
Renata bangkit dari kasur, berjalan menuju pintu kamarnya. Ibunya masih berdiri di depan pintu.
"Bu, bilang aja Renata lagi nggak enak badan." ucap Renata pelan
"Nak, jangan seperti itu, temui lah dia, bicarakan baik-baik jangan menghindar." kata Ibu dengan sabar.
"Tapi Bu, Rena...."
"Sudah sana mandi, kasihan kalo kelamaan nunggu." lanjut Ibu.
Renata pun ngeloyor menuju kamar mandi, ia sengaja berlama-lama. Selesai mandi ia masih malas keluar kamar, sebenarnya ia nggak pengen ketemu sama Ardian.
"Rena, sudah selesai belum, kasihan lama banget lho nunggunya." ucap ibu memasuki kamar Renata.
Akhirnya dengan berat hati Renata keluar menemui Ardian di ruang depan.
"Kok lama banget, bangun kesiangan ya." senyum Ardian ketika Renata sudah duduk di kursi sebelahnya.
"Iya...mas Ardian ngapain kesini pagi-pagi?" sungut Renata.
"Memangnya kenapa, nggak boleh ya." Ardian masih dengan senyumnya.
"Nggak..." sahut Renata cemberut
"Semalam aku kesini tapi nggak ketemu kamu, jadi..." ucapannya dipotong Renata
"Stop,.. nah itu yang pengin aku bahas." ketus ucapan Renata
"Tapi nggak disini, kita jalan aja." lanjut Renata
"Kemana?" tanya Ardian
"Terserahlah kemana, yang penting nggak disini." jawab Renata sambil bangkit dari duduknya.
"Oke, sekarang bilang mau kemana?" tanya Ardian lagi setelah keduanya masuk ke dalam mobil.
"Tadi kan ku bilang terserah, kemana aja." muka Renata makin cemberut
"Iya deh... tapi jangan marah gitu dong." senyum Ardian.
Senyuman Ardian sama sekali tak diliriknya, Renata memang lagi sebel banget sama Ardian. Selama perjalanan mereka berdua hanya diam saja. Sesekali Ardian melirik Renata yang tampak jutek banget.
"Sampai kapan mau diem begini ?" ucap Ardian yang sudah bosan dengan keheningan di antara mereka.
"Mas Ardian egois..." sahut Renata tiba-tiba.
"Maksudnya ?" Ardian kemudian menepikan mobilnya dan mematikan mesin.
__ADS_1
"Maksud kamu apa , Rena? " tanya Ardian tenang, sambil memiringkan tubuhnya hingga menghadap ke Renata.
Renata hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya, ia tak berani menatap wajah Ardian. Tanpa disangka Ardian memegang dagu Renata dan menolehkan ke arahnya.
"Lihat sini, dan katakan apa yang kau maksudkan." ucap lembut Ardian.
"Semalam Ibu bilang katanya mas Ardian mau melamar ku." kini Renata menatap wajah Ardian
"Iya, benar...memang ada yang salah."
"Ya salah dong , itu yang aku maksud egois. Mas Ardian nggak pernah ngomong dulu ke aku , main mau lamar-lamar aja." ucap Renata berkaca-kaca.
"Aku mencintaimu, Renata... makanya aku mau melamar mu." Ardian menatap tajam mata Renata.
"Kenapa harus langsung melamar, kalo cinta kan bisa pacaran dulu." ucap Renata yang sedikit tenang.
"Aku nggak suka pacaran, aku juga nggak nyari pacar, yang aku mau adalah seorang istri. Istri yang akan mendampingi ku seumur hidupku." ucap Ardian lebih serius.
"Ya itu namanya egois, mas Ardian hanya menuruti perasaan sendiri tak mau peduli dengan perasaanku, aku belum mau menikah aku belum siap." Renata mulai meneteskan air mata.
"Rena, sejak pertama melihatmu aku merasakan sesuatu yang aneh dengan hatiku, yang selama ini belum pernah aku rasakan. Wajahmu selalu mengikuti kemanapun aku pergi, dan aku yakin kamu adalah jodoh yang dikirim Tuhan untukku." Ardian mengusap lembut kedua pipi Renata yang basah.
"Tapi mas Ardian kan baru mengenalku sebentar, mas Ardian belum tahu apa-apa tentang aku." ucap Renata sambil terisak.
"Setelah menikah aku yakin akan bisa mengenalmu lebih baik lagi, aku mohon pertimbangkanlah lagi, Rena."
Renata merasa tak sanggup menerima tatapan mata Ardian, ia kemudian menundukkan kepalanya. Air matanya masih mengalir, dadanya terasa sesak.
Ardian merasa nggak sanggup melihatnya menangis, dia meraih pundak Renata dan menenggelamkan wajah Renata ke dadanya. Kini ia merasakan air mata Renata yang hangat membasahi dadanya.
"Menangis lah, Rena... kalo itu akan melegakan hati mu." lirih Ardian sambil mencium kening Renata.
###
Renata semakin nggak fokus di tempat kerjanya, beban pikirannya bertambah. Urusan perasaannya dengan Hendra belum usai sekarang ia harus menghadapi lamaran Ardian sabtu nanti.
"Rena, fokus...jangan ngelamun terus." mbak Dewi mengingatkan.
"Iya mbak, saya akan berusaha untuk fokus." jawab Renata.
"Jangan sampai kamu dapat peringatan dari Pak Anto."
"Baik mbak."
Renata benar-benar dalam masalah kalo Pak Anto atasannya sampai mengeluarkan SP (Surat Peringatan).
Hari-hari seakan berjalan begitu cepat, nggak terasa udah hari Jum'at aja. Selama itu juga Ardian tak pernah absen untuk antar jemput Renata. Tetapi hari ini Ardian tidak bisa antar jemput karena ada urusan kerja keluar kota, sekalian menjemput orang tuanya.
__ADS_1
Dengan begitu hari ini Renata naik motor sendiri ke kantor. Ia merasa lebih santai, seperti hari ini ia berkendara agak pelan untuk menikmati perjalanannya. Saat berhenti di lampu merah, seseorang tiba-tiba menyapanya.
"Renata, ...."
"Andi..."
"Kamu kemana aja, kok nggak pernah ketemu?" tanya Andi
"Iya, Ndi." jawab pendek Renata
"Ren, ntar makan siang di warung es buah biasa ya?" ajak Andi ketika lampu kuning menyala
"Oke...." jawab Renata sambil meneruskan perjalanannya.
Sampai di kantor seperti biasanya pekerjaan sudah numpuk, Renata mulai disibukkan dengan berkas-berkas.
"Aku kira kamu nggak akan datang." sapa Andi saat melihat Renata datang dan duduk di depannya.
"Ya dateng lah, kan udah oke tadi." senyum Renata
"Senyum kamu tak pernah berubah Ren, tetap manis bikin diabetes aja sih." gombal Andi
"Kamu juga nggak berubah, tetap aja nggombal." balas Renata sambil mencubit tangan Andi
"Rena, apa Hendra belum menemui mu?" pertanyaan Andi hampir membuat Renata tersedak.
"Belum,... memangnya kenapa?" tanya balik Renata.
"Pantesan,....."
"Maksudnya apa?" tanya Renata penasaran
"Akhir-akhir ini sikap dia tambah aneh, nggak pernah bergaul sama teman kampus. Udah tampangnya sangar, penyendiri lagi. nggak ada yang berani dekat-dekat dengannya." terang Andi
Renata hanya terdiam mendengar penjelasan Andi, ia nggak akan memberitahu Andi tentang lamaran Ardian. Kini perasaannya jadi galau lagi setelah mendengar semua ucapan Andi. Pikirannya terbang jauh ke sosok orang yang sangat disayanginya itu.
"Ren, kok malah bengong." ucapan Andi mengagetkannya.
"Ehh iya,... kenapa?"
"Kamu nggak mau menemuinya duluan,..."
"Aku,...aku kan cewek Ndi, gengsi lah." ucap Renata sengit
"Kalo kamu gengsi, Hendra juga ragu-ragu, trus kapan urusan kalian selesai. apa emang mau di gantung aja?" ucapan Andi pasrah
"Emang nggak enak di gantung begini, kalo cuma jalan ditempat, dia nggak mau memperjuangkan cintanya mau gimana lagi." Renata tampak menahan air matanya.
__ADS_1
"Ndi, tolong kalo kamu ketemu dia, katakan padanya bila dia tetap begini aku akan membuka lembaran baru dan melanjutkan hidupku." air mata Renata mulai mengalir, namun ia segera menghapusnya.