
Hendra sama sekali tak menggubris panggilan Andi, dia berlalu dengan cepat. Hendra tak bisa lagi menahan air matanya, sambil berkendara air matanya terbang tersapu angin.
Iya, Hendra telah memutuskan untuk menjauhi Renata, dia tak mau menyakiti hatinya kelak karena perbedaan ini.
"Renata, aku selalu menyimpan mu di dalam hatiku, selamanya." janji Hendra pada dirinya sendiri.
Hampir saja dia menabrak mobil di depannya, dia memang tidak konsentrasi. Pikirannya terbang jauh memikirkan hubungannya dengan Renata yang telah hancur. Yang memang dengan sengaja dia hancurkan, demi kebaikan Renata, itu menurut dia.
###
Hari ini pengumuman hasil ujian, hanya siswa kelas 3 yang masuk hari itu. Saat jam pengumuman tiba, dan ternyata sekolah Renata lulus 100 persen. Mereka semua tampak lega, perjuangan mereka selama ini berhasil.
Seperti kebiasaan anak-anak SMA , mereka meluapkan kegembiraan dengan corat coret baju seragam nya, baik dengan spidol bahkan pilox warna warni. Semua tampak bahagia tertawa lepas, kecuali Renata.
Diantara siswa yang ada ia tak melihat Hendra, ia mencoba mencari dan menanyakan pada teman-temannya.
"Ada yang lihat Hendra, nggak?" tanyanya setiap bertemu dengan teman Hendra.
"Kamu cari Hendra ya , Ren?" tanya Deni menghampiri.
"Iya, kok dia nggak kelihatan."
"Aku lihat barusan ia menuju tempat biasa kalian ketemu."
"Beneran Den,... oke aku ke sana. makasih ya..."
Renata bergegas menuju tempat tersebut, benar saja Hendra ada di sana. Dia tampak duduk terdiam tanpa ekspresi , wajahnya terlihat muram.
Hendra yang melihat kedatangan Renata seketika berdiri.
"Hendra tunggu..." cegah Renata sambil menarik tangannya.
"Tolong jangan menghindar lagi, aku ingin bicara" pinta Renata pelan.
Hendra hanya terdiam lalu kembali duduk, Renata mengikuti dengan duduk di sebelahnya.
"Hendra, kali ini tolong jawab pertanyaan ku...apa salah ku, Hen... kenapa kamu menghindari ku?" tanya Renata lirih.
"Nggak ada Ren, kamu nggak salah?" jawaban Hendra nyaris tak terdengar.
"Lalu kenapa kau perlakukan aku begini?"
__ADS_1
"Rena, belajarlah melupakan aku." ucap Hendra.
"Ini yang terbaik buat kamu, Rena."
"Baik menurut siapa, ... sikapmu sudah menyakiti aku?" air mata Renata sudah hampir tumpah.
"Andai kau tahu betapa hancurnya hatiku, orang yang ku sayang menjauhi ku tanpa alasan, menggantung cintaku tanpa tau apa salahku." air mata Renata kini mengalir deras tak terbendung.
Hendra benar-benar tak sanggup melihatnya, dengan pelan ia meraih tangan Renata dan menatap matanya yang basah.
"Maafkan aku Rena, aku tak bermaksud menyakitimu..." Hendra menarik nafas dalam-dalam.
"Aku menyayangimu sepenuh hati, tapi aku sadar ada perbedaan besar diantara kita." jelas Hendra.
"Aku juga tau perbedaan kita, aku bisa menerimanya dan aku yakin kita bisa menjalaninya." ucap Renata lembut.
Renata menatap dalam mata Hendra, wajah mereka sudah sangat dekat bahkan kini bibir mereka sudah menempel, Hendra benar-benar tak mampu mengendalikan hasratnya.
Dia dengan lembut ******* bibir Renata, rindunya yang tertahan selama ini akhirnya tersalurkan. Renata pun merasakan hal yang sama, ia mengimbangi permainan lidah Hendra. Namun tiba-tiba Hendra berhenti dan melepaskan bibirnya.
"Tidak Rena, jangan lagi...ini akan semakin sulit bagiku. Lupakanlah semuanya , maafkan aku cintaku." Hendra melepaskan tangannya.
"Jadi kamu benar ingin meninggalkan aku."
"Tapi sampai kapanpun aku tak rela kau tinggalkan seperti ini." Renata mencoba menahan air matanya.
"Maafkan aku cintaku, belahan hatiku, tapi aku harus pergi...." Hendra berdiri dan melangkahkan kaki meninggalkan Renata.
"Baiklah Hendra, kalo memang ini keinginan mu." desah Renata yang telah menyerah.
Renata tidak percaya dengan mudahnya Hendra mengakhiri semuanya. Dia membuat perbedaan sebagai alasan, tanpa mau mendengarkan pendapat nya dia memutuskan sepihak.
###
Sekolah akan mengadakan studi tour sebagai acara perpisahan, dan telah ditetapkan Bandung sebagai tujuannya. Hari yang ditunggu telah tiba, sesuai jadwal sore itu semua siswa telah berkumpul. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai kelasnya masing-masing.
Satu kelas akan bersama dalam satu bis, jadi hari itu ada 6 bis dalam rombongan sudah termasuk para guru pendamping. Bis berangkat berurutan mulai dari kelas A terdepan hingga kelas F yang paling belakang.
Semalaman perjalanan ditempuh, memang tak terasa karena mereka mengisinya dengan bercanda, tertawa dan bernyanyi bersama. Saat pagi hari akhirnya tibalah ditempat tujuan, sebelum menuju destinasi pertama mereka di beri kesempatan untuk membersihkan diri.
"Ren, kamu udah selesai mandinya?" tanya Nia yang melihat Renata sudah masuk kembali ke dalam bis.
__ADS_1
"Udah, kebetulan tadi nggak terlalu antri banyak, buruan sana ntar ketinggalan lho." ucap Renata melihat temannya yang terduduk.
"Masih ngantuk, Ren."
"Salah sendiri,...udah sana....."
Akhirnya tiba juga di destinasi wisata yang di tuju, semua siswa berhamburan ke segala arah, memisahkan diri bersama teman dekatnya sendiri-sendiri.
Semua tampak senang kecuali Hendra dan Renata. Walaupun berjalan bareng gengnya namun terlihat jelas kesedihan di wajah Hendra. Sedangkan Renata hanya berjalan berdua bersama Nia.
"Ren, ayolah kamu ini kenapa, ini saatnya bersenang-senang." ajak Nia
"Iya, Nia.... bergabunglah bersama yang lain, aku sendiri nggak apa-apa kok." jawab Renata pelan.
Meskipun berada ditempat keramaian, tapi Renata lebih nyaman sendiri. Ia melihat teman-temannya nampak sangat gembira, mereka saling berfoto bersama tertawa lepas. Sedangkan ia hanya menatap pemandangan indah yang terhampar di depan matanya, menikmati udara segar pegunungan sendirian.
"Kamu kok sendiri, Ren. bergabunglah dengan yang lain." sapaan Hendra membuatnya terkejut.
"Nggak, aku ingin sendiri... sendiri menikmati perpisahan dalam arti yang sebenarnya." ucap Renata tanpa memandang Hendra.
Renata tak sanggup kalo harus memandangnya, ia takut tak bisa menahan air matanya. Sementara Hendra merasakan kesedihan Renata, dia sungguh tak kuasa menahan perasaan bersalahnya.
Hendra meninggalkan Renata sendiri, dia mencoba menahan diri, karena ingin sekali rasanya ia memeluk erat tubuh orang yang sangat disayanginya itu.
Tanpa sepengetahuan Renata , dia selalu memperhatikannya setiap saat. Baik sejak awal datang hingga sampai di destinasi wisata terakhir ia tak pernah melewatkan sesaat pun.
"Sejak kemarin kau hanya memandangnya dari jauh.., kau tak ingin menemaninya?" tanya Deni menepuk pundaknya.
"Aku takut, Den...aku takut bila saat ini aku mendekat maka aku tidak akan pernah bisa melepaskan dia lagi."
"Kamu sih aneh, orang udah cinta kok malah ditinggalin, kalo jadi kamu aku akan tetap menjalaninya dulu." saran Deni.
"Kita ini hidup di masa modern, kalo memang ingin serius kamu bisa menikahinya diluar negeri." lanjut Deni.
"Aku tahu,...tapi mau gimana lagi kalo orang tua tak merestui." desah Hendra pelan.
Hendra hanya terdiam terus memandangi Renata, seandainya saja tidak ada dinding pemisah di antara mereka, pasti tempat ini akan memberi kenangan terindah bagi mereka.
Sementara itu Renata hanya duduk terdiam selagi teman-temannya sibuk mencari oleh-oleh.
"Ren, kamu nggak mau beli apapun?" tanya Nia yang sedari tadi memperhatikan Renata.
__ADS_1
Renata tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya. Suara pengumuman untuk kembali ke bis masing-masing membuatnya bangkit, ia berjalan mendekati bis, sebelum masuk ia melihat ke penjuru arah.
"Bandung,... selamat tinggal. Saat ini kau belum memberiku kenangan indah, aku janji suatu saat aku akan kembali bersama kekasihku yang telah kembali ke pelukan ku ."