DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 11


__ADS_3

Seperti yang direncanakan Jenita kembali ke kota S. Enam bulan dirinya meninggalkan perusahaan membuat beberapa urusan yang memerlukan penanganannya langsung sedikit terbengkalai. Diundur nya waktu yang belum ditentukan batasnya membuat dirinya secara terpaksa harus pulang dan mengurusnya.


Keberadaan Dira adalah solusi yang terpaksa diambilnya. Tak ada yang orang yang bisa dipercaya membuatnya harus berani mengambil resiko dengan mempercayai Dira. Beruntung nya, gadis itu tak memiliki sikap tamak seperti mamanya.


Jenita juga tak begitu khawatir dengan keadaan toko yang mulai stabil. Karenanya, dia bisa sedikit lebih tenang untuk beralih mengurus perusahaan nya. Kali ini, Sinta tak bisa menjemputnya. Wanita itu sedang menggantikannya menghadiri pertemuan dengan seorang kolega. Dengan menumpangi taxi, Jenita memilih untuk pulang ke apartemen nya terlebih dahulu.


Keadaan masih sama seperti pada waktu dia tinggalkan beberapa waktu lalu. Nampaknya, Sinta menyuruh orang untuk selalu membersihkan apartemen nya secara rutin. Claudia yang masih mengenakan atribut sebagai Jenita sempat dihadang oleh pihak keamanan apartemen. Dia yang lupa akan penampilannya terpaksa melepas kacamata dan wig yang dipakainya di kantor keamanan. Setelah meminta maaf akhirnya Claudia bisa bernafas dengan tenang.


Merebahkan diri dikasur yang tak begitu besar. Claudia mencoba menutup matanya walau sejenak sebelum dirinya pulang ke rumah mamanya. Menjadi seorang Jenita banyak hal yang dialaminya. Semua serba baru dan permulaan. Tak pernah dibayangkan olehnya merasakan berdesak-desakan diatas bis kota, dengan udara panas dan berbagai bau pelu para penumpang yang berbaur menjadi satu. Namun ada hal yang membuatnya bangga dan lebih bersyukur dengan apa yang bisa dia miliki saat ini.


Notifikasi pesan yang masuk ke dalam ponselnya membuatnya membuka mata walau sejenak. Pesan yang dikirim Sinta membuatnya membuka mata dengan sempurna. Sebuah foto terkirim juga disana. Dimana wajah Andrian jelas sekali terlihat. Bahkan lelaki itu nampak lebih berwibawa dengan jas yang menempel ditubuhnya. Sangat berbeda dengan keseharian Andrian yang beberapa bulan ini Claudia kenal sebagai Jenita.


"Ternyata, Chef Andrian adalah putra dari Pak Wiryawan yang saat ini sedang menjalin kerja sama dengan perusahaan kita. Aku sempat kaget tadi, bahkan sempat tak percaya sebelum dirinya menyapaku terlebih dahulu. Hehe kalian berdua ternyata sama saja, menyamar demi menyembunyikan jati diri. Atau mungkin kalian berdua berjodoh?" Pesan Sinta yang membuat Claudia memicing seketika.


"Dasar tukang gosip." Gerutunya. Namun senyum terbit di bibir tipisnya. Menggeleng beberapa kali dan meletakkan kembali benda pipih tersebut diatas meja tanpa berniat membalas pesan sekertaris nya. Tubuh lelah dan penat membuat Claudia memilih untuk kembali memejamkan matanya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Dua hari setelah kepulangannya ke kota S. Selama itu pula Claudia banyak menghabiskan waktunya di apartemen, selain di perusahaan. Tiba saatnya dirinya mengunjungi mamanya di rumah utama. Selain melepas rindu, dia juga ingin memastikan kebenaran berita yang di dengarnya dari sang paman.


Kabar pemutusan perjanjian perjodohan antara aku dan Alex sedikit membuatku lega. Berharap berita tersebut benar adanya dan itu artinya aku akan terbebas dari lelaki arogan juga pemarah tersebut.

__ADS_1


Mobil melaju perlahan memasuki halaman rumah yang luas dengan berbagai taman bunga dikanan dan kirinya. Setelah jarang lagi membantu pekerjaan di perusahaan. Lidia sering menghabiskan waktu di rumah untuk mengurus taman.


Wanita yang masih terlihat cantik tersebut juga terlibat di beberapa kegiatan sosial. Demi mengusir waktu sepinya setelah meninggalnya sang ayah. Rumah nampak sepi karena memang Lidia hanya tinggal bersama beberapa pengurus rumah saja.


"Mama."


Setelah memarkirkan mobilnya, gadis cantik itu melangkahkan kakinya memasuki rumah yang nampak tenang dan asri tersebut. Memasuki rumah dimana dirinya tumbuh besar membuat Claudia merasakan kenyamanan.


"Akhirnya anak mama ingat pulang juga."


Lidia merentangkan kedua tangannya menyambut putri semata wayangnya. Dia yang tak berniat menikah lagi setelah sang suami Ikbar meninggal dunia. Lidia hanya berharap sang putri tak mengalami nasib seperti dirinya. Menjadi janda diusia yang masih sangat muda.


"Sudah makan sayang?"


Keduanya berjalan menuju ruang tengah. Seperti anak pada umumnya, Claudia akan bersikap manja kepada wanita hebat yang menjadi motivasinya tersebut. Kesabaran serta keteguhan sang mama lah yang perlahan membangun jiwa Claudia untuk mengikuti jejaknya. Meraih kesuksesan dengan tangan dan kakinya sendiri.


"Belum, Clau ingin makan ayam kecap buatan mama."


"Nanti mama buatkan ya. Sekarang kamu istirahat dulu, dari kantor langsung ke mari kan?"


"Heem."

__ADS_1


"Istirahatlah."


Claudia mengangguk kemudian melangkahkan kakinya menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Sementara Lidia segera berlalu ke arah dapur untuk menyiapkan pesanan sang putri.


Langkah Claudia terhenti di sebuah kamar. Kamar mendiang sang kakek, lelaki yang semasa hidupnya memberikan didikan keras pada Claudia. Membentuk Claudia yang tak mengenal kata menyerah seperti saat ini. Jiwa kepemimpinan yang membuat usaha dan namanya kian melambung tinggi dan terkenal dikalangan pembisnis muda.


Tangan lentik Claudia perlahan mendorong pintu berwarna coklat tersebut. Kamar masih tertata rapi dan semua barang masih tertata di tempatnya. Claudia melangkah kan kakinya, bayangan dimana sang kakek yang memanjakannya serta mendidiknya terlintas dalam benak Claudia.


"Kakek, apa kabar? Clau pulang kek. Kakek tahu, Clau sangat merindukanmu." Claudia tersenyum, mengusap lembut foto sang kakek yang sedang memangku dirinya saat kecil. Foto yang masih tertata rapi di meja kerja sang kakek.


"Clau membuat perubahan kecil di rumah papa. Hanya tinggal menunggu waktu, Clau akan mengembalikan nama baik mama dan membuat papa disana bangga dengan keberhasilan Clau. Clau juga yakin, kakek pasti juga merasa bangga pada Clau."


Claudia berdiam di kamar sang kakek untuk beberapa saat. Dirinya selalu datang ke sana disaat pulang ke rumah utama hanya sekedar mengadu pada kakeknya. Walau tak pernah ada jawaban, namun perasaan lega selalu didapatnya setelah melakukan hal tersebut.


Dirasa sudah cukup Claudia pun beranjak dari duduknya. Namun langkahnya terhenti ketika melihat sebuah album di tengah tengah tumpukan buku yang menjadi koleksi kakeknya semasa hidup.


Sebuah buku harian entah milik siapa berada diantara buku buku tersebut. Dengan penuh rasa penasaran Claudia mengambil dan membuka lembar demi lembar buku yang tak begitu tebal tersebut. Coretan demi coretan yang dibacanya membuat jantung Claudia kian berdebar. Buku usang tersebut adalah coretan peninggalan sang papa.


Berawal dari pertemuan dengan sang mama, Ikbar menceritakan semua yang dia rasakan dalam sebuah goresan dan juga puisi. Dengan tangis tertahan, Claudia membaca segala ungkapan sayang dan cinta sang papa kepada Lidia, mamanya. Rasa haru yang kemudian menyelinap dalam hatinya membuat Claudia kini mengerti, tentang arti kesetiaan dan bertahannya sang mama dalam kesendirian nya selama ini.


"Papa." Lirihnya dengan mata yang meremang.

__ADS_1


__ADS_2