
Jenita tetap bersikap seperti biasa, tak ada yang berubah pada gadis cantik tersebut. Jenita terus saja menyapa setiap tamu undangan maupun konsumen yang kebetulan datang pada hari itu. Gadis cantik tersebut sempat merasa khawatir yang teramat sangat pagi tadi. Namun Alex dapat menyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Hingga senyum itu selalu dapat tersungging dengan indahnya.
"Gimana? sudah siap dong ya?" Jenita mendekat dan mengerling jenaka pada Andrian yang malah tergelak dengan tingkah gadis cantik tersebut.
"Siap dong, masa udah ganteng begini masih dikata belum siap juga."
"Dih, dasar narsis. Ayam aja gedek liat kamu tuh." Jenita mencibir.
"Eh masa iya? berarti tuh ayam lagi kagak pakai kacamata makanya kagak bisa liat kegantenganku."
"Lah gimana mau naksir orang tiap hari telurnya kamu pecahkan juga."
"Hadeh dasar resek kalian ya. Kagak laki kagak bini semuanya punya ember bocor."
Ganti Jenita yang tergelak kencang. Cerita tentang burung dalam sangkar yang sempat membuat Andrian keki terhadap Alex sudah sampai ke telinganya. Karuan saja semua itu dijadi bahan ledekan oleh Jenita.
Andrian menggeleng tak percaya dengan menampilkan wajah muram meminta belas kasihan namun yang ada gelak tawa itu semakin kencang manakala si biang kerok ikut datang bergabung entah dari mana datangnya lelaki kaku tersebut hingga tiba-tiba muncul diantara keduanya.
"Sudah pandai bicarakan? bagaimana latihannya sama si beo, apa ada kemajuan?" Alex berujar datar.
"Beo?" Baik Jenita maupun Andrian tentu saja tak mengerti arah pembicaraan Alex.
Lelaki tersebut yang tiba-tiba datang menyela malah membuat kalimat yang absurd seperti itu.
"Bukannya kamu mau berpidato? aku sudah menyuruh Rendi mengantarkan burung Beo ke apartemen mu. Bukankah itu membantumu saat latihan?" Ocehnya masih dengan mimik datar.
"Sarap." Kesal Andrian yang memelototkan matanya,
Namun tentu saja semua sia sia belaka, Alex masih tenang di tempatnya sedangkan Jenita kembali terbahak hingga membuat beberapa tamu menoleh ke arah ketiganya berada.
*
__ADS_1
*
*
Dira yang berada tak jauh dari sana hanya tersenyum tipis. Kembali menatap jam yang terasa sangat lambat berjalan. Ingin rasanya dia gerakkan jemarinya untuk memutar jarum itu supaya lebih cepat lagi karena sudah tak saba.
Lima belas menit berlalu ketika sebuah mobil hitam dengan Hermawan yang berada di dalamnya keluar. Lelaki paruh baya tersebut nampak menampilkan senyumnya ke pada semua orang yang telah hadir. Hingga lima menit kemudian seorang mc naik ke atas panggung dan mulai membuka acara.
🍃🍃🍃🍃🍃
"Ada pergerakan!!"
"Dua orang bergerak, ikuti target!! usahakan jangan sampai lolos."
Aldi mengendalikan semua anak buahnya hingga hanya dengan mendengar instruksi darinya semua bergerak pada titik yang di tuju.
Anto berjalan mendekat ke arah Aldi. Mereka masih berada di markas dengan Aldi sebagai komandonya.
"Bagaimana dengan dua orang itu?"
"Panggil aku Aldi saja biar enak, umur kita tak jauh beda kan?"
"Tim kamu akan bergerak sebentar lagi, sesuai dengan instruksi tuan muda. Kita telah merubah strategi awal. Aku sendiri tak tahu apa rencana tuan muda hingga merubah semuanya, tapi aku yakin semua pasti ada hubungannya. Cukup peringatan semua anggota tim untuk selalu waspada, kita tak boleh lengah sedikitpun."
Anto mengangguk, pemuda tegap tersebut benar-benar menepati janjinya dihadapan pusara sang ayah. Dia mengabdikan diri untuk Alex dan Jenita sebagai bentuk penebusan dosa yang telah dilakukannya waktu itu. Meski keduanya sudah memaafkannya, namun Anto masih merasa bersalah. Apalagi ketika dirinya mengetahui bagaimana kisah kehidupan yang harus Jenita jalani selama ini. Kembalinya Ikbar dan seringnya berinteraksi dengan Lidia membuatnya merasakan kembali kehangatan keluarga yang sangat dirindukan nya. Tak ada dendam yang terpancar dari mata keluarga tersebut padahal tindakannya waktu itu tak bisa dimaafkan akal orang waras. Hanya orang gilalah yang membenarkan tindakannya kepada orang baik baik seperti mereka.
"Ada satu kejanggalan." Ucap Aldi yang membuat fokus mereka semua kembali.
Aldi segera merubah tampilan CCTV yang terpasang di beberapa tempat disekitaran toko. Dengan proyektor yang sengaja di pasang mereka bisa melihat dengan lebih mendetail segala kejadian.
"Fokus pada mobilnya." Pintanya kemudian.
__ADS_1
Tak hanya Aldi, bahkan Rendi, Anto dan beberapa orang yang memang merupakan kelompok inti para pengawal Alex mengikuti arah pandang yang di tunjukan oleh Aldi.
"Mobil serupa tapi tak sama." Rendi berujar dan di angguki oleh Aldi.
"Ada yang tak beres disini."
Semua yang berada di dalam ruangan saling pandang kemudian kembali fokus dengan apa yang terlihat dilayar yang berada di hadapan mereka.
"Siaga 3." Perintah Aldi mutlak ketika melihat gelagat aneh yang semakin mencurigakan. Dengan cepat mereka bergerak dan mulai meng komando anak buah mereka masing-masing yang telah berada di posisi mereka dalam lapangan.
Hanya tersisa Anto dan Rendi yang berada di ruangan tersebut guna menunggu instruksi berikutnya dari Aldi.
Tak berapa lama sebuah kode masuk dan mereka segera mengecek titik lokasi kode tersebut berasal. Ketiganya saling pandang setelahnya Anto bergerak untuk memerintahkan beberapa anak buahnya menuju lokasi yang telah di berikan anak buah yang lainnya.
Sementara itu di halaman toko Eyang Sulastri. Acara telah ramai karena masuk acara diskusi santai serta obrolan mengenai kuat kiat sukses dari Andrian dan Jenita.
Keduanya secara bergantian menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh para pengunjung. Canda tawa dan suasana kekeluargaan nampak kental terasa.
Alex tersenyum tipis melihat kearah Dira dan Hermawan yang nampak gelisah. Lelaki dengan mata elang tersebut menikmati semua drama yang kini tengah di putar secara live dengan menampilkan Andrian dan Jenita sebagai lakon.
*
*
*
"Apa yang terjadi? kenapa anak buahmu belum juga bertindak?" Hermawan berbisik dengan suara sedikit menggeram kesal. Dira yang berada disebelahnya nampak meneguk ludahnya kelat. Gadis itu meraih ponsel mencoba menghubungi ke dua anak buahnya yang berada berbaur dengan para pekerja yang bertugas sebagai operator disana.
"Kalian menunggu apalagi? kenapa lama sekali!! lakukan segera!!!" Tulisnya.
Pesan yang masuk tentu saja segera berbalas. Dira tersenyum puas ketika orang kepercayaannya tersebut menulis ok setelah sesi tanya jawab berakhir.
__ADS_1
Keadaan yang terjadi di halaman toko Eyang Sulastri tentu berbanding terbalik dengan suasana yang tengah dihadapi oleh anak buah Anto. Setelah terlibat baku hantam dengan beberapa orang yang berada di lokasi dimana mereka mengintai sebuah mobil hitam yang mencurigakan. Mereka kembali ke markas, setelah mendapat instruksi langsung dari Aldi disana.
Tak ada yang mencurigakan dan semua berjalan sangat rapih, meski Alex telah melibatkan pihak berwajib dalam hal ini. Namun lelaki tersebut juga memastikan bahwa mereka akan mengikuti semua skenario yang telah lelaki tersebut buat.