
Akhirnya Hendra bisa diyakinkan untuk mau pulang, sebelumnya mereka mengantar Ibu Renata ke rumah Ardian.
"Hen, ini sudah waktunya anak-anak pulang sekolah, bisa minta tolong sekalian mampir ke sekolah untuk menjemput mereka." ucap Ibu meminta tolong pada Hendra
"Iya Bu, tentu saja." jawab singkat Hendra melajukan mobilnya menuju sekolah
Tak berapa lama mereka telah sampai di depan sekolah, dan menunggu sebentar hingga bel pulang terdengar diikuti anak-anak yang berhamburan keluar.
"Kakak, adek...." panggil Ibu sambil melambaikan tangannya
"Nenek...papa mana?" tanya kakak yang kaget karena yang datang menjemput adalah neneknya dan juga dua orang yang tak mereka kenal
"Nenek...mereka siapa?" tanya si adek sambil melihat ke arah Hendra dan Anita
"Kakak, adek...papa nggak bisa jemput baru ada urusan penting, jadi nenek yang jemput kalian. Oh ya, ini om Hendra sama tante Anita, salim dulu...mereka teman papa dan mama kalian." ucap Ibu dengan sabar menjelaskan
Akhirnya mereka semua sampai di rumah Ardian, setelah Ibu dan anak-anak Renata turun, Hendra dan Anita langsung pamit pulang. Kondisi Hendra saat ini sedang tak fokus, hati dan pikirannya sedang tertuju pada Renata. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Renata, ingin rasanya ia berada disampingnya.
"Hen, fokuslah...jangan melamun begitu." ucap Anita lembut sambil memeluk lengan Hendra
"Heemm...." Hendra hanya berdehem pelan
Mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai ke rumah, disambut Ibu juga Junior yang sudah menunggu di teras rumah. Begitu melihat orang tuanya tiba, bocah kecil itu langsung menghambur, Hendra pun kemudian menggendongnya dan mencium gemas pipi bakpao nya.
"Bagaimana, Hen...semua baik-baik saja kan?" tanya Ibu kemudian
"Aku harap begitu Bu, aku sudah jelaskan semua pada Ardian. Namun kini Renata sedang sakit dan harus dirawat di rumah sakit." jelas Hendra pelan tetap menggendong Junior
"Sakit,...terus kondisinya bagaimana.?" tanya Ibu kaget
Sebelum Hendra menjawab, Anita mengambil Junior dari gendongan Hendra dan membawanya masuk. Anita merasa tak nyaman bila harus mendengarkan perbincangan mereka tentang Renata.
"Asam lambung nya naik, kondisinya cukup mengkhawatirkan, semoga saja kesehatannya cepat membaik." jawab cemas Hendra
"Iya, Ibu harap juga begitu. Dia pasti stress berat hingga begini, bukankah dia punya riwayat menderita maag sebelumnya." kata Ibu yang sedih mendengar kondisi Renata
__ADS_1
"Dokter bilang tidak hanya stress malah bisa dibilang depresi, ditambah dua hari ini ia tak mau makan." jelas lagi Hendra
"Yah, berdoa saja semoga ia cepat sembuh." sahut Ibu menepuk pundak Hendra
"Hendra merasa sangat bersalah, rumah tangganya jadi terancam seperti saat ini dan juga kesehatannya ini semua karena Hendra. Seandainya saja Hendra bisa mengendalikan diri..." ucap sesal Hendra
"Sudahlah, semua sudah terjadi...jadikan ini pelajaran untukmu, kendalikan hatimu agar tak menyakiti orang lain. Ibu mengerti perasaan mu pada Renata, tapi juga mengertilah pada perasaan Anita, dia pasti sangat sedih dengan semua ini , namun ia sembunyikan perasaannya itu. Ia mencoba tegar dan tetap support kamu, padahal Ibu tahu hatinya sedang menangis." nasehat Ibu menyadarkan Hendra
"Pergilah pada Anita, Ibu sangat tahu perasaannya saat ini, buatlah hatinya tenang." bujuk Ibu pada Hendra
Hendra hanya menganggukkan kepala dan berjalan menuju kamarnya, ia melihat Anita sedang terbaring sembari menidurkan Junior. Hendra memang masuk diam-diam hingga Anita tak mengetahui kedatangannya, sejenak ia baru menyadari bahwa Anita tengah menangis tertahan.
Hatinya berdesir melihat Anita, ia merasa sangat bersalah. Setegar apapun Anita, ia pasti sedih mendapati kenyataan seperti yang terjadi kemarin pada Hendra dan Renata. Seperti halnya Ardian yang sangat murka , Anita pun merasakan sakit dan pedih di hatinya namun ia tak ingin menunjukkannya pada Hendra.
"Anita,...maafkanlah aku." ucap Hendra pelan duduk di tepi ranjang dan menyentuh bahu Anita
"Hendra, sejak kapan kamu ada di sini?" sahut kaget Anita melihat Hendra dan segera bangkit
"Cukup lama hingga hatiku teriris melihat mu menangis." ucap lembut Hendra mengusap air mata Anita
"Hen, aku mencintaimu...sampai kapanpun dan apapun yang terjadi aku ingin kamu selalu bersamaku." ucap lembut Anita memeluk tubuh Hendra
"Terima kasih, Anita...bantu aku untuk memperbaiki diri." lirih Hendra di telinga Anita
"Hen, aku ingin segera pulang ke rumah kita." pinta Anita melepas pelukan dan menatap lembut wajah suaminya
"Iya Anita, segera setelah aku tahu keadaan Renata membaik. Nggak apa-apa kan?" tanya Hendra ragu
"Iya, ..." sahut singkat Anita tersenyum mesra dan mencium bibir hangat milik suaminya itu
Hendra kaget dan matanya membulat sempurna, namun sedetik kemudian ia langsung membalasnya. Ia tak ingin lagi mengecewakan istrinya, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa mulai sekarang akan berusaha membuat Anita tersenyum.
Benar saja, Anita merasa sangat bahagia dengan balasan langsung dari Hendra. Ia kini merasakan luma tan bibir Hendra lebih bergelora, lebih hangat dan tak sedingin dulu. Mereka berdua telah terhanyut dalam sensasi kenikmatan dari setiap sesapan, penuh perasaan dan semakin panas.
Ting...
__ADS_1
Terdengar suara dari ponsel Hendra, hingga keduanya melepaskan tautan bibir hangat itu. Segera Hendra meraih ponselnya, ternyata pesan dari Ibunya Renata. Hendra tersenyum lega setelah membaca pesan tersebut.
"Pesan dari siapa daddy?" tanya Anita penasaran karena melihat Hendra tersenyum
"Dari Ibunya Renata, beliau bilang Renata sudah stabil dan kondisinya berangsur membaik, selain itu Ardian juga sudah memaafkan Renata." jawab Hendra masih tersenyum
"Tunggu....tadi kamu memanggil ku apa?" ucap Hendra kemudian melirik Anita
"Daddy...mulai sekarang aku memanggil mu daddy, boleh kan?" senyum Anita manja dan kembali memeluk Hendra
"Yes, mommy..." balas Hendra meneruskan permainan panas mereka yang sempat terhenti
###
"Sayang, bagaimana kondisi mu , apa yang kamu rasakan, mana yang sakit?" tanya Ardian beruntun saat sampai di ruang rawat Renata dan duduk di samping brankar
"Mas, di sini yang sakit." lirih Renata sambil memegang dadanya dan menatap wajah suaminya
"Sayang, maafkan aku..." sahut pelan Ardian menggenggam tangan istrinya
"Aku yang seharusnya minta maaf, karena telah membuat mu kecewa, telah mengkhianati kepercayaan mu." ucap Renata pelan matanya berkaca-kaca
"Sayang, cukup...Aku sudah tahu ceritanya, aku tahu kau sudah berusaha mempertahankan kepercayaan dariku." Ardian berkata sambil meletakkan telunjuknya di bibir Renata
"Mas, apapun itu aku merasa sangat bersalah, hatiku terlalu lemah." ucap Renata pelan
"Sayang, lupakan semua ini anggaplah tidak pernah terjadi. Maafkanlah aku yang terlalu emosi dan tak mau mendengarkan penjelasan mu, saat ini yang aku mau adalah kamu sembuh." lembut Ardian mengusap air mata dikedua pipi Renata
"Terima kasih atas pengertian mu, mas dan sekali lagi maafkan aku." lirih Renata
"Iya, sayang...istirahatlah dan cepat sembuh, kita akan berkumpul kembali anak-anak sudah sangat merindukan mu. " ucap Ardian mengecup kening istrinya
"Benarkah, aku sudah boleh pulang ke rumah?" tanya Renata menatap sendu
"Tentu saja sayang, aku yang sudah bodoh karena mengusir istriku sendiri. Bibir dan hati aku bertentangan, saat aku berucap untuk menyuruhmu pergi padahal hatiku merasa sedetik pun tak ingin jauh dari mu." jawab Ardian membelai lembut rambut istrinya
__ADS_1