
Aldi menatap lekat bos nya. Lelaki dengan ketampanan diatas rata-rata tersebut masih diam tak bergeming ditempatnya. Beberapa saat lalu dirinya berbincang dengan sang ayah. Kuncoro menghubungi sang anak setelah rapat umum perusahaan berakhir.
Semua berjalan begitu cepat bahkan lebih cepat dari yang Alex perkirakan. Pada awalnya dia mengira akan sedikit kesulitan membujuk calon ibu mertuanya tersebut. Namun nyatanya semua berjalan lancar.
"Lalu apa selanjutnya?" Aldi yang sedari tadi ikut terdiam pada akhirnya buka suara.
"Hanya tinggal Jen, dan ini adalah bagian terberatnya. Aku harus bisa meyakinkannya dan itu pasti sulit. Jen terlalu percaya pada orang lain."
"Bagaimana jika kita menunggu sampai Tante Lidia datang? setidaknya kita masih ada waktu untuk pelan pelan membuat nona mengerti. Dan juga, Andrian kemungkinan besar akan sampai sore ini." Aldi kembali menatap Alex yang balas menatapnya.
Alex memijat pangkal hidungnya. Sesungguhnya dia tak ingin melibatkan banyak orang. Namun sadar akan bahaya yang mengancam Jenita sewaktu-waktu membuatnya harus melakukan langkah cepat dan banyak pihak yang terlibat.
"Lakukan rencana 2." Alex berujar cepat.
"Resikonya berkali lipat, Lex. Kau tahu itu kan?"
"Aku tahu. Tapi ini juga cara tercepat yang bisa ditempuh agar semua masalah segera teratasi. Seandainya kita menunda dan mengulur waktu, bukan tidak mungkin mereka akan kembali menyusun rencana dan semakin membahayakan keselamatan Jen."
Aldi terdiam, apa yang Alex katakan memang ada benarnya. Namun dengan rencana ke dua pun resikonya juga semakin besar. Tak ada alasan lain baginya selain mengangguk dan mempersiapkan segala kemungkinan yang ada.
*
*
*
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃
Lidia yang telah sampai ke kediamannya melangkahkan kakinya menuju ruang kerja sang papa. Di sana, di sebuah lemari kecil yang tersembunyi di balik rak buku dikeluarkannya semua barang peninggalan mendiang Ikbal, suaminya.
Di sanalah semua kenangan dan kisah masa lalu tersimpan dengan rapi. Entah firasat atau apa, dua hari sebelum berita kematiannya terdengar. Ikbar meminta Lidia untuk pulang ke rumah pribadi mereka berdua dan menyimpan kotak tersebut dengan baik.
Tak ada kata ataupun ungkapan yang dilontarkan oleh Ikbar membuat Lidia tak pernah menaruh curiga tentang apapun itu. Ikbar hanya berpesan agar menyimpan kotak tersebut dengan baik.
Hingga disaat dirinya memutuskan untuk pergi. Lidia tetap membawa kotak tersebut bersamanya.
"Aku selalu berharap, semua ini akan terus tersimpan dan tak pernah lagi keluar ataupun mengungkitnya. Tapi aku tak punya pilihan lain, mas. Semua demi keselamatan putri kita." Ucapnya lirih.
Di bukanya sebuah Album dan juga catatan kecil peninggalan Ikbar. Semua masih rapi tertulis dan tertata disana. Perlahan air mata Lidia menetes, rasanya masih sama ketika dirinya membuka dan membaca semua yang isi dalam kotak untuk pertama kali 20 tahun lalu.
Ya, kotak itu terbuka setelah 3 tahun kepergian Ikbar. Atas desakan sang ayah lah Lidia akhirnya mau membukanya dan mengetahui segala kebenarannya kemudian.
"Aku sudah siap, mas. Jika memang ini yang seharusnya aku lakukan." Diusapnya foto Ikbar yang sedang tersenyum, seolah senyum itu menular hingga bibir Lidia pun melengkung membentuk senyum tipis disela air mata yang masih mengalir di kedua pipinya.
🍃🍃🍃🍃🍃
"Mobil tersebut keluar dari rumah besar itu di pukul 5 tadi pagi. Dan sekarang sudah terparkir di sebrang ruko milik nona."
Alex membaca laporan anak buah nya dengan seksama. Di sepanjang lorong menuju rumah yang menjadi target pengintaian mereka telah ada beberapa orang anak buahnya siaga setiap waktu. Begitu pula di sekitar ruko dan toko Jenita. Tak ingin kembali kecolongan pada akhirnya Alex memilih melakukan hal itu.
"Dugaanku semakin besar terarah padanya. Entah motif apa yang dia punya hingga melakukan hal itu." Gumamnya pelan.
__ADS_1
Bagaimana dengan tante Lidia? mungkin beliau mengetahui sesuatu yang bisa kita jadikan petunjuk." Aldi yang masih setia berada di sisi bos nya tersebut berujar.
"Itu dia masalahnya. Tante Lid menutup dirinya, bahkan tentang kisah masa lalunya. Aku tidak bisa memaksanya untuk bercerita tanpa inisiatif nya sendiri."
"Akan sulit jika kita hanya bisa menebak nebak saja. Bagaimanapun semua tetap berjalan dan jika kita tak mendapatkan solusi yang pasti semua akan percuma dan sia sia."
"Sejauh ini sudah mulai lumayan, paling tidak tante Lid tak lagi bersembunyi. Bahkan dirinya sudah berani menunjukkan diri didunia luar. Hanya butuh waktu dan untuk sementara sebaiknya kita fokus untuk keselamatan Jenita dan pengawasan rumah tersebut. Aku sangat yakin disana ada rahasia besar yang tersimpan." Alex menatap dengan sorot tajam. Baginya, menghadapi lawan bisnis jauh lebih muda dibandingkan menghadapi hal yang rumit begini.
Sementara itu Lidia tengah bersiap untuk pergi. Kota C dimana sang putri berada adalah tujuannya kini. Dirinya telah bertekat untuk bisa menjadi pelindung untuk putrinya tersebut. Paling tidak dia bisa memastikan keadaan Jenita dengan matanya sendiri.
Koper kecil telah siap dalam bagasi. Tak ingin menunda waktu terlalu banyak pada akhirnya mobil yang membawanya pergi melaju dengan seorang sopir. Nampak hanya satu mobil yang keluar dari halaman rumah besar tersebut. Namun anak buah Kuncoro yang memang di sebar disekitar kediaman Lidia guna menjaga keselamatan wanita baya tersebut bergerak cepat tanpa membuat curiga. Bahkan Lidia sendiri tak mengetahui bahwa dirinya sedang diawasi.
Sibuk dengan pergolakan pikiran membuat Lidia terlelap dalam perjalanan. Wanita cantik di usianya yang tak lagi muda tersebut nampak lelah dengan guratan hitam di bawa matanya.
Hingga senja menjelang barulah mobil yang ditumpanginya masuk perbatasan Kota C. Rasa berdebar tentu ada, namun Lidia lebih merasa was was tentu tentang sang putri.
"Putri kalian adalah gadis kuat. Dia bahkan mampu tersenyum demi menyimpan rapat lukanya karena tak ingin membuatmu khawatir. Semestinya dirimu bangga karena memilikinya, dia semangatmu. Karena itu, bangkitlah!!! bantu putrimu melawan ketidak adilan."
Kata kata Kuncoro yang melecut jiwanya. Membuat Lidia tersadar oleh keegoisannya selama ini. Dirinya memang tenang dalam persembunyiannya dan tak lagi berurusan dengan dunia luar. Namun dia melupakan jika sang putri membutuhkan kebebasan tersebut.
Mobil terus melaju semakin masuk ke dalam kota. Kota yang menyimpan banyak kenangan dan luka. Kota yang membuatnya harus mengubur cintanya dalam dalam. Kota tempat dimana suaminya lahir dan juga pergi meninggalkannya.
Alex yang mendapat kabar dari salah satu anak buah Kuncoro segera meminta Aldi untuk pergi menyambut Lidia. Kedatangan yang mendadak tentu membuatnya sedikit terkejut namun senyum tipis terukir di bibir lelaki tampan dengan mata elang nya yang menyorot tajam.
*
__ADS_1
*
To be continue