DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 21


__ADS_3

Mengetahui fakta bahwa Andrian memang sedang dimata matai entah oleh siapa membuat keduanya semakin waspada. Keadaan Jenita yang semakin membaik membuat keduanya sepakat untuk membawa Jenita kembali ke kota S. Dengan persiapan matang mereka meninggalkan rumah sakit menuju kota S.


Tak ingin menimbulkan kecurigaan. Alex meminta Andrian untuk kembali terlebih dahulu ke kota C. Rendi sudah sadar dan keadaan lebih membaik walau masih membutuhkan perawatan.


Di kota S, Sinta yang mendapatkan pesan langsung menyiapkan segala hal yang diperlukan Alex dan Jenita. Tak ingin gegabah mereka bahkan bergerak seperti biasa seolah tak terjadi apapun. Hanya mengandalkan orang-orang yang bisa mereka percayai untuk melakukan banyak hal.


Sore menjelang ketika Alex sampai ke sebuah rumah sakit. Di sana sudah ada dokter yang menyambut kedatangannya beserta Jenita. Jenita tak lagi ceria seperti dulu, gadis itu banyak melamun.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Alex menatap wajah yang sedang terlelap dihadapannya kini. Bahagia hadir dalam hatinya ketika dirinyalah orang pertama yang menemukan bahkan menyelamatkan Jenita. Namun tantangan tak berhenti disana.


Tiga hari paska ditemukannya Jenita, banyak hal bergejolak terjadi di perusahaan Jenita yang di kendalikan oleh Sinta. Beberapa perusahaan yang merupakan saingan bisnisnya melakukan penyerangan mengingat CEO cantik, tegas nan cerdas tersebut telah menghilang hampir 2 minggu lamanya.


Karuan saja kejadian itu membuat Sinta kewalahan. Dia yang tak secerdas Claudia tentu mengalami kesusahan. Bahkan Aldi yang turut membantunya secara diam-diam pun tak bisa berbuat banyak.


Sementara Alex masih memaksa agar Claudia memulihkan dirinya terlebih dahulu tanpa memikirkan apapun itu. Bahkan Alex yang mengalami luka sayatan dilengan serta pelipisnya itu mencari cara lain.


"Apa rencanamu?" Tanya Andrian yang masih berada di kota C. Pria itu masih melakukan penyelidikan kepada orang-orang di sekitar Jenita. Tak adanya permintaan tebusan ataupun upaya berarti yang dilakukan mereka, semakin menguatkan dugaan bahwa menghilangnya Jenita adalah sebuah kesengajaan.


"Aku ambil alih sementara."


"Caranya? kau tak bisa mengambil alih semuanya. Sementara saham mereka jika digabung masih lebih tinggi dari sahammu."


"Bagaimana dengan sahammu? bukankah kau juga memilikinya disana?"


"Maksud mu? kau ingin membeli sahamku dan menggabungkannya untuk melawan mereka?" Andrian kini masih berada di sebuah swalayan. Dia yang masih merasakan selalu diawasi menjadi sangat sensitif. Bahkan di apartemen nya sendiri. Banyak kemungkinan yang tak bisa diprediksi sebelumnya. Oleh karenanya, Andrian selalu mempunyai cara tersendiri untuk menghubungi Alex.


Ditempat yang ramai kemungkinan untuk dirinya diawasi lebih dekat sangat kecil.


"Akan ada orang suruhanku yang datang menemuimu. Mengenai yang lainnya, aku percaya kamu sanggup melakukannya."

__ADS_1


"Thanks, Ndri. Kamu sudah banyak membantu kami."


Alex yang kini berada dan tinggal di apartemen menatap Jenita yang kembali melamun di atas sofa yang menghadap balkon kamarnya. Lelaki itu menghela nafas namun senyum terukir indah di wajahnya.


"Aku nggak akan membiarkan usaha yang telah kamu rintis menjadi sia sia, sayang. Aku akan melakukan apapun untuk mengembalikan senyummu." Gumamnya pelan setelah panggilan telpon nya bersama Andrian berakhir.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Rapat pemilik saham menjadi alot. Bahkan tak ada diantara mereka yang mau mengala. Dua pengusaha yang memiliki saham besar di perusahaan Claudia meng Klaim jika merekalah yang berhak menggantikan Claudia memimpim perusahaan.


Dua minggu ketidak hadiran Claudia memang berakibat fatal. Keuntungan perusahan bahkan turun 20 persen dan itu yang membuat suasana menjadi lebih panas.


"Sebenarnya, situasi seperti ini bisa kita atasi dengan kepala dingin. Bukankah ini baru pertama terjadi dan penyebabnya adalah CEO Claudia yang tak bisa dihubungi beberapa waktu terakhir. Tapi bukan berarti beliau tak ada cara untuk mengendalikannya. Hanya saja memang membutuhkan waktu, sebaiknya kita tenang dan menunggu hingga CEO Claudia kembali."


"Menunggu hingga kita mengalami kerugian yang semakin besar dari ini?"


"Pergantian pimpinan bukanlah solusi terbaik saat ini."


Perdebatan perdebatan terus terjadi dalam ruang rapat. Pro dan kontra terus terdengar. Hingga tak lama pintu ruangan rapat terbuka dan sosok Alex melangkah masuk. Bersama dengan Sinta dan Aldi yang berjalan di belakangnya.


"Selamat siang, maaf kami datang terlambat." Ucapnya seraya mengambil tempat duduk di mana itu adalah kursi yang biasa ditempati oleh Claudia.


"Anda siapa? dan kenapa anda seenaknya mengambil duduk disana?"


Alex tersenyum miring, dibiarkan nya Sinta menjelaskan secara detail mengenai kepemilikan saham perusahaan dan penggabungan beberapa saham menjadi saham yang besar.


"Tuan Alex telah mengambil alih saham nona Claudia, dan juga Tuan Andrian. Beliau juga mempunyai saham disini." Sinta menegaskan dengan tenang


"Bukankah dia CEO perusahaan GFK yang terkenal kejam itu?"


"Benar dia pembisnis muda yang susah untuk didekati bahkan untuk menjalin kerja sama dengannya pun sulit."

__ADS_1


Kasak kusuk diruang rapat kembali terdengar, namun tidak ada seorangpun yang berani berbicara lantang seperti sebelumnya. Mereka sangat tau pasti tabiat lelaki muda yang sedang duduk dihadapan mereka. Lelaki yang terlihat tampan dengan sorot mata tajam dengan sebuah perban dikeningnya, namun itu tak sedikitpun mengurangi ketampanan Alex.


"Untuk sementara saya yang akan menduduki kursi pimpinan sambil menunggu tunangan saya kembali. Dan saya harap anda sekalian mau berkerja sama dengan saya untuk itu." Alex berucap tegas


"Saya akan meng back-up semuanya. Mengenai kerugian yang kalian hadapi juga nanti asisten saya akan menyelesaikan nya. Jika ada keluhan silakan dibicarakan pada asisten saya maupun nona Sinta."


Alex melangkah keluar dari ruang rapat. Dirinya tak bisa tenang meninggalkan Jenita seorang diri di apartemen. Walaupun beberapa orang masih menjaganya, namun Alex lebih tenang jika bisa memantau gadis itu dengan matanya sendiri.


Semua sudah diatur, dengan otak cerdasnya Alex tak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan krisis internal yang dialami perusahaan Claudia.


*


*


*


"Kau sudah kembali?" Claudia menatap Alex yang melangkah masuk ke dalam apartemen.


"Heem, bagaimana perasaan mu hari ini?"


"Sudah lebih baik."


"Baguslah, ada yang kamu inginkan?"


"Aku ingin pulang. Mama pasti mengkhawatirkan ku." Ucapnya sambil menunduk.


Alex menghela nafas panjang beberapa hari lalu dirinya telah menemui nyonya Lidia dan memberitahu kan tentang keadaan Jenita. Karuan saja wanita baya tersebut menjadi histeris. Beruntung Alex datang bersama Sinta dan mereka berhasil menenangkan Lidia. Bahkan Alex memberikan akses kepadanya untuk dapat melihat keseharian Jenita. Alex memasang CCTV di beberapa sudut ruangan apartemen yang ditinggalinya bersama Jenita. Namun tentu saja tidak dengan kamar nya sendiri.


"Tidak untuk sekarang sayang. Kamu harus pulih terlebih dahulu, dan bangkit kembali. Menjadi Claudia yang kuat seperti sebelumnya dan menjadi Claudia yang tambah kuat agar tak ada lagi orang yang bisa meremehkanmu nantinya. Percayakan semuanya padaku."


Alex tersenyum, ditatap sedemikian rupa oleh Jenita membuatnya sedikit salah tingkah hingga memilih untuk pergi ke kamarnya sendiri.

__ADS_1


Jenita berusaha keras untuk sembuh dari trauma nya. Beruntung dokter mengatakan dirinya tak perlu melakukan terapi khusus. Hanya saja, ketergantungan obat tidur yang masih membuatnya lemas. Rasa gelisah yang berlebihan akan datang ketika malam menjelang. Bagaimanapun diwaktu itu dalam penyekapan Jenita hanya bisa pasrah dengan apapun yang terjadi dengannya.


__ADS_2