
Sore itu sepulang menjemput anaknya ekskul, Renata sengaja mengajak anak-anak makan diluar karena hari ini suaminya lembur hingga larut malam, dan berpesan tidak usah masak buat makan malam. Sesekali ajaklah anak-anak makan diluar, begitulah pesan Ardian pada Renata.
Setelah selesai makan anak-anak mengajak Renata untuk mampir ke tempat main dulu, sudah agak lama juga sejak terakhir mereka ke tempat permainan ini.
"Mama nunggu di sini aja ya, inget kakak jaga in adek ya..." pesan Renata pada anaknya sambil duduk di stan minuman
"Iya ma...baik ma..." jawab mereka bersamaan
Selama menunggu anak-anak bermain Renata memesan minum dan membuka ponselnya, untuk mengatasi kejenuhan karena biasanya mereka betah banget main gamenya.
"Renata...benarkah ini kamu?" seorang ibu tampak mendekati Renata
"Ibu...!" Renata tampak terkejut begitu melihat ke arah suara dan segera berdiri
"Ya Tuhan...Renata, ibu nggak nyangka bisa ketemu di sini." ucap Ibu Hendra sambil memeluk Renata
"Ibu apa kabar, sudah lama sekali kita tidak bertemu." ucap Renata ketika melepaskan pelukan, dan kini keduanya duduk berhadapan
"Kabar Ibu baik nak...Kamu sendiri gimana, ceritakan pada Ibu keadaan mu." tanya Ibu
Belum sempat menjawab pertanyaan Ibu Hendra, anak-anak Renata datang menghampiri.
"Kakak, adek sini...salim dulu sama nenek!" pinta Renata pada anaknya
Kedua anak Renata langsung salim dan mencium tangan Ibu Hendra, beliau membalasnya dengan menciumi kedua pipi anak-anak tersebut.
"Anak kamu ganteng dan cantik Rena, mereka juga pinter dan sopan." puji beliau
"Ma, adek pengin main mandi bola, boleh nggak?" tanya kakak pada mama nya
"Boleh kak, tapi ditunggui ya adek nya, kakak jangan malah main sendiri." jawab Renata
__ADS_1
"Iya ma, kakak bakal jagain adek kok," ucap kakak beradik itu sambil berjalan kembali ke tempat bermain
"Renata, kamu beruntung ...Kini kamu mempunyai keluarga kecil yang bahagia, anak-anak yang pintar dan suami yang tentunya sangat menyayangi mu." ucapan Ibu terdengar sedih
"Iya Bu, ...ada apa Bu, kenapa Ibu jadi kelihatan sedih?" tanya Renata setelah melihat ekspresinya
"Seandainya saja Hendra bisa seperti kamu..." Ibu tak meneruskan ucapannya
Renata merasa tersentak dan jantungnya berdebar ketika Ibu menyebut nama Hendra. Ingatannya kembali lagi ke sosok yang sementara ini jarang ia bayangkan, namun ketika nama itu disebut jiwanya yang mulai tenang kembali bergejolak.
"Maksud Ibu...Oh ya bagaimana kabar Hendra, Bu?" tanya Renata mencoba menutupi perasaannya kini
"Kehidupan Hendra tak sebaik dan seberuntung kamu Rena, sejak kepergiannya dulu hingga sekarang belum pernah kembali ke sini...hanya sesekali berkirim kabar. Ibu sangat merindukannya." air mata Ibu mulai menetes
"Benarkah sama sekali Ibu belum bertemu lagi dengan Hendra?" tanya Renata penasaran
"Iya Rena, ...menurut kabar yang Ibu terima kehidupannya sekarang sangat keras dan menyerempet bahaya, ia menjadi seorang pengawal pribadi seorang pria kaya yang kabarnya adalah seorang mafia. Ibu juga tidak mengerti mengapa Hendra bisa terjun ke dunia tersebut, mungkin karena sifatnya yang dulu maka mudah sekali masuk ke dalamnya. " ucapan Ibu terhenti
"Sampai saat ini dia juga masih sendiri, dia tak ingin lagi berfikir tentang berumah tangga. Hari-harinya hanya berisi tentang pekerjaan, kekerasan, ketidak tenangan dan bahaya yang mengincar setiap saat. Ibu sangat khawatir dengan keadaannya." lanjut Ibu kembali
"Begitu ya Bu...mungkin belum bertemu jodohnya saja." ucap singkat Renata mencoba menata perasaannya yang menjadi tak karuan
"Biarlah mungkin inilah jalan yang terbaik untuk Hendra, Ibu yakin dia bertahan sampai sekarang karena memang hidup seperti inilah yang dia pilih." ucap tenang Ibu kemudian
Karena hari semakin malam, akhirnya Ibu Hendra pamit untuk pulang duluan. Kini Renata termenung seorang diri di tempat tersebut. Angan dan pikirannya flash back ke masa saat masih bersama Hendra. Namun ia segera menghentikannya, tak ingin terlalu jauh terbawa perasaan.
Renata memanggil anak-anak dan mengajaknya pulang, cukup rasanya waktu bermain hari ini. Kalo nggak begitu bisa-bisa sampai tempat ini tutup juga mereka belum beranjak.
###
Malam sudah larut, anak-anak telah tertidur lelap di kamarnya namun Ardian belum juga pulang. Renata mulai khawatir, suaminya itu memang kerap lembur tapi tidak selarut ini. Saat membuka ponselnya ternyata ada pesan yang masuk dari Ardian, dia tak ingin Renata menunggunya karena pulangnya mungkin lewat tengah malam.
__ADS_1
Renata kaget dan terbangun dari tidurnya, saat merasakan keningnya dicium Ardian.
"Baru pulang, mas?" ucap Renata saat membuka matanya
"Iya sayang, maaf jika sudah membuat mu khawatir." jawab Ardian duduk di tepi ranjang
"Tumben kok sampai malem banget." sungut Renata
"Maaf...tadi ternyata ada yang harus di revisi lagi, sebenarnya aku mau buat kejutan untuk mu, ehh ....malah jadi kemaleman. " ucap Ardian sambil menghela nafas
"Kejutan....apa?" tanya Renata penasaran
"Biar udah kemaleman nggak apa, tutup mata mu?" pinta Ardian pada istrinya
Renata menutup matanya seperti yang diminta oleh Ardian, sejenak kemudian ia membuka kembali matanya dan merasa sangat kaget melihat sesuatu ditangan Ardian.
"Sayang, ini spesial untuk mu." ucap Ardian sambil membuka sebuah kotak perhiasan
"Hadiah untuk mu yang telah setia mendampingi ku selama ini, telah menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anak ku. Hari ini 10 tahun telah berlalu, sejak aku mengucapkan ijab qabul dan menjadikan mu pendamping hidup ku." ucap Ardian sambil menatap mesra istrinya
"Tapi ini terlalu berlebihan mas, apa aku pantas menerima hadiah se mewah ini." jawab Renata
"Tak ada yang berlebihan untuk istri tercinta ku, malahan ini tak seberapa di banding dengan perjuangan mu selama ini. Aku sangat berterima kasih kepada mu, selama 10 tahun ini kamu telah menepati janji mu untuk belajar mencintai ku dengan tulus." Ardian mengenakan sebuah kalung ber liontin berlian ke leher istrinya
"Tapi aku belum bisa menjadi istri yang sempurna untuk mu, mas." ucap Renata pelan
"Tak ada yang sempurna di dunia ini sayang, yang penting kita bisa saling mengerti dan menerima segala kekurangan dan kelebihan masing-masing." ucap Ardian lembut
"Aku mencintaimu dan semakin sayang pada mu, aku ingin kamu mendampingi ku hingga maut memisahkan kita. " lanjut Ardian yang kini telah mencium lembut bibirnya
Renata tak sempat menjawab ucapan Ardian, bibirnya telah mendapat serangan lembut dari suaminya itu. Hari ini anniversary mereka yang ke 10, Renata pun ingin memberikan yang terbaik untuk Ardian.
__ADS_1
Keduanya memulai aktifitas panasnya, begitu selesai dengan bibir, turun ke leher jenjangnya dan untuk seterusnya Renata merasakan nikmat luar biasa ketika Ardian memberikan jurus-jurus baru untuk membangkitkan hasrat mereka, kini keduanya telah polos bagai sepasang bayi yang baru lahir.
Malam itu terasa membara oleh hasrat kedua nya, sensasional hingga mencapai puncak kenikmatan bersama berulang kali, bagaikan malam pertama untuk kedua kalinya. Hingga keduanya pun terlelap karena kelelahan.