DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 15


__ADS_3

Di sebuah rumah besar namun tak berpenghuni. Terlihat beberapa orang sedang melakukan aktifitas terlebih dibagian samping rumah yang masih terlihat bagus namun tak lagi terawat itu.


Gudang pengap dengan hanya mengandalkan ventilasi kecil di bagian atasnya itu terbuka sedikit pintunya. Lelaki yang tadinya menyamar sebagai pelanggan Jenita melangkah mendekati tubuh wanita yang masih tergolek tak sadarkan diri. Beberapa kali di tempelkan nya ujung jemari nya di bawah hidung wanita itu untuk memastikan dia masih bernafas.


Dibukanya penutup mata Jenita namun tidak dengan ikatan tangan dan kakinya. Dipastikan nya posisi Jenita sedikit nyaman walau sebenarnya sangat jauh dari kata nyaman itu sendiri. Beberapa saat kemudian pria yang masih terlihat sangat muda tersebut melangkah keluar dan kembali menutup gudang dengan rapat.


Hingga sore hari barulah terlihat adanya pergerakan dari tubuh Jenita. Gadis itu mengernyapkan matanya beberapa kali sambil menyesuaikan pandangannya. Suasana temaran dengan bau pengap menyapa indra penciuman dan penglihatannya. Perlahan Jenita merubah posisinya yang tadi terbaring di lantai dengan posisi miring menjadi duduk walau memerlukan sedikit usaha, namun akhirnya dia berhasil.


Jenita kembali mengernyapkan mata dan mulai mengingat apa yang telah dialaminya sebelum dirinya terbangun di tempat ini. Tak banyak, hanya sebuah alamat dan lelaki baya yang terakhir bersamanya sebelum dia tak sadarkan diri.


Mulutnya yang masih di lakban membuatnya tak bisa hanya untuk sekedar menguap. Dalam benaknya Jenita hanya berdoa agar lelaki paru baya yang bersamanya tadi selamat.


"Tempat apa ini? dan siapa yang melakukan ini. Lalu apa tujuannya?" Gumamnya dalam hati namun tetap tak mampu melakukan apapun, karena tangan, kaki serta mulutnya sulit untuk digerakkan.


Terlihat kacamata dan juga wig yang biasa dipakainya berada tak jauh dari tempatnya duduk. Menandakan bahwa penyamarannya sebagai Jenita telah terbongkar kini.


Tak adanya suara yang didengarnya itu menandakan tempat itu kosong tak berpenghuni. Jenita hanya mampu bertahan dan menunggu ada yang bakal menyadari ketidak adanya dirinya sejak siang tadi.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Marni yang awalnya biasa saja sejak kepergian Jenita siang itu mendadak khawatir. Ketika malam tiba bos cantiknya tersebut tak kunjung kembali ke ruko tempat produksi. Biasanya jika dirinya tak datang maka Jenita akan mengirimkan pesan atau hanya sekedar menelfonnya walau sebentar.


Ditengah kekalutannya, Marni semakin dibuat cemas ketika Dira membalas pesannya dan mengatakan bahwa dirinya tak melihat Jenita sejak pagi. Ditengah dilema keduanya mencoba untuk berpikir positif. Menganggap Jenita langsung pulang ke rumah utama dan beristirahat hingga lupa memberi kabar kepada mereka seperti biasanya.


Sementara itu tak jauh beda dengan Dira dan Mirna. Chef Andrian yang telah tiba sore tadi di kota C mencoba berkali-kali menghubungi ponsel Jenita namun hasilnya tetap sama. Panggilannya tak terjawab.


Dia yang memang merasa lelah pada akhirnya memilih beristirahat terlebih dahulu di apartemen nya yang letaknya tak begitu jauh dari ruko Jenita itu.


*


*

__ADS_1


*


Pagi keesokan harinya pun berjalan seperti biasa. Tak banyak yang mengetahui ketidak pulangan Jenita semalam. Marni yang memang tak bisa memejamkan matanya buru buru menghubungi ponsel Jenita. Namun kali ini nomer nya mati, hingga beberapa kali mencoba pun tetap suara operator yang menjawabnya.


Hingga di jam 8 pagi, wanita istri security di ruko Jenita tersebut memberanikan diri untuk menelfon Dira. Gadis manis yang sedang bersiap membuka toko malah bertanya balik. Dia yang memang jarang menghubungi Jenita via telfon tak mengerti. Namun demikian Dira melangkahkan kakinya menuju rumah besar eyang demi mengecek keberadaan Jenita.


"Pagi pak, non Jen sudah bangun?" Dira menyapa security di depan rumah eyang.


"Sepertinya sudah non Dira, non Jen kan selalu bangun pagi. Tapi nggak tau juga saya. Soalnya mobil non Jen tidak kelihatan masuk. Apa mungkin pulang ke kota sebelah lagi ya Non."


Jawab security tersebut sambil tersenyum.


"Jadi Non Jen nggak pulang kesini semalam pak?" Dira bertanya guna memastikannya sekali lagi.


"Nggak non."


"Baiklah pak, saya tunggu dia di toko saja kalau gitu. Makasih ya pak."


"Iya Pak, nanti saya coba hubungi kalau dia belum ada ditoko, ponsel saja tertinggal di toko pak. Ya sudah saya pamit ya pak."


"Ya non Dira silakan."


Dira melangkahkan kakinya lebih cepat. Pikirannya mulai tak enak dan dia berniat untuk pergi ke ruko Jenita dan meminta Marni untuk menceritakan prihal kemarin lebih detail lagi.


"Makin cantik non Dira, untung saja sifatnya nggak menurun dari ibunya." Gumam sang security sambil berlaku dengan kopi di tangannya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Marni segera menyambut kedatangan Dira. Wanita itu benar-benar terlihat cemas, tak biasanya bos cantiknya itu tak bisa dihubungi seperti ini.


"Mbak Dira, bagaimana? ada kabar dari mbak Jen?"

__ADS_1


"Justru aku kesini untuk memastikan keberadaan Jenita. Tadi aku sempat ke rumah utama, namun kata security Jenita tak pulang sejak semalam. Itu artinya Jenita memang belum kembali sejak kemarin siang."


"Ya Tuhan. Kita harus gimana sekarang mbak? bagaimana kalau lapor polisi?" Marni bergerak cemas, wanita itu meremas jemarinya sembari berjalan mondar-mandir. Dirinya bingung hendak melakukan apa. Jika sampai terjadi sesuatu pada bos nya itu maka dirinyalah yang patut disalahkan. Marni yang menerima pesanan dan dia jugalah yang menyanggupi permintaan pemesan walau sudah dengan persetujuan Jenita sendiri.


"Selamat pagi. Ada apa ini?"


Andrian yang baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruko terdiam bingung melihat gerak gerik keduanya yang nampak tak baik baik saja. Ditolehkan wajahnya ke arah Dira dan Marni bergantian. Dia yang belum mengenal Dira nampak mengerutkan keningnya. Kemudian tatapannya beralih kepada Marni demi mendapat penjelasan.


"Chef, untung chef datang. Mbak Jen menghilang sejak kemarin."


"Hilang bagaimana? coba tenang dulu dan jelaskan secara perlahan." Andrian membawa Marni untuk duduk di sebuah bangku.


"Kemarin.. "


Marni menceritakan semua yang dia ketahui mulai dari awal. Dia bahkan memperlihatkan nota pesanan dan alamat yang tertera disana. Dira yang juga berada di sana ikut mendengarkan penjelasan Marni.


"Ini?" Tunjuk Andrian kepada Dira yang sejak tadi.


"Aku adiknya." Dira menjawab


"Adik?" Tentu Andrian kaget, sepengetahuannya Jenita hanya anak tunggal, bagaimana bisa mempunyai seorang adik yang bahkan sebesar Jenita.


"Ini mbak Dira, chef. Dia anaknya pak Hermawan jadi termasuk adik sepupu dengan mbak Jen." Mira menjelaskan sehingga Andrian menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Kemarin di jam 9 pagi, Jenita menghubungi ku dan mengatakan bahwa dirinya akan fokus disini dan menyuruh ku untuk meng-handle toko. Dia juga mengatakan bahwa akan pergi mengantar pesanan. Aku sempat melarang nya namun Jen mengatakan jika itu suatu peluang yang nggak boleh disia siakan. Setelahnya dia tak menghubungi ku hingga tadi malam Marni menghubungi ku dan menanyakan keberadaan Jen." Dira menjelaskan apa yang memang diketahui nya namun sebatas itu karena dirinya masih canggung bahkan terkesan masih berjarak dengan Jenita.


"Ponsel mbak Jen mati, chef. Padahal kemarin sore hingga tadi malam masih hidup, namun mbak Jen sudah nggak menjawab panggilan ku, tadi pagi ku coba menghubungi nya lagi namun malah mati." Marni nampak begitu cemas. Berulang kali dia mengusut air mata yang merembes di sudut matanya.


Sementara itu di sebuah ruangan yang sangat minimal penerangan. Seorang pria sedang mengusap layar ponsel dimana terdapat foto Jenita dengan dua versi, sebagai Jenita dan juga sebagai Claudia. Senyum sinis terlihat dari bibir nya.


"Kenapa harus ada darah dia yang mengalir dalam tubuhmu, andai saja darah itu bisa diganti. Mungkin aku tak akan melakukan hal ini kepadamu." Gumamnya sambil terus memperhatikan foto Jenita.

__ADS_1


__ADS_2