DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 58


__ADS_3

Cinta datang pada siapa saja tanpa bisa diduga-duga. Dia bahkan tak akan memilih untuk sekedar berlabuh. Dia akan masuk hati siapa saja sesukanya tanpa harus berpikir tentang keadaan, waktu atau status yang tepat. Namun memang begitulah ciri khas dari sebuah kata yang orang sebut dengan kata Cinta.


Kebahagiaan yang menyelimuti hati pasangan yang telah bersama beberapa bulan belakangan namun baru saja saling mengungkapkan perasaan masing-masing tersebut membuat iri sebagian orang yang melihatnya.


Perhatiannya seorang Alex seolah menjadi pemandangan langkah bagi para pencari berita. Mereka tak pernah menyangkah jika seorang Alex bisa bersikap selembut itu dengan wajahnya yang datar.


Genggaman tangannya tak pernah lepas dari jemari lentik Jenita dan itu semakin membuat orang iri. Acara pulang kantor pun keduanya lakukan mengingat tak adalagi kegiatan setelah ini.


Mobil yang dikendarai sendiri oleh Alex melaju pelan meninggalkan perusahan yang berdiri kokoh menjulang tak tergoyah meski orang-orang didalamnya selalu sibuk dengan banyaknya berkas.


Masih ada hal yang mengganjal pikiran Alex hingga saat ini. Keberadaan Ikbar yang masih dia sembunyikan pada Jenita. Bertambah lagi 1 orang yang harus dia jaga keselamatannya dan dia yakin semua itu tak akan mudah.


Langsung pulang menuju apartemen yang sebenarnya pernah mereka tempati berdua disaat Jenita melakukan pemulihan paska penculikan nya waktu itu.


Tak ada yang berubah dari ruangan itu. Semua masih sama tertata rapih seperti dulu pertama kali Jenita melihatnya. Pesuruh yang biasa membersihkannya pun tetap datang dua hari sekali untuk membersihkan apartemen yang terbilang sedikit mewah tersebut.


Dua kamar terpisah seperti biasa akan mereka tempati selama berada di kota S. Alex tak pernah mengijinkan Jenita tinggal di kediamannya sendiri atau apartemennya. Bahkan ketika wanita cantiknya itu merengek untuk sekedar menginap di apartemen milik Sita.


"Mau makan malam diluar?" Keduanya nampak rapih dan segar setelah sama-sama membersihkan tubuhnya.


Melewati hari yang mendebarkan membuat Jenita sedikit rileks kali ini.


"Aku ingin memasak, bolehkah? sudah lama rasanya aku tak melakukan itu."

__ADS_1


Alex hanya mengangguk tapi tatapannya tak beranjak dari tablet pintar yang berada di tangannya. Semua laporan telah masuk kepadanya. Termasuk tentang Dira yang sedang berada di ruko tempat produksi milik Jenita.


Sementara Andrian masih berjaga di toko selama Jenita pergi ke kota S. Tak banyak memang yang chef tampan itu lakukan namun setidaknya perannya sangat penting disana mengingat Jenita yang sedang mengurus hal lain.


Kabar tentang konfrensi pers yang dilakukan gadis tersebut bahkan membuat perubahan besar pada usaha bolu nya. Banyak konsumen yang datang hanya ingin mencicipi bagaimana bolu dan kue hasil karya seorang Ceo kenamaan.


Andrian tentu menyambut dengan antusias tinggi kedatangan orang-orang tersebut. Sebuah ajang promo yang tak memerlukan modal sedikitpun karena mereka sendiri yang akan datang. Keberadaan Andrian disana malah menambah daya tarik bagi konsumen, siapa yang tak tahu dengan prestasi chef tampan yang murah senyum tersebut.


Kolaborasi antara Alex dan Jenita saja sudah membuat orang lain berdecak kagum dan semakin membuat ciut para lawan bisnis mereka. Kini ditambah dengan kehadiran Chef Andrian membuat orang lain berpikir berkali-kali lipat untuk mencari peluang menjatuhkan mereka.


Sisi lain dari Alex yang merupakan cucu tinggal dari mendiang pengusaha kawakan tuan Gerrick. Dan juga nama Kuncoro sebagai ayahnya yang tak bisa diragukan lagi sepak terjangnya dalam dunia bisnis. Harus bersatu dengan Jenita yang terkenal cerdas dalam mengamati peluang yang ada.


Keadaan berbanding terbalik diposisi Hermawan dan Ayunita yang semakin terpojok dengan segala kemungkinan peluang yang ada. Jalan mereka seolah buntu hingga mereka hanya memilih untuk diam sambil mengikuti perkembangan yang terjadi.


Hermawan meremas rambutnya kasar. Tak menyangkah kalau Jenita akan punya keberanian untuk mengungkap jati dirinya bahkan dengan tegas menyebutkan nama Ikbar dan Lidia sebagai orang tua kandungnya.


Dia yang selama ini publik ketahui sebagai cucu keponakan dari sang kakek membuat orang lain tercengang. Namun Jenita berhasil menyampaikan fakta yang kemudian dapat dimengerti oleh sebagian orang yang menganggap semua tindakan tersebut bisa dibenarkan demi melindungi keselamatan Jenita dari sepak terjang para musuh mendiang sangat kakek di dunia bisnis.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Perlahan Lidia mulai bisa menguasai dirinya. Dia tak lagi terlihat sering melamun. Siang ini, setelah membantu sangat suami membersihkan diri dengan handuk kecil untuk menyeka tubuhnya. Lidia mengajak Kuncoro untuk berbicara. Sejak datang wanita itu memang belum banyak berbicara, hanya diam dan terus menangis lirih.


"Sejak kapan kamu mengetahuinya?"

__ADS_1


Keduanya berada di balkon ruangan dimana Ikbar dirawat. Lantai 3 menjadi lantai yang hanya dikhususkan untuk orang-orang Alex. Tak ada yang bisa masuk kesana tanpa ijin.


"Dua hari sebelum dirimu datang kemari."


Lidia menata tak percaya pada sahabat suaminya tersebut. Dia yakin bahwa Kuncoro mengetahui semuanya sejak lama.


"Aku bersungguh-sungguh. Alex memintaku datang setelah anak buahnya menemukannya di ruang bawah tanah kediaman kalian. Awalnya aku pun tak percaya jika tak membuktikannya secara langsung, itu alasannya kenapa aku bisa berada disini. Alex berpikir bahwa aku akan dengan mudah mengenali sosok Ikbar. Karena kami bersahabat. Dia sengaja menyembunyikan semuanya darimu dan Jenita terlebih dahulu hanya untuk bisa memastikan bahwa sosok yang berhasil diselamatkan oleh anak buahnya tersebut benar-benar adalah Ikbar."


Kuncoro menjedah ucapannya sebentar. Disandarkan kepala pada sandaran sofa. Matanya menerawang jauh kedalam ingatan dia hari lalu saat dirinya pertama kali melihat sosok Ikbar terbaring lemah dihadapannya.


"Aku bahkan tak mengenalinya diawal. Keadaannya sangat memperihatinkan. Bekas luka ditubuhnya bahkan lebih banyak dari yang sekarang nampak. Tubuhnya kumal dengan rambut panjang yang dekil. Meski aku tahu anak buah Alex telah berusaha untuk membersihkan tubuhnya. Namun mereka masih takut untuk melakukan hal lebih pada tubuh tersebut. Hingga aku dan Wirya yang kemudian turun tangan membersihkannya. Memotong rambutnya dan juga membersihkan seluruh tubuhnya sampai seperti yang kamu lihat saat ini. Barulah aku semakin yakin bahwa dia adalah Ikbar."


"Kamu tahu, betapa bahagianya aku saat itu Lid. Tak hentinya aku meneteskan air mata, namun kali ini adalah air mata bahagia. Setelah semuanya baik barulah aku meminta Alex untuk membawamu kemari. Namun untuk putrimu, aku yakin hingga saat ini dirinya belum tahu mengenai ayahnya. Masih ada yang harus dia lakukan untuk membuka jalan bagi kebahagiaan kalian nanti."


Kuncoro menyodorkan tablet pintar yang sudah diotak atiknya sesaat. Disana terlihatlah vidio dimana konfrensi pers sedang berlangsung dimana ada Jenita sebagai pembicara dan Alex yang selalu berada disisinya.


Air mata Lidia kembali menderas. Perjuangannya selama ini tak berarti apapun dibandingkan dengan usaha sang putri yang mencari sebuah kebenaran tentang jatidirinya yang sengaja disembunyikan. Bahkan perjuangan Ikbar mengalami banyaknya siksaan selama bertahun-tahun lamanya hingga semua orang menganggapnya sudah mati dan perlahan melupakan keberadaannya.


Lidia hanya mampu menyesali semua keputusannya kala itu yang memilih bersembunyi dan menghilang dari dunia luar tanpa tahu jika sang suami masih berusaha dan berjuang.


"Tenangkan dirimu, sudah saatnya keluarga kalian bahagia. Bangkitlah dan bantu Ikbar untuk melewati masa kritisnya saat ini. Dia dan juga putrimu membutuhkan dirimu sebagai penyemangat dalam hidup mereka."


Lidia mengangguk, menghapus cepat air matanya dan mencoba untuk tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2