
Pertemuan hari ini masih tak menemukan titik temu. Walau bagaimanapun keduanya tak bisa memutuskan perjodohan itu tanpa adanya cela yang membuat mereka bisa saling terlepas. Jenita yang memang terlihat sangat santai membuat Alex kembali meradang. Pemuda tampan tersebut masih saja menganggap Jenita lah yang telah melakukan rencana licik dibalik perjodohan mereka.
Dengan penuh kekesalan Alex pun meninggalkan Jenita yang hanya menanggapi kemarahan nya dengan tersenyum.
"Bagaimana mungkin dia menuduhku, sementara perjanjian itu dibuat sebelum aku lahir. Dasar orang aneh." Jenita membenarkan letak kacamata nya sebelum akhirnya beranjak dan berlalu pergi.
Sesuai janjinya tadi pagi. Jenita segera bertolak menuju ruko dimana Marni telah menunggunya disana. Belum nampak mobil Dira disana, itu menandakan bahwa gadis manis tersebut belumlah sampai.
Di dalam perjalanan tadi, Jenita mengirimkan pesan dengan alamat ruko ke pada Dira. Mengingat waktu nya dan juga tempat dirinya berada kini tak terlalu jauh dari ruko. Untuk kembali ke toko hanya menjemput Dira saja rasanya akan membuang buang waktu.
Sepuluh menit kemudian barulah nampak mobil Dira berbelok dan sedikit ragu gadis itu bertanya pada security yang menjaga ruko milik Jenita. Dengan diantar security, Dira masuk ke dalam ruko. Gadis itu baru bisa bernafas lega ketika melihat Jenita yang sedang duduk berhadapan dengan laptop. Sementara di ruang lain yang hanya disekat oleh tembok kaca nampak beberapa orang sedang sibuk dengan oven dan beberapa peralatan yang sama dengan alat-alat yang berada di toko eyang.
"Sudah datang." Jenita nampak melepas kacamatanya sesaat. Diusap nya peluh yang sedikit membasahi dahinya.
"Duduklah, Dir." Ucapnya. Setelah itu berlalu masuk ke dalam ruang kaca dan kembali bersama Marni.
Dira mengedarkan pandangannya. Ruko itu lumayan besar. Nampak beberapa alat dan oven yang ukurannya sedikit lebih kecil dari yang berada di toko eyang. Namun terlihat semuanya adalah alat canggih. Beberapa karyawan sedang melakukan packing.
"Ini adalah rumah produksi yang kuceritakan tadi. Di sini kami menangani pemesanan online. Kalau semua dilakukan di toko pusat akan sangat merepotkan mereka. Dan itu juga akan menyita waktu yang lumayan banyak. Karenanya aku membaginya begini. Nanti adakalanya pesanan juga di bagi ke toko utama jika disini mengalami kewalahan." Jenita mendudukkan dirinya di sofa dimana Dira telah duduk terlebih dahulu disana.
__ADS_1
"Kamu menceritakan ini padaku? apa kamu tak takut kalau kalau aku akan membuat usahamu ini kacau?" Dira bertanya dengan nada pelan.
Jujur saja dirinya belum yakin 100 % dengan Jenita. Masih terdapat sedikit ganjalan pada dirinya antara mempercayai perkataan sangat mama atau mendukung usaha Jenita kini.
"Eyang saja percaya padamu lalu kenapa aku harus curiga. Aku yakin, kamu pun tak akan mau melihat usaha yang eyang rintis mengalami kehancuran bukan? jadi aku ingin kamu membantu ku. Kita sama-sama memajukan usaha ini agar bisa lebih berkembang."
"Oh ya, kenalkan. Ini Marni, dia yang membantu ku selama ini. Dan sekarang kalian berdua ku percayai untuk menjalankan sistem pemasaran disini. Nanti Marni akan membantumu menyusun laporan keluar masuknya pesanan. Dan Marni, ini adalah adikku. Jika aku tak datang atau mungkin aku sedang keluar kota dialah yang akan menggantikan ku disini."
"Iya mbak. Senang mbak Dira bisa bergabung disini." Marni mengulurkan tangan, Dira menyambutnya dengan senyum yang mengembang.
"Baiklah, saya tinggal sebentar ya mbak. Kurir pesanan ada yang datang sepertinya." Marni melangkah menjauh ketika dirinya melihat adanya kurir datang untuk mengambil pesanan konsumen.
"Kurir juga langsung mengambil kemari? ku kira mereka akan mengambilnya di toko utama."
Dira menatap kagum gadis yang usianya terpaut 2 tahun lebih tua darinya itu. Dirinya baru mengerti bahwa keputusan eyang Sulastri adalah keputusan yang benar. Jika itu dirinya, mungkin semua langkah ini tak akan pernah terpikirkan.
"Kemungkinan besar aku akan sering berkunjung ke kota S. Ada hal lain yang harus aku kerjakan disana. Karenanya aku membutuhkan orang yang bisa ku percaya untuk menangani ini. Selama aku pergi, Marni yang akan memegang kendali segala sesuatu di sini dan kamu akan berda di toko secara penuh. Dengan demikian semua bisa berjalan seperti biasanya."
Jenita menjelaskan segala sesuatu yang membuat Dira semakin kagum. Penampilan Jenita yang melepaskan kacamata nya juga menambah kecerdasan yang kian terpancar dari sorot matanya. Dira yang merasa familiar dengan mata tersebut pun nampak berpikir namun tak didapatkan nya jawaban hingga sore menjelang dan dirinya harus kembali ke toko utama.
__ADS_1
"Aku belum pernah melihat dia yang begitu selama ini. Baru kali ini dapat ku lihat semangatnya dan juga dirinya yang berbeda dengan dia kala berada di toko utama." Dira bergumam, mengagumi Jenita tanpa ada yang mengetahuinya.
🍂🍂🍂🍂🍂
Sementara itu Alex yang masih berada di kota C mengurus Aldi untuk mencari seseorang yang bisa dipercaya untuk memantau segala gerak gerik Jenita.
"Apapun yang dia kerjakan kamu harus melaporkannya padaku. Jangan sampai ada yang terlewat karena ini sangat penting. Mengerti!!" Ucapnya pada 2 orang yang Aldi kirim untuknya.
"Baik, tuan." Keduanya berlalu setelah mendapat kode kibasan tangan dari Alex. Pemuda itu masih duduk di tempatnya semua.
"Aku yakin, suatu saat pasti akan menemukan kelemahanmu gadis jelek. Aku tak mungkin kalah dengan trik murahanmu itu. Kita lihat saja nanti, siapa diantara kita yang akan mengaku kalah terlebih dahulu. Aku akan membongkar semua niat busukmu itu." Geramnya dengan sorot mata tajam. Seringai tipis nampak dibibir nya, membuat orang ngeri saat melihatnya.
Tekatnya sudah bulat untuk mencari bukti bukti agar bisa mengubah keputusan sang apa untuk merubah isi wasiat Opa Gerrick.
"Gadis jelek itu tak sebanding dengan Claudia. Bukan cuma parasnya, bahkan sikap acuh nya membuatku tergila-gila." Senyum nya mengembang kala membayangkan wajah Claudia yang sedang tersenyum manis.
Alex menggelengkan kepalanya beberapa kali seraya tersenyum dengan kelakuannya sendiri. Dia yang seorang playboy tak pernah menginginkan seorang wanita seperti dia menginginkan Claudia. Tak perlu terlalu banyak usaha baginya untuk menaklukkan wanita incarannya selama ini. Namun berbeda dengan Claudia yang sulit sekali dia gapai.
"Papa belum melihatnya namun sudah menolaknya. Ku pastikan papa nanti akan menyesal karena telah melakukan hal itu. Sebenarnya apa yang papa dan mama lihat hingga harus tetap menyetujui perjanjian gila opa." Alex mengacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
Beberapa waktu ini hidupnya kacau karena masalah perjodohan yang tiba-tiba datang mengganggu ketenangan nya.
"Arrrrghhh Andai gadis jelek itu tak muncul lagi." Teriaknya frustasi. Beruntung dirinya sedang berada di apartemen nya sendiri sehingga tak ada orang yang akan menganggap nya gila.