Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Khilaf


__ADS_3

Hingga hari telah pagi, namun Renata belum pernah sebentar pun keluar dari kamarnya yang terkunci dari dalam. Ibu merasa sangat khawatir, beliau mencoba mengetuk pintu dengan hati-hati.


"Ren, bangunlah nak sarapan dulu." ucap Ibu sambil mengetuk pintu hingga berulang kali


"Nanti saja Bu." sahut Renata pada akhirnya


"Ibu, mau keluar sebentar, makanlah Ibu sudah siapkan di meja." ucap Ibu kemudian


"Iya Bu." sahut Renata singkat dan pelan


Ibu beranjak meninggalkan kamar Renata dan berjalan keluar dari rumah, disana taxi yang beliau pesan sudah menunggu. Setelah naik, taxi pun bergerak menuju ke arah rumah Hendra. Ibu memang sudah bersikeras untuk mendatangi dan bertemu langsung dengan Hendra.


"Maaf, bisa saya bertemu dengan Hendra?" tanya Ibu saat tiba di rumah Hendra dan melihat seorang wanita cantik membukakan pintu untuknya


"Iya, tapi Ibu ini siapa ya?" tanya balik wanita cantik itu yang tak lain adalah Anita


"Bilang saja Ibunya Renata ingin bertemu,...anda sendiri siapa ya?" ucap Ibu heran karena baru sekali ini melihat Anita di rumah Hendra


"Renata??....sa..saya istrinya Hendra." jawab Anita terbata karena terkejut mendapati kenyataan bahwa yang ada di depannya kini adalah Ibunya Renata


"Oh...ternyata sudah punya istri secantik ini, tapi kenapa masih saja mengganggu ketenangan Renata." ucap Ibu menatap ke arah wajah Anita


"Maksud Ibu apa, saya tidak mengerti?" tanya Anita yang bingung dengan ucapan Ibu


"Panggil saja suamimu itu, aku ingin bicara dengannya?" ucap Ibu cepat


Anita mengangguk meski masih bingung, ia berjalan masuk ke dalam untuk memanggil Hendra. Tak beberapa lama Hendra muncul sambil menggendong Junior, diikuti Anita di belakangnya.


"Ibu...." lirih Hendra kaget melihat wanita paruh baya yang saat ini berdiri tepat di depannya

__ADS_1


Hendra spontan mengulurkan tangannya untuk menyapa, namun dengan raut muka marah beliau tak menanggapinya sama sekali.


"Lihatlah kamu sekarang, sudah punya istri cantik dan anak yang lucu, tapi kenapa masih harus mengganggu hidup Renata. Pria macam apa kamu ini sebenarnya, dan apa kamu tidak berfikir berapa banyak hati yang kini telah kau sakiti." ucap Ibu yang tak bisa lagi mengendalikan amarahnya


Hendra terpaku dan tak menyangka mendengar ucapan Ibu yang penuh amarah, kemudian ia memberikan Junior kepada Anita.


"Bawa Junior masuk ke dalam ." ucap Hendra pada Anita


"Hen, apa maksudnya ini?" tanya Anita sangat penasaran dengan maksud ucapan Ibunya Renata


"Masuklah, nanti aku jelaskan." sahut Hendra pelan


Setelah Anita membawa Junior masuk, Hendra mempersilahkan Ibu untuk duduk. Ia yang duduk di depannya hanya terdiam sesaat, sebelum menjawab dan menjelaskan ia menghela nafas panjang.


"Kenapa diam saja, apa sebenarnya yang kamu inginkan." ucap Ibu tak sabar


" Maaf Bu, saya memang salah...tapi sungguh saya tak berniat menyakiti hati siapapun. Saya khilaf karena terlalu menuruti keinginan hati, hingga tak bisa berfikir jernih lagi. " jawab Hendra sambil tertunduk


"Sekali lagi maafkan saya, ini semua murni kesalahan saya , Renata sama sekali tak bersalah. Saya yang menyudutkan nya hingga kami khilaf, saya akan menanggung semua akibatnya. Tolong sekali lagi jangan salahkan Renata. " ucap Hendra menatap serius dan memohon kepada Ibunya Renata


"Semua telah terjadi dan waktu tak bisa diulang lagi, kini Renata harus merasakan akibat dari perbuatan mu. Ardian mengusirnya dari rumah dan melarangnya menemui anak-anak, saat ini ia sedang sangat menderita dan terus mengunci diri di kamar. Aku sangat khawatir dengan keadaannya, dan ini semua karena ke egoisanmu. Sampai kapan Renata akan selalu menderita karena kamu." ucap Ibu panjang lebar menahan sesak di dadanya hingga membuat air matanya menetes


"Bukankah kamu sudah berjanji tak akan menemuinya lagi sampai waktunya tiba, pria sejati tak akan pernah melanggar janjinya." lanjut Ibu dengan wajah kecewa


"Maafkan saya , Bu...Saya akan melakukan apapun untuk menebus kesalahan ini. Saya akan temui dan jelaskan semua pada Ardian, dan meyakinkan nya kalo ini bukan salah Renata." ucap Hendra yang bersimpuh di depan Ibunya Renata


"Aku harap kamu bisa meyakinkan Ardian, aku tidak ingin rumah tangga Renata jadi berantakan karena ulah kamu ini." kata Ibu sambil menghapus air matanya


"Iya Bu, Hendra janji akan menyelesaikan masalah ini segera." ucap Hendra sambil bangkit

__ADS_1


"Aku pulang,...dan aku ingatkan lagi pada mu, setelah ini jangan lagi muncul di kehidupan Renata sampai waktunya tiba." ucap Ibu yang bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan rumah Hendra


Hendra masuk ke dalam rumah dengan menunduk, ia merasa sangat bersalah pada Renata. Ia mengumpati dirinya sendiri, yang begitu bodoh dan egois hingga sekali lagi menyakiti belahan jiwanya itu.


"Hen, kenapa kamu lakukan ini, aku kira kamu benar-benar sudah bisa menerima ku dan ..." ucap Anita saat melihat Hendra masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang, namun ia tak melanjutkan ucapannya karena Hendra tiba-tiba memeluknya


"Anita, tolonglah aku." ucap Hendra seraya memeluk erat istrinya


Anita menjadi bingung dengan apa yang terjadi, Hendra tiba-tiba memeluknya dan terisak di bahunya. Ia merasakan air mata Hendra mulai membasahi bahunya, dia yang kuat dan sekaligus dingin kini sedang menangis terisak di pelukannya.


"Hen, katakan apa yang bisa aku lakukan untuk mu?" tanya Anita lembut mengusap punggung Hendra


"Aku sungguh bodoh Anita, kenapa aku bisa berbuat seperti ini." isak Hendra masih di pelukan Anita


" Apa yang kurang dari aku Hen, katakan agar aku bisa memperbaikinya hingga bisa membuat mu nyaman disisiku, tanpa harus memikirkan kegalauan hatimu pada Renata." ucap Anita melepas pelukan dan menatap tajam wajah Hendra


"Tidak ada yang kurang dari mu, hanya aku pria bodoh yang tidak bisa menyadarinya." kata Hendra menatap mata Anita


" Maafkan aku, yang telah melanggar janjiku padamu, dan tolong aku untuk melepas beban berat di hatiku ini. Rasa bersalah ini seakan membunuhku, aku telah menyakiti banyak hati termasuk hatimu juga." lanjut Hendra dengan mata basahnya


"Aku mencintaimu, dan entah kenapa sesakit apapun hatiku, aku akan selalu rela untuk memaafkan mu." lembut Anita mengusap air mata dikedua pipi Hendra


"Apa yang harus kulakukan Anita, aku tak mau Renata menderita karena ulahku dan membuat rumah tangganya terancam seperti saat ini. " ucap Hendra mengharap dukungan Anita


"Bukankah kamu tadi sudah berjanji pada Ibunya Renata, maka temuilah suami Renata dan jelaskan tentang yang sebenarnya terjadi. Aku akan menemani mu..." kata Anita menguatkan hati suaminya


"Benarkah Anita,... kamu mau menemaniku." sahut Hendra pelan sambil menatap lembut wajah istrinya


"Iya, aku akan selalu di samping mu apapun yang terjadi. " ucap Anita mantap

__ADS_1


"Terima kasih Anita, istri ku..." Hendra mencium kening Anita yang telah melegakan hatinya dan memeluknya lagi dengan erat


__ADS_2