuatmu menangis?" tanya Ardian ikut duduk di sebelah istrinya


"Mas, maafkan aku....aku merasa sangat berdosa karena tak pernah percaya padamu dan semua yang telah terjadi padamu." jawab Renata menatap lembut wajah suaminya


" Sudahlah, bukannya kamu sendiri yang bilang untuk melupakan semua ini, anggap saja tak pernah terjadi."ucap Ardian mengusap air mata dikedua pipi Renata


"Tapi mas, aku merasa telah berlaku kejam dan tidak adil padamu, selama lebih dari tiga bulan ini terus menjauhi dan acuh padamu." kata Renata merasa sangat bersalah


"Iya kamu memang kejam, ingatkah saat bodyguard mu itu menghajar ku habis-habisan..." ucap Ardian menatap lembut wajah Renata sambil tersenyum kecil


"Ahh mas, kamu mengingatkan ku lagi betapa kejamnya aku padamu, seharusnya aku tak membiarkan dia melakukannya padamu, maafkan aku..." lirih Renata kemudian menundukkan kepala

__ADS_1


"Bukan luka-luka itu yang membuatku sakit, tapi saat harus melihat kedekatan mu kembali padanya, hatiku merasa sangat pedih dan aku merasa takut kamu akan benar-benar meninggalkan aku dan kembali padanya." ucap Ardian memegang dagu Renata dan mengangkat nya, hingga kini ia jelas melihat wajah sedih istrinya itu tepat didepannya


"Mas, apapun yang terjadi kami akan selalu memegang teguh komitmen yang telah dibuat, apalagi kini aku kan berteman dekat dengan Anita, kami telah menganggap sebagai keluarga." jelas Renata menatap wajah Ardian


"Aku percaya padamu sayang, tapi kamu tetap harus dihukum....karena telah mengacuhkan aku selama ini, apa kau pernah sekalipun berfikir apa yang aku rasakan, betapa sangat tersiksanya aku meski tiap hari melihat tapi tak kuasa menyentuh mu." ucap Ardian menakup wajah Renata dengan kedua tangannya


"Aku tahu telah menyakiti dan mengecewakan mu, sebagai seorang istri aku merasa sangat berdosa. Apapun hukumannya aku rela menerimanya, asalkan kamu bisa memaafkan aku." kata Renata penuh ketulusan


"Tentu saja aku memaafkan mu sayang, dan semoga aku tidak mati rasa... dan masih bisa membahagiakan mu." sahut Ardian menaik turunkan alisnya menggoda Renata


"Ahh kamu mas, mulai genit..." singkat Renata mencubit pinggang Ardian


"Aduhh kau memancingnya, coba lagi agar aku yakin masih bisa me muas kan kamu..." lirih Ardian menatap genit istrinya


Renata tak menjawabnya, wajahnya merona dan darahnya berdesir, tak bisa di pungkiri ia memang juga sangat merindukan kehangatan suaminya itu. Ia mendekatkan wajahnya dan langsung melu mat bibir hangat di depannya.


"Mas, kenapa...." lirih Renata saat melepaskan bibirnya


"Aku tak bisa...." singkat Ardian pelan


"Apa maksudmu..." tanya Renata heran


"Maksudnya aku tak bisa menahannya lagi, bersiaplah terkulai lemas karena aku tak akan melepaskannya semalaman ini." senyum Ardian dengan wajah sayu penuh gai rah yang sudah terpendam begitu lama


"Ahh mas, ....pelan-pelan. " de sah Renata ketika Ardian mulai menerkamnya dengan beringas


###

__ADS_1


"Dina, tolong kamu bilang ke suster untuk memanggil dokter pengganti ku hari ini." ucap Dokter Arya secara tiba-tiba menghampiri Dina


"Iya, pak...tapi ada apa , kenapa anda terlihat buru-buru?" tanya Dina penasaran


"Aku harus menyusul Hendra, ia terluka tembak jadi aku akan merawat lukanya. Oh ya sebaiknya kamu jangan beri tahu Anita dulu, aku tak mau dia jadi khawatir." jawab Arya datar


"Apa, kenapa bisa tertembak, bagaimana kondisinya, tuan Hendra baik-baik saja kan?" tanya Dina bertubi terlihat begitu panik


"Heii,...kamu ini kenapa selalu saja bersikap lebay jika menyangkut pria dingin itu." sahut Arya dengan wajah penuh cemburu


" Bukan begitu, saya hanya sedikit khawatir saja ." lirih Dina menyadari perubahan raut muka Arya


"Bukan sedikit tapi lebay....kamu tahu kan betapa kuatnya pria dingin itu, tentu saja ia baik-baik saja hanya karena sebuah peluru. " ucap Arya sewot


"Kenapa pesona pria dingin itu masih betah berdiam di hatimu, apa yang kurang dari aku hingga sampai kini belum bisa meluluhkan hati mu. Tidak bisakah hatimu terbuka untuk ku, dan pernah kah sebentar saja kamu peduli padaku. Aku sangat mencintaimu dan apa aku salah jika mengharapkan mu." ucap Arya pelan dan mulai terbawa perasaan


"Maaf tuan, bukan begitu maksud ku,...anda sangat baik dan saya..." belum selesai Dina berkata Arya telah memotongnya


"Cukup sudah aku tak bisa lagi terus begini, sabar ada batasnya, Din. Setelah aku pulang nanti beri aku jawaban biar semua jelas, dan aku tak merasa di gantung begini." ucap Arya cepat dengan wajah sedikit muram kemudian bergegas pergi


"Tuan maafkan jika perkataan saya menyakiti hati anda, tolong jangan pergi dalam keadaan begini." kata Dina memegang lengan Arya yang hendak bergegas


"Lepaskan, aku harus segera berangkat jika tak mau pujaan hatimu itu kehabisan banyak darah." sahut Arya tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya


"Iya, tapi tolong hati-hati di jalan....saya akan menanti kepulangan anda." ucap pelan Dina melepaskan tangannya dari lengan Arya


Arya tak menjawabnya, ia menatap wajah gadis muda di hadapannya itu. Ia memang sangat mencintai nya bahkan sejak pertama kali melihatnya waktu itu. Dan ia pun tahu jika Dina memang punya perasaan pada Hendra, namun ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa meluluhkan hati gadis muda itu.

__ADS_1


"Tuan Arya,...tahukah anda jika saya pun mulai jatuh hati pada anda..." lirih Dina menatap kepergian Arya


__ADS_2