
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tak terasa sudah lebih dari tiga bulan Renata menjadi istri Ardian. Hari-hari penuh senyum selalu berusaha diberikan Ardian untuk Renata. Renata benar-benar dimanjakan oleh suaminya itu, di hujani dengan perhatian, cinta dan kasih sayang yang luar biasa besar.
Ardian memang sosok pria penyayang yang dengan sabar memahami dan mengerti perasaan istrinya. Renata merasa sangat beruntung menjadi istri Ardian, pria yang sangat mengerti dirinya dan menerima segala kekurangan nya, mencintainya dengan tulus.
Meski telah menikah namun Renata tetap bekerja, mereka berangkat dan pulang bersama, kecuali kalo Ardian sedang ada meeting keluar kota. Seperti hari itu ia berangkat sendiri mengendarai motornya, Ardian bersama rekan setimnya sedang ada kerjaan di luar kota.
Sore itu sepulang kerja Renata mampir ke warung es buah langganan nya, cuaca memang cukup panas. Lagipula sejak menikah ia belum pernah mampir lagi ke sana. Renata mengambil tempat duduk di bangku pojok yang tidak begitu ramai, di bawah pohon yang cukup rindang.
"Renata, sendirian aja? " sapa Deni yang ternyata ada di tempat itu juga
"Hei, Den... duduk sini, kebetulan jadi ada temen ngobrol. " Renata meminta Deni duduk di depan nya
"Kok sendiri, suamimu emang kemana? " kepo Deni
"Nggak kemana-mana, kebetulan ada kerjaan di luar kota, jadi aku berangkat pulang sendiri. " jawab Renata datar
"Ohh... biasanya kalo pengantin baru kemana-mana selalu berdua. " sungut Deni
"Btw kamu juga sendirian aja. " Renata ganti bertanya
"Lhah, aku kan emang masih jomblo... punya sohib satu juga udah pergi. " jawab Deni sambil menyeruput es nya
"Sohib,... Hendra maksud kamu? " tanya Renata yang kaget diikuti anggukan kepala Deni
"Maksudnya Hendra pergi?...pergi kemana? " Renata jadi penasaran
__ADS_1
"Entahlah aku juga belum dapat kabar, dia bilang pokoknya pergi jauh dari kota ini, sejauh mungkin." Deni tampak jadi serius
"Emang kamu tahu kenapa dia pergi? " Renata ikutan serius
"Rena, kamu nggak tau atau pura-pura bloon sihh... ya tentu saja karena kamu. " Deni menatap tajam Renata
"Aku,... maksudnya apa tolong jelaskan padaku. " Renata mengernyit kan keningnya
"Hari itu setelah melihatmu resmi menikah... " ucapan Deni terhenti
"Maksudnya waktu pernikahan ku Hendra datang? " potong Renata
"Iya, dia datang tapi hanya mampu melihat dari kejauhan, dia tak sanggup melihatmu tersenyum bahagia bersanding dengan pria lain. Hatinya hancur berkeping-keping, perasaannya remuk redam menyaksikannya waktu itu. " Deni berhenti sejenak, ia melihat Renata telah berlinang air mata
"Dia benar-benar tak kuasa menahan sakit yang dirasakan saat itu dan segera bergegas pergi. Setelah hari itu dia memutuskan untuk pergi dari kota ini, dia tak sanggup lagi jika suatu saat nanti bertemu dengan mu meskipun tak disengaja. " lanjut Deni dengan raut sedih
"Jadi Hendra tak pernah memberi tahu kenapa dia harus berusaha membunuh perasaannya sendiri dan dengan sangat terpaksa menjauhimu? " tanya Deni kemudian
"Nggak, dia selalu mengatasnamakan perbedaan yang membuat hubungan kami jadi begini. " jawab Renata pelan
"Sebenarnya suatu waktu, Ibu mu pernah mendatangi Hendra, beliau memperingatkan Hendra untuk menjauhimu segera sebelum cinta diantara kalian semakin kuat. " jeda Deni
"Ibu, benarkah... tapi Hendra tak pernah mengatakan apapun padaku. " isak Renata
"Ibu mu bilang sampai kapanpun beliau tidak akan pernah merestui hubungan kalian, dan jika Hendra benar-benar mencintaimu maka ia harus rela berkorban dengan cara menjauhimu, demi kebaikan mu. " lanjut Deni
__ADS_1
"Saat itu Hendra merasa sangat hancur, untuk pertama kalinya dia mencintai wanita dengan begitu besar, disaat itu pula dia harus melepaskannya. Kamu tahu sendiri bagaimana Hendra, cowok berandalan, kasar, temperamen, dan bisa dibilang sadis, langsung bertekuk lutut didepan mu hanya dalam sekali pertemuan. " lanjut Deni masih dengan raut sedih
"Pada awalnya dia sangat yakin bisa berjuang untuk mempertahankan cinta kalian meski dengan perbedaan, namun saat tahu bahwa orang tuamu tak merestui maka ia menganggap semua akan sia-sia. Dia tak ingin kamu dan Ibu mu berselisih makanya tak menceritakan padamu dan memendamnya sendiri. " ucapan Deni terhenti saat melihat Renata mulai sesenggukan
"Tapi biarlah semua berlalu, biarlah hanya Hendra yang merasakan sakitnya yang penting baginya adalah kebahagiaan mu, Rena. Dia pernah bilang padaku bahwa untuk seumur hidupnya dia akan selalu mencintaimu, tak akan pernah ada yang bisa menggantikan cintanya padamu. " Deni menenangkan Renata
Renata benar-benar tak bisa mengendalikan perasaannya saat itu, tangisannya semakin kuat hingga dadanya sesak. Ia merasa sangat bersalah, dan egois karena telah membuat keputusan yang sangat menyakitkan hati Hendra. Ia tak pernah mencoba untuk mencari tahu kebenaran alasan Hendra, ia terlalu mudah menyerah dengan keadaan. Seandainya waktu bisa diputar kembali, ia tak akan membiarkan Hendra menderita sendiri.
"Kamu, baik-baik saja, Ren? " tanya Deni ketika Renata mulai pucat
"Sorry, Den... aku harus segera pulang, kepalaku terasa berat. " Renata bangkit dari duduknya
"Kamu beneran nggak apa-apa, perlu aku antar pulang? " tanya Deni khawatir
"Nggak usah, Den... aku bisa sendiri, makasih ya Den, tolong kalo kamu tahu keberadaan Hendra secepatnya kabari aku. " ucap Renata yang kemudian meninggalkan tempat tersebut
"Iya, Hati-hati Ren... "
Renata mengendarai motornya agak pelan, pikirannya sedang kacau dan kepalanya terasa pusing. Sesampainya di rumah, keadaan sudah cukup gelap dan lampu depan belum nyala, berarti Ardian belum pulang.
Setelah memasukkan motornya, ia langsung merebahkan badannya di sofa, ia sudah tak sanggup lagi berjalan menuju kamar. Pandangan matanya kosong menatap langit-langit rumah, air matanya menetes perlahan. Kepalanya terasa semakin berat, tubuhnya lemas tak bertenaga.
Bayangan Hendra muncul lagi, cerita Deni terasa masih mengiang di telinganya. Perasaan bersalah mengendap di dalam hatinya. Renata merasa kecewa pada dirinya sendiri, ingin rasanya ia berteriak sekeras mungkin memanggil nama Hendra, berharap dia bisa mendengarnya saat ini.
Batinnya menjerit dan mengumpat betapa bodoh dirinya, betapa lemah dirinya hingga menyerah begitu saja tanpa berjuang keras untuk mencari kebenaran dan menemani Hendra menghadapi rasa sakitnya seorang diri.
__ADS_1
"Hendra, entah dimana kamu saat ini, aku rindu padamu. Maafkanlah aku, Hen... yang terlalu egois dan hanya memikirkan perasaan ku sendiri. " lirih Renata dalam hatinya
"Jika waktu bisa kembali, aku akan memperbaiki semuanya,... Maafkan aku pemilik hatiku. " lirih Renata yang kemudian terlelap di atas sofa.