
Anita segera membuka pesan Renata di ponselnya, alangkah terkejutnya dia saat membaca isi pesannya. Hendra yang melihat ekspresi terkejut di wajah Anita jadi penasaran, dan segera mendekatkan wajahnya ke layar ponsel milik Anita.
"Anita,....mas Ardian mengkhianati ku." isi pesan Renata
"Apa maksudnya ini, cepat hubungi dia mom..." ucap Hendra tampak tegang dan penasaran
"Iya, Dad...aku speaker nya biar kita sama-sama mendengarnya. " sahut Anita langsung menghubungi Renata lewat ponselnya
" Halo Renata, ada apa...?" sapa Anita saat telah tersambung dengan Renata
"Anita....aku benar- benar hancur saat ini." ucap Renata dengan suara serak seperti habis menangis
"Ada apa Rena, cerita kan padaku..." Anita bertanya serius, sedangkan Hendra tampak menyimak perbincangan dua wanita itu
"Mas Ardian telah mengkhianati ku, ia berhubungan dengan wanita lain dan bahkan saat ini wanita itu tengah mengandung." ucap Renata dengan suara terisak
Anita sangat kaget mendengarnya, sementara itu Hendra yang juga mendengarkan tampak berubah raut mukanya. Ia tampak menahan amarahnya, namun ia tetap diam tak
bersuara, ia takut jika Renata tahu bahwa ia ikut mendengarnya maka Renata pasti akan merasa keberatan.
"Kok bisa..." sahut Anita tak mampu berkata-kata lagi
Renata pun mulai menceritakan seluruh kejadiannya menurut versi Ardian dan juga wanita itu. Dengan detail Renata menceritakan kejadian yang berawal dari kesalahannya dulu bersama Hendra, yang membuat Ardian marah dan melampiaskan nya dengan minum-minum.
Hendra yang mendengar cerita Renata merasa ikut bersalah, namun tetap saja saat ini Ia sangat murka pada Ardian. Hendra mengepalkan kedua tangannya kuat, wajahnya memerah menahan amarah. Anita memegang tangan itu dengan lembut untuk menenangkan emosi suaminya.
"Anita, saat ini aku memutuskan untuk berpisah dengannya...." ucap Renata mengakhiri ceritanya
"Lalu kamu sekarang tinggal dimana, dan bagaimana dengan anak-anak mu?" tanya Anita tenang
"Aku masih tetap tinggal di rumah bersama anak-anak, mas Ardian yang pergi dari rumah ini, dia sendiri yang minta ..." jawab Renata yang masih sesenggukan
__ADS_1
"Rena, aku turut prihatin atas semua yang telah terjadi saat ini dengan rumah tangga mu, jika kamu berkenan aku akan mengunjungimu, aku ingin memberi support pada mu seperti halnya dulu kamu juga menguatkan aku." ucap Anita penuh perhatian dan merasa sangat sedih dengan semua yang menimpa Renata
"Anita, aku mohon jangan ceritakan dulu pada Hendra..." ucap Renata kemudian
Anita tak langsung menjawab, karena sebenarnya saat itu Hendra juga tengah ikut mendengarkan percakapan mereka berdua. Anita melihat ke arah Hendra seakan menanyakan harus menjawab apa, Hendra hanya menggelengkan kepala nya pelan dan meletakkan jari telunjuknya di bibir.
"Baiklah, Rena." jawab Anita kemudian
"Terima kasih, Anita...telah mendengarkan curahan hati ku, aku merasa sedikit lega, sesak di dada ku sedikit berkurang setelah aku berbagi dengan mu." ucap Renata yang nampak mulai tenang
"Iya Rena, sama-sama...kita kan berteman baik, jadi apapun keadaan mu saat ini aku akan selalu ada untuk mendukung mu." kata Anita sambil menatap wajah Hendra yang masih tampak sangat emosi
"Sampai jumpa Anita, aku ingin segera bertemu dengan mu." pelan suara Renata mengakhiri percakapan
"Baiklah Rena, aku usahakan secepatnya..." balas Anita kemudian menutup ponselnya
Anita kemudian menatap ke arah Hendra, ia melihat suaminya itu sedang sangat emosi. Anita mendekatkan dirinya dan memeluk tubuh Hendra, berusaha meredam kemarahan dan menenangkan hati nya.
"Andai saat ini pria kurang ajar itu ada disini, aku pasti akan menghabisi nya." ucap Hendra tampak tegang
"Tenang lah, jangan keburu emosi....semua bisa diselesaikan dengan kepala dingin." sahut Anita menakup wajah marah Hendra dengan kedua tangannya
" Tidak bisa, aku tetap akan memburunya, akan ku beri dia pelajaran....aku tak menyangka tampangnya saja seperti pria baik-baik tapi kelakuannya bejat." umpat Hendra dengan rasa benci
"Jangan, Dad....kamu tetap disini, biarlah aku yang kesana untuk mendukung Renata. Bukankah tadi kamu dengar sendiri kalo Renata tak mau kamu tahu, ia pasti bisa menebak apa yang akan kamu lakukan, ia sangat tahu betul bagaimana watak mu." Anita mencoba memberi pengertian pada Hendra
"Sekali tidak tetap tidak, bahkan saat ini juga aku akan pergi..." bantah Hendra bangkit dan berdiri hendak berlalu
"Hendra.... aku tahu kamu semarah ini karena kamu masih sangat mencintai nya, apa kamu akan kembali padanya dan meninggalkan aku." ucap Anita tiba-tiba
Hendra menghentikan langkahnya, ia tertegun sejenak mendengar ucapan Anita. Saat ia membalikkan badannya dan menatap ke arah Anita, istrinya itu telah meneteskan air matanya. Hati Hendra terasa berdesir, ia merasa telah membuat hati Anita terluka.
__ADS_1
"Mom,... percayalah padaku, aku sudah berjanji tak akan pernah meninggalkan mu." ucap Hendra pelan
"Tapi sikap spontan kamu yang penuh amarah ini, ...." sahut Anita masih berkaca-kaca
"Mom,....biarkan aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, kamu percaya saja padaku." ucap Hendra mencoba meyakinkan istrinya
" Hendra,....seandainya Renata benar-benar berpisah dari Ardian, apa kamu akan kembali padanya?" tanya Anita pilu
"Jangan berhenti memanggil ku Daddy,....dan jangan berfikir macam-macam." Hendra mencium kening Anita dan memeluknya sejenak
Anita terdiam dalam peluk an Hendra, sejujurnya hatinya merasa bimbang, ia takut jika Hendra akan kembali pada Renata dan meninggalkan nya. Namun kemudian ia meyakinkan hatinya, seandainya saja memang terjadi maka ia akan ikhlas.
Hendra melepas pelukannya saat merasa Anita sudah tenang, ia kemudian menghubungi si boss untuk ijin karena harus kembali ke kota asalnya untuk memberi pelajaran pada Ardian. Meski dengan berat hati, Anita melepas kepergian Hendra, ia berusaha untuk berfikir positif dan mempercayai nya.
"Aku pergi dulu, nanti setelah ku kabari kau bisa menyusul dan bertemu dengannya." pamit Hendra melepaskan tangan Anita
"Hati-hati Dad,....selalu kabari aku." pesan Anita melepas kepergian Hendra
###
"Maaf pak, anda ingin bertemu dengan siapa?" tanya seorang karyawan di kantor tempat Ardian bekerja saat melihat Hendra menerobos masuk ke dalam kantor
"Dimana ruangan Ardian?" tanya kasar Hendra penuh amarah
"Tapi pak Ardian sedang ada meeting." jawab karyawan tersebut dengan ketakutan
"Tunjukkan ruangannya tempat dia berada saat ini , atau..." Hendra mencengkeram kerah bajunya dan mengayunkan tangan
"Ba...Baiklah...akan saya antar." jawabnya dengan tubuh gemetar
"Selamat siang...maaf mengganggu, Ardian...ikutlah dengan ku." Hendra menerobos masuk ruang meeting, menatap tajam ke arah Ardian yang duduk diantara koleganya
__ADS_1
"Hendra...." lirih Ardian kaget bukan main, tak pernah menyangka Hendra akan datang menemuinya dan perasaannya sangat tak enak, ia melihat wajah dingin itu memerah penuh amarah