
Minggu pagi yang cerah, Renata masih belum beranjak dari tempat tidurnya. Maklumlah sampai lewat tengah malam ia belum bisa tidur, bahkan mungkin hampir subuh.
"Rena,... sudah hampir jam sepuluh nak, ayo bangun sarapan dulu." panggil Ibunya dari luar kamar.
"Iya, Bu... sebentar lagi ya." sahut Renata
Renata belum jadi memejamkan matanya lagi ketika terdengar suara motor berhenti, tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu kamarnya.
"Rena,...ini ada teman kamu,nak." suara Ibu terdengar dari luar kamar.
"Iya, Bu sebentar." jawab Renata sambil bangkit dari tempat tidurnya.
Renata berjalan menuju ruang tamu, alangkah terkejutnya ia ketika melihat yang datang ternyata Deni.
"Deni, ada apa?" tanyanya seketika.
"Ren, bisa ikut aku sebentar, ini penting banget." ucap Deni dengan wajah serius.
"Sebentar aku mandi dulu."
Deni kelihatan tidak sabar, ia kelihatan sangat gelisah saat menunggu Renata selesai mandi.
"Bu, Renata pergi dulu ya..."
"Nggak sarapan dulu, nak?"
"Nggak usah, nanti di jalan aja."
"Ya sudah, hati-hati di jalan."
Renata belum tahu kemana Deni akan mengajaknya, ia tidak sempat bertanya karena Deni tampak sangat terburu-buru. Sekitar lima belas menit berkendara, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sakit.
"Kenapa kita ke sini, Den?" tanya Renata yang tampak bingung.
"Ikut aku, Ren...nanti juga kamu akan tahu."
Renata mengikuti Deni dari belakang, sebentar kemudian mereka sampai di sebuah kamar inap dengan jendela kaca. Hampir pingsan rasanya saat Renata melihat Hendra terbaring tak sadar dengan selang dimana-mana. Untung saja Deni segera menangkap tubuh Renata dan membawanya ke kursi.
"Sabar ya, Ren... Hendra belum sadar jadi belum bisa dijenguk." ucap Deni lirih sambil menenangkan Renata.
"Apa yang terjadi, kenapa dia jadi begini, Den?" tanya Renata yang tak kuasa menahan air matanya mengalir.
"Maafkan aku, Ren...ini semua memang salahku." Deni mulai menjelaskan.
"Kamu mungkin sudah tahu kalo kemarin sore aku dan Hendra duel dengan geng sekolah swasta. Saat itu Hendra lawan Andi, dan aku lawan Iwan salah satu anggota mereka." Deni berhenti sejenak
"Sebenarnya Hendra sudah menang lawan Andi, sedangkan aku sedikit kewalahan. Aku sempat tersungkur, dan Iwan ternyata berusaha curang, ia mengambil balok dan dihantamkan ke arahku. Hendra melihat kecurangan itu dan dengan cepat mendorong tubuhku, hingga dialah yang terkena hantaman tersebut." Deni menghela nafas panjang.
"Sekali lagi maafkan aku, Ren...aku yang salah."
"Semua sudah terjadi, Den... nggak ada yang perlu disalahkan." ucap Renata sangat lirih.
Entah sudah berapa lama Renata dan Deni menunggu Hendra sadar. Sedikit pun mereka tidak beranjak dari tempat duduknya. Bahkan Renata tidak mempedulikan suara perutnya yang keroncongan, maklumlah tadi pagi ia tak sempat sarapan.
###
Seorang perawat menghampiri mereka dan mengatakan bahwa Hendra sudah sadar dan sedang diperiksa dokter.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan teman saya, dokter?" tanya Deni ketika melihat dokter keluar dari ruangan.
"Pasien sudah sadar, kondisinya juga stabil. Daya tahan tubuhnya sangat bagus, saya yakin pasien akan pulih dengan cepat." terang dokter.
"Terimakasih, dokter... bolehkah kami menjenguknya?" tanya Renata.
"Oh tentu saja, silahkan." jawab dokter sambil berlalu meninggalkan mereka.
Renata dan Deni masuk ke dalam ruangan, terlihat Hendra sudah membuka matanya. Kini hanya ada selang infus saja di tangannya.
"Gimana keadaanmu, Bro." sapa Deni sambil menepuk pundak Hendra.
Hendra tidak menjawab sapaan Deni, dia cuma tersenyum kecil. Apalagi saat melihat Renata, ekspresi wajahnya sangat tidak enak.
"Hen, makasih ya kamu udah menyelamatkan aku, andai kamu gak ada mungkin aku udah wasallam." ucap Deni
"Iya, Den. emang jalannya harus begini." sahutan Hendra nyaris tak terdengar.
Renata hanya berdiri terdiam, ia merasa Hendra masih sangat marah padanya. Ingin rasanya ia mendekati Hendra, memegang tangannya dan menatap wajahnya.
Deni yang melihat ekspresi wajah keduanya mengerti kalo mereka butuh waktu untuk menyelesaikan masalahnya.
"Ren, aku keluar beli makanan dulu, dari tadi kamu juga belum makan." pamit Deni pada Renata.
Renata hanya menganggukkan kepala, ia menatap ke arah Hendra dan mulai mendekatinya. Ia mengambil kursi dan duduk di sebelah Hendra yang tengah terbaring.
"Hen, kamu masih marah padaku?" tanya Renata dengan sangat hati-hati.
Hendra sama sekali tak menjawab pertanyaan Renata, ia masih memalingkan wajahnya dari Renata.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang memecah keheningan, dan yang lebih mengejutkan lagi ketika melihat sesosok tubuh memasuki ruangan. Andi berjalan mendekati mereka.
"Ngapain kamu kesini ?" Ucap Hendra lirih dengan raut wajah penuh emosi.
"Gimana keadaan mu, Hen..." sapa Andi tenang meskipun ia melihat emosi di wajah Hendra.
"Pergi kamu dari sini." usir Hendra
"Sabar Hen,...aku tahu kamu tidak suka dengan kedatangan ku, aku ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja."
"Kamu mau memastikan kalo aku udah mati atau belum..." nada bicara Hendra penuh dengan kemarahan.
"Jangan begitu Hen, aku benar-benar menyesalkan semua ini terjadi." ucap Andi yang coba menenangkan Hendra.
"Kedatangan mu hanya ingin mengejek aku kan?"
"Apa maksudmu Hen? "
"Jangan kau pikir aku nggak tahu kalo kemarin kamu sengaja mengalah." Hendra sedikit bangkit dan bersandar pada bantal.
"Enggak,..aku nggak sengaja mengalah kok, tapi memang kamu yang menang Hen."
"Kau pikir aku bodoh apa...." Hendra masih belum bisa menurunkan emosinya.
"Hen, sabar....kamu masih sakit, tolong kendalikan emosi kamu." Renata memegang tangan Hendra untuk menenangkan.
"Hen, kamu sangat beruntung memiliki Renata di sampingmu,..dia wanita yang baik." ucap Andi
__ADS_1
"Bilang saja kalo kamu suka kan sama dia." ujar Hendra seketika.
"Iya...jujur aku memang suka sama Renata, tapi aku mencoba menerima kenyataan bahwa dia telah memilih kamu." terang Andi.
"Apa yang kamu lihat kemarin tidak seperti yang kau pikirkan, seandainya Renata mau mudah saja untuknya mengkhianatimu. Tapi Renata sangat menyayangi kamu, dia setia kepadamu."
"Jaga Renata baik-baik, Hen. Jangan sampai kamu menyesal nantinya." pesan Andi.
"Oh ya,... untuk masalah dengan Iwan kemarin, kami pasrah kalo kamu ingin melaporkan ke polisi."
"Aku pulang dulu..." pamit Andi sambil melangkah keluar ruangan.
Hendra menatap wajah Renata, ia raih tangan Renata dan menggenggamnya dengan erat.
"Maafkan aku Rena,... aku memang bodoh karena sudah menuduh kamu seperti itu. Aku sudah sangat menyakiti hati mu." ucap Hendra lirih sambil terus menatap wajah Renata.
"Aku juga salah, Hen. seharusnya aku nggak pergi disaat kamu sedang butuh aku." Renata membalas tatapan Hendra, terlihat mata Hendra berkaca-kaca.
"Rena, jangan pernah tinggalkan aku lagi, aku nggak sanggup jauh dari kamu." akhirnya air mata Hendra sudah tak tertahankan lagi.
"Aku akan tetap di sampingmu, Hen" Renata bangkit dan memeluk Hendra.
"Aku semakin cinta sama kamu, Renata..." bisik Hendra di telinga Renata.
Pelukan keduanya semakin erat, seperti tak ingin terpisahkan lagi. Hendra berulang kali mengecup kening Renata.
Kedatangan Deni telah benar-benar merusak suasana.
"Ehm..ehmm..., enak ya peluk-pelukan disini, sementara aku gak ada." ucap Deni yang tiba-tiba masuk ruangan.
"Ganggu aja sih, Den.." ucap Hendra yang tak mau melepaskan tangan Renata dari genggaman tangannya.
"Ya sorry kalo ganggu, ini aku udah susah payah beli makanan buat Rena, seharian ini dia belum makan apalagi tadi pagi juga gak sempat sarapan." jelas Deni sambil menyodorkan makanan kepada Renata.
"Kamu kok perhatian banget ke Rena, awas aja ya..." ancam Hendra dengan mata melotot.
"Awas apa.... emang kamu mau lihat dia sakit, gara-gara khawatir sama kamu sampai lupa kalo perutnya juga perlu diisi." balas Deni.
Ketiga orang ini semakin seru saja ngobrolnya hingga tak menyadari hari telah malam. Perawat meminta Deni dan Renata
untuk meninggalkan ruangan agar Hendra bisa istirahat.
"Hen, aku pulang dulu ya,...kamu istirahat biar cepat sembuh, biar cepat bisa masuk sekolah lagi." pamit Renata kepada Hendra.
"Iya, tuan putri ku...tapi sebelum pulang sun dulu dong..." rajuk Hendra.
"Ihh... malu dong ada Deni ini, besok aja kalo udah sembuh ada hadiah buat kamu." jawab Renata sambil mencubit lengan Hendra.
"Udah-udah ayo Ren aku antar pulang, kemalaman entar." ajak Deni yang merasa senewen melihat kelakuan temannya tersebut.
"Hati-hati Den, jaga tuan putri ku baik-baik."
"Beres pokoknya, aku kan udah merestui hubungan kalian." ujar Deni
"Emangnya kamu bapak ku...." sahut Hendra ketus.
Sepeninggal Deni dan Renata, Hendra tersenyum sendirian ia merasa sangat bahagia, karena hubungannya dengan Renata udah membaik. Ia merasa semakin cinta sama Renata, ia berjanji dalam hati untuk tidak akan pernah menyakiti hatinya lagi, tidak akan membuat Renata menangis lagi.
__ADS_1