
Benar kata pepatah yang mengatakan
"Pikiran manusia itu akan berubah dalam setiap menitnya. Terkadang pula akan berubah beberapa detik ketika telah diucapkan. Namun, ego setiap orang yang berbeda membuat segala pemikiran akan berubah menurut ego masing-masing tanpa pernah lagi mengunakan akal pikiran yang sebenarnya."
Lalu siapa yang patut disalahkan?
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Waktu telah menunjukkan pukul 10 pagi. Satu jam lagi acara besar tersebut akan dimulai. Semua telah bersiap di tempatnya masing-masing tanpa terkecuali Aldi, Rendi dan juga Anto yang menjadi poros pengamanan super baja yang Alex dirikan.
Setelah berdebat beberapa waktu pada akhirnya Lidia menyerah dengan keputusan sang suami. Ikbar dengan lantang menginginkan untuk hadir disana.
Tak hanya keselamatan namun Lidia juga mengkhawatirkan kesehatan lelaki tersebut. Akan tetapi mendapati senyum dan kebahagiaan yang terpancar dari sorot mata dan juga rona wajahnya membuat Lidia tak kuasa lagi untuk ikut tersenyum.
"Semua akan baik baik saja, sayang." Ucap lelaki tampan pada masanya tersebut sambil meremas pelan jemari sang istri yang tak pernah beranjak jauh dari sisinya.
Trauma mendalam tentu dirasakan oleh Lidia. Bertahun-tahun dirinya hidup dalam kepercayaan semu yang menganggap lelaki yang teramat dicintainya tersebut telah berpulang membuatnya tak ingin lepas sedetikpun dari sisi Ikbar.
Separuh umur waktu mereka telah terbuang sia-sia karena sebuah kesalahan yang entah siapa pemicunya. Mata yang tak lagi muda tersebut saling menatap penuh cinta. Ikbar yang belum bisa bergerak bebas hanya mampu melakukan gerakan-gerakan kecil namun mampu membuat seorang Lidia bahagia. Teramat sangat bahagia malahan hingga lupa jika mereka tak hanya berdua di ruangan tersebut.
"Kalian mau saingan dengan putri kalian nanti?" Kuncoro menetap ke arah keduanya dengan tangan yang terlipat di dada.
Lidia hanya mengulum senyum dan memeluk suaminya erat. Sementara Ikbar terkekeh sambil menatap sang sahabat yang menggelengkan kepalanya.
"Sudah waktunya berangkat!!" Kuncoro kembali berujar sambil menatap jam yang melingkar di lengan kirinya.
"Mobil sudah disiapkan dan kalian berdua harus ingat, jangan keluar sebelum ada aba aba atau pengawal yang menjemput kalian nanti."
__ADS_1
Sebaik apapun pengamanan yang telah disiapkan oleh sang putra. Kuncoro masih harus waspada dengan segala kemungkinan yang terjadi. Apa yang terjadi puluhan tahun lalu terhadap sang sahabat membuatnya semakin khawatir, tak ingin kejadian yang sama terulang lagi.
"Makasih, Kuncoro." Lelaki yang disebut namanya hanya mengangguk dengan senyum tipis di sudut bibirnya.
*
*
*
Dira menatap penuh minat kearah panggung yang seyogyanya disediakan untuk Andrian selaku pembicara. Seringaian tipis nampak dari wajah manis nya. Ada debar yang membuncah memenuhi relung hatinya. Tak sabar ingin mengetahui bagaimana anggapan orang setelah semua terungkap di depan publik.
Semua gerak geriknya telah diawasi dan dipantau dengan ketat tanpa sepengetahuannya. Dira hanya terfokus pada kedua orang suruhannya yang nampaknya telah berada di posisi mereka masing-masing.
Kembali senyum itu tersungging di bibirnya. Kemenangan sudah terlihat di pelupuk matanya. Dan Dira yakin, penantiannya yang panjang selama ini akan segera terbayar lunas.
*
*
*
Sesuai instruksi, Andrian tetap melakukan tugasnya secara profesional. Baik sebagai chef yang kali ini ditunjuk sebagai pembicara, maupun sebagai orang yang menjadi alat bagi Dira dan juga Alex. Mengingat keduanya terkadang membuat Andrian menarik nafas dalam dalam untuk menghilangkan rasa kesalnya.
Akan tetapi rasa dalam hatinya membuat chef tampan tersebut yakin akan langkahnya kali ini.
Sebuah mobil berwarna hitam metalik nampak memasuki pelataran toko. Dengan senyum yang terus terpendar dari bibirnya Jenita melangkah dengan pasti. Melewati beberapa undangan yang telah datang lebih awal. Nampak juga gadis cantik tersebut melambaikan tangannya kearah para awak media yang datang untuk meliput acara kali ini.
__ADS_1
Sebuah acara terselubung dengan kedok sebagai ajang promosi produk toko itu ternyata menyedot banyak peminat. Selain toko peninggalan Eyang Sulastri memang terkenal dengan rasa khas yang ada pada kue bolunya. Orang yang datang pun kebanyakan adalah para penggemar berat Chef Andrian dan juga Jenita. Keduanya menjadi sosok muda yang di kagumi karena pencapaian serta kecerdasan mereka. Meski semua itu belum ada apa apanya di bandingkan dengan apa yang di raih oleh seorang Alex.
Bicara tentang Alex, kemana perginya lelaki tampan nan dingin tersebut. Karena Jenita nampak datang seorang diri kali ini.
Namun Alex tetaplah Alex. Yang selalu mempunyai sisi mengejutkan bagi semua orang. Bagaimana tidak? dua jam yang lalu tiba-tiba lelaki tersebut meminta Aldi juga yang lainnya mengubah alur skenario yang telah mereka sepakati sebelumnya. Karuan saja semua itu membuat Aldi mengumpat tak jelas meski tetap melaksanakan apa yang bos sekaligus sahabat baiknya itu mau.
"Jangan menggerutu begitu Al. Wajahmu yang sedikit tampan itu akan terlihat jelek nanti."
Aldi berdecak kesal. Bosnya tersebut telah kembali ke mode menyebalkannya. Lelaki yang memang sempurna dari segi penampilan, fisik maupun materi dan juga kecerdasan otaknya tersebut malah kembali terkekeh kala mendengar asisten pribadinya kembali menggerutu dengan menampilkan wajah jengkelnya.
Selama bertahun-tahun bergelut dalam kerajaan bisnis yang membesarkan namanya. Tak ada orang yang bisa mengusik seorang Alex apalagi sampai berani menentang secara terang terangan. Hanya Aldi, sang asisten dan sahabat nya yang berani melakukan semua itu. Bahkan pemuda tersebut melempar tatapan yang mematikan namun tentu saja semua sia sia belaka. Karena apa yang diinginkan Alex tentu itulah yang akan dilakukannya.
"Ckck, menyingkir sana. Kedatanganmu hanya membuat kepalaku semakin pusing saja." Tukasnya yang semakin membuat tawa Alex terdengar lebih keras. Tawa yang membuat para pengawalnya mengaga karena tak menyangkah jika lelaki yang nampak mengerikan hanya dengan menatap matanya saja itu bisa tertawa sedemikian rupa.
Alex yang tersadar segera berdehem pelan namun senyum terukir di bibirnya melihat Aldi yang sedang lincah memainkan jarinya di atas keyboard tanpa mempedulikan keberadaannya lagi.
Alisnya menukik naik ketika mendapati tatapan Aldi ke arahnya. Dia tentu sangat tahu arti tatapan itu. Sejak kecil keduanya selalu bersama hingga membuat mereka hafal dengan karakter masing-masing.
"Apa?"
"Kau tak salah dengan menghadirkan om Ikbar nantinya? bukankah ini akan sangat ber resiko nantinya?" Tatapan Aldi menuntut jawaban, dia yang tak tahu menahu alasan sebenarnya Alex mengubah skenario tentu kembali bingung.
Masalahnya bukan takut, namun posisi aman dengan para pengawal yang tersebar disekitar tenda bahkan toko eyang belum tentu menguntungkan bagi keselamatan Ikbar dan Lidia nanti. Karena fokus mereka hanya tertuju pada Jenita dan juga Andrian.
Tau apa yang dipikirkan Aldi membuat Alex kembali tersenyum, bahkan disaat begini pun. Sang asisten ikut memikirkan banyak kemungkinan kemungkinan yang mungkin saja muncul tanpa terduga disana.
"Papa ada bersama mereka, dan kamu jangan khawatir. Semua sudah dalam pengaturan." Alex berujar pelan seraya menepuk pelan bahu sang sahabat. Yang kemudian memberikan sebuah anggukan pelan tanda dia telah mengerti.
__ADS_1