Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Cermin


__ADS_3

"Kamu yakin bi....lihat lagi, jangan sampai salah." ucap Hendra tampak tegang dan kaget


"Benar tuan, saya yakin...memang pria ini." jawab bibi sangat yakin


"Oke, sekarang kita dapat petunjuk tentang siapa Andi." kata Arya tersenyum senang


"Tunggu, maksudmu Andi adalah pengagum rahasia Anita?, kok bisa...darimana ia tahu tentang istriku, dan lagi Anita sama sekali tak mengenalnya." ucap Hendra bingung


"Anita, apa kamu sungguh tak mengenal Andi?" tanya Arya melihat ke arah Anita


"Tidak Arya, seingat ku aku tak pernah mengenalnya..." jawab Anita sangat yakin


"Anita, sejak kapan kamu memperoleh kiriman bunga seperti itu?" tanya Hendra kemudian


"Sejak tahun pertama pernikahan kita aku sudah menerimanya, makanya aku pikir itu dari kamu." jawab Anita mencoba tenang


"Arya, bagaimana menurutmu...jika dia sudah menerimanya sejak tahun pertama pernikahan ku, berarti dia sudah tahu siapa aku dan bahkan selama ini terus memantau ku." ucap Hendra mengerutkan kening


"Iya pasti, tapi dari mana ia mengenal Anita...sedangkan Anita saja tak pernah tahu tentang dia." sahut Arya dengan wajah penuh penasaran


"Ahh, breng sek....Aku tak mau berfikir lagi, langsung saja bertemu dan interogasi dia secepatnya." ucap Hendra yang sudah mulai emosi


"Tenanglah, jangan gegabah....kali ini yang kau hadapi seperti cermin, menurutku dia sangat mirip dengan mu." kata Arya mengingatkan Hendra


"Lebih baik kamu bersikap biasa dulu, seolah-olah belum tahu tentang semua ini, jika sudah tepat waktunya baru kita interogasi dia." lanjut Arya memberi saran


"Tapi aku tak bisa jamin itu, ....apa aku bisa mengendalikan diri saat bertemu dengannya. " jawab Hendra mencoba tenang


"Sudahlah kamu kan profesional, pasti tahu langkah selanjutnya yang penting kita sudah dapat petunjuk. Aku pulang dulu, semoga berhasil dan jangan lupa selalu kabari aku." kata Arya yang kemudian pamit untuk pulang

__ADS_1


Hendra mengantar Arya sampai ke depan, sedangkan Anita langsung masuk ke kamarnya. Ia menangis karena merasa bersalah, meski tanpa disadari semua ini karena dirinya. Anita terus berusaha mengingat wajah Andi dalam foto itu, tapi belum berhasil juga, ia sama sekali merasa tak pernah bertemu apalagi mengenalnya.


"Mom, kamu menangis?" tanya Hendra yang duduk di sebelahnya sambil menghapus air mata di kedua pipi Anita


"Maafkan aku, jadi semua ini karena aku...dan juga insiden kamu dulu apa juga dia yang merencanakan. " ucap Anita pelan sambil memeluk tubuh Hendra


"Ini bukan salahmu mom, tidak perlu minta maaf...Aku janji akan mencari tahu motif dibalik semua ini." kata Hendra mengusap kepala istrinya


"Aku sama sekali tak mengenalnya, percayalah padaku..." Anita menatap dalam mata Hendra penuh ketulusan


"Aku percaya padamu....Maafkan aku yang selama ini tak pernah memperhatikan mu, meski di hari ulang tahun mu. Jika aku lebih peduli padamu mungkin semua ini tidak akan terjadi." ucap Hendra menakup wajah Anita dengan kedua tangannya dan menatapnya lembut


"Tak perlu minta maaf, aku sangat mengerti dengan sikap mu, Dad. Aku mencintaimu dan menerima mu apa adanya sampai kapan pun." kata Anita tulus dan berusaha untuk tersenyum


"Bisakah kau hubungi Renata, barangkali ia tahu sedikit informasi tentang Andi." ucap Hendra tampak tenang


"Renata?" tanya Anita memastikan


"Kalo begitu kamu saja yang menghubunginya sendiri, kamu lebih tahu apa yang harus ditanyakan padanya." ucap Anita menatap lembut suaminya


"Tapi..." sahut Hendra ragu


"Aku tak apa-apa, dan lagi semua ini demi menyelesaikan masalah kita. Aku percaya padamu, Dad..." kata Anita tersenyum kecil


"Terima kasih atas kepercayaan mu, mom....sekali lagi maafkan aku yang belum bisa menjadi suami yang baik untukmu. " ucap pelan Hendra mengecup kening Anita


###


Setelah mendapat petunjuk bahwa selama ini Andi selalu mengirimkan bunga di hari ulang tahun Anita, membuat sikap Hendra berubah saat bertemu dengan Andi di kantor. Sebisa mungkin ia bersikap tenang sambil terus memperhatikan setiap gerak gerik Andi.

__ADS_1


"Rena, ini aku Hendra. Maaf jika mengganggu mu, aku hanya ingin tanya apa kamu masih berhubungan baik dengan Andi, dan bagaimana kabar dia sekarang?" tulis Hendra saat mengirim pesan pada Renata


Hendra memang sengaja hanya mengirim pesan, ia tak berani untuk berbicara dengan Renata meski hanya lewat ponselnya. Selain tak ingin ada lagi salah paham, ia juga tak ingin terbawa perasaan karena tiap kali berhubungan langsung baik bertemu maupun hanya bicara saja, maka hatinya mulai menggelitik dan perasaannya tak bisa terkendali.


"Iya Hen, nggak mengganggu kok. Kenapa tiba-tiba kamu bertanya tentang Andi?" tulis Renata bertanya balik dalam balasan pesannya


"Aku tak bisa cerita sekarang, jadi tolong jawab pertanyaan ku saja." balas singkat Hendra


"Setahu aku, dulu setelah lulus kuliah dia pergi meninggalkan kota ini, dan aku juga sempat bertemu dengannya untuk terakhir kali, dia hanya bilang ingin move on seperti kamu. Hanya itu saja, setelah berpamitan besoknya ia pergi dan hingga kini aku belum pernah bertemu lagi dengannya. " tulis Renata membalas pesan Hendra


"Hanya itu saja, ...dan apa tak pernah sekalipun ia menghubungi mu ?" tanya Hendra dalam pesan berikutnya


"Iya hanya itu, dan ia tak pernah sekalipun menghubungiku dan bahkan aku sama sekali tak tahu kabarnya sekarang." balas Renata lagi


"Baiklah, terima kasih untuk waktunya, Rena..." tulis Hendra


"Sebenarnya ada apa, Hen?" tanya Renata membalas lagi


"Maaf aku belum bisa jelaskan...sampai jumpa, Rena." tulis Hendra dan kemudian meletakkan ponselnya


Hendra menghela nafas panjang, ternyata ia tak mendapat informasi apapun dari Renata. Bahkan ia juga tak pernah tahu lagi kabar tentang Andi, tanpa disadari hatinya merasa lega dengan kenyataan itu, berarti antara Renata dan Andi memang telah tak ada hubungan apapun.


"Andi, siang ini ada waktu...bisa kita makan siang bersama?" tanya Hendra saat bertemu dengan Andi di depan ruangannya


"Maaf, Hen...aku ada sedikit urusan, gimana kalo besok saja, apa ada hal yang penting?" tanya balik Andi


"Ahh, nggak ada apa-apa kok...oke besok saja kalo begitu." jawab Hendra cepat dan keduanya kemudian masuk ke ruangan masing-masing


Siang itu Hendra yang penasaran dengan Andi, mengikuti kemana sebenarnya ia pergi. Ternyata Andi pulang ke rumahnya, Hendra berhenti di seberang jalan dan memperhatikan keadaan di sekeliling rumah tersebut. Rumahnya tak terlalu besar, kelihatan rapi dengan pekarangan yang cukup luas dan sangat terawat.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa dengan mu, Andi...kau membuatku sangat penasaran." gumam Hendra pelan pada dirinya sendiri


__ADS_2