DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 73


__ADS_3

Layar yang terbentang lebar di depan sana sudah menyala. Nampak beberapa foto lama terlihat disana. Senyum Dira semakin mereka karena tujuannya sebentar lagi akan tercapai. Dari tempatnya duduk dirinya bisa melihat bagaimana Jenita dan Lidia, mamanya sedang berbicara.


Namun senyum di wajah manis itu berubah. Apa yang ditampilkan dalam layar bukanlah seperti yang dia telah dipersiapkan nya. Dira menekan nomer dalam ponselnya, namun nomer tersebut sudah tak aktif lagi. Kedua orang suruhannya yang bahkan tak lagi berada di tempat mereka semula. Dira berdiri dari duduknya, namun sebelum gadis tersebut kembali bergerak sebuah tangan mencekal pergerakannya.


"Aku mencarimu sejak tadi, ada sesuatu dan aku membutuhkan bantuanmu."


"Eh.., emh ada apa? bolehkah nanti saja. Ada hal yang harus aku urus terlebih dahulu." Dira berujar sedikit cepat. Kesempatan yang dimilikinya tak banyak dia tak mungkin menunggu lebih lama lagi jika rencananya kali ini gagal.


"Hanya sebentar, dan ini penting." Andrian tak lagi ingin mendengar penolakan. Chef tampan tersebut segera menarik lengan Dira untuk mengikutinya.


Hermawan yang melihat hal itu segera bangkit. Ingin mencegah Dira pergi karena tugas gadis itu belumlah selesai. Namun langkahnya terhenti kala melihat seorang pemuda berusia 18 tahun keluar dari mobil hitam yang beberapa saat lalu memasuki pelataran toko.


Hermawan mendelikkan matanya tak percaya. Dia mencoba untuk tetap tenang meski kini rahangnya nampak mengeras. Sementara di tempatnya, Alex menyeringai dan memberikan kode kepada Aldi untuk melakukan tindakan selanjutnya.


Tayangan yang nampak dilayar telah berubah. Disana nampak beberapa vidio dan foto yang silih berganti diputar. Tayangan dimulai ketika Hermawan dan Ikbar berusia muda, hingga semua memori tentang masa lalu kedua pemuda yang selalu bersama.


Lidia menitikkan air matanya, kenangan tersebut sebagian masih berada dalam ingatannya. Jenita bahkan mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan mencari keberadaan Alex. Lelaki tersebut nampak masih berada ditempatnya. Anggukan kepala lelaki tersebut membuatnya sedikit tenang.


Jenita memang tak mengetahui apapun rencana sang kekasih. Namun sedikit banyak, Alex mengatakan padanya secara garis besar apa yang harus gadis itu lakukan.


Ditatap nya wajah sang paman yang berdiri mematung di sana. Nampak wajah tak biasa tersirat raut muka lelaki paru baya seumuran sang papa.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Habibi Al Habsyi anak kedua dari pasangan Hermawan dan Ayunita. Pemuda berusia 18 tahun tersebut sedang menempuh pendidikannya di kota lain.


Sebulan yang lalu, tepatnya kala dirinya mendaptkan kabar bahwa sang ayah jatuh sakit. Habibi berencana untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya.

__ADS_1


Namun, Hermawan meminta sang putra untuk menunggunya di sebuah klinik yang berada di kota D. Mendapatkan pesan tersebut membuat Habibi memutar haluan motornya menuju kota D. Hanya memerlukan waktu 1 jam lamanya, pemuda berkulit bersih tersebut telah sampai ke alamat yang diberikan sang ayah.


Di Koridor klinik yang tak terlalu besar tersebut, Habibi melihat sosok sang ayah yang sedang terduduk di sebuah bangku tunggu.


"Ayah."


Hermawan tersenyum, dia menepuk bangku disebelahnya meminta Habibi untuk duduk. Keduanya melakukan pembicaraan yang sedikit serius, hingga tiba giliran Hermawan masuk ke ruang dokter. Dari sanalah, Habibi mengetahui beberapa hal termasuk tentang sakit yang ayahnya derita.


Empat bulan lamanya Hermawan menjalani pengobatan. Namun hal tersebut barulah Habibi ketahui ketika dokter tak sengaja mengatakannya. Pemuda tersebut sempat tak percaya.


Tak ingin ambil pusing, Habibi hanya mengangguk sebelum dirinya kembali menemui sang ayah yang terlihat semakin lemah.


Pemuda 18 tahun tersebut memacu motornya membelah jalan. Tujuannya malam itu untuk mencari keberadaan sang kakak. Tujuannya kali ini adalah rumahnya, rumah yang sudah beberapa tahun tak pernah lagi dia datangi.


Di belokan terakhir laju motor memelan. Habibi dapat melihat dengan jelas mobil milik sang ayah sedang melaju dihadapannya. Dengan dahi berkerut Habibi terus mengikuti mobil tersebut hingga masuk ke pekarangan rumahnya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Dengan ciri khas nya, Ikbar memulai ucapannya dengan pelan. Mengatakan pada kalayak ramai jika dirinya tengah mengalami koma selama ini. Bukan berniat untuk membuat kehebohan dengan menyatakan diri sendiri meninggal. Namun, setelah kecelakaan tersebut dirinya benar tak ingat apapun.


Habibi berjalan menghampiri sang ayah. Pemuda tersebut menyunggingkan senyum namun bukan senyum manis yang terlihat disana. Akan tetapi senyuman sinis yang terkesan mengejek dia tunjukkan dihadapan lelaki paruh baya yang dia panggil papa. Setidaknya untuk beberapa waktu lagi, karena setelah ini dirinya berjanji tak akan melakukan hal itu lagi.


"Apa kabar ayah?" Ucapnya ketika jarak mereka sudah semakin dekat.


"Mau apa kamu kesini?"


"Tentu saja aku harus datang, mana mungkin aku bisa melewatkan hal yang sangat menarik ini."

__ADS_1


"Apa maksudmu? kau jangan berani macam-macam sama ayah. Kau sangat tahu konsekuensinya nanti." Geram Hermawan.


Lelaki tersebut mengurut pangkal hidungnya yang sedikit pusiang. Dira menghilang entah kemana, padahal tugas gadis itu belumlah selesai. Malah muncul cecunguk kecil yang membuat sakit kepala.


Habibi hanya kembali tersenyum menanggapi ucapan Hermawan. Bahkan sebelum dirinya melangkah pergi, pemuda tanggung tersebut sempat membisikkan kata yang membuat Hermawan memelototkan matanya.


Habibi melangkah menuju tempat dimana Jenita dan Lidia berada. Dia menatap wajah wanita paruh baya tersebut dengan mata berbinar. Suatu kebetulan yang mungkin memang bukanlah kebetulan yang sebenarnya. Habibi tahu, langkah yang diambilnya tiga hari lalu bukanlah kesia siaan belaka. Pembebasan semua belenggu yang mungkin menjerat keluarganya tersebut akan segera di dapat.


"Kak Jen, bibi." Sapanya dengan mata yang berkaca kaca.


"Kamu Habib, putra paman Hermawan?"


Jenita sendiri belum pernah bertemu dengan Habibi secara langsung. Dari sang paman lah dirinya sering mendengar cerita tentang pemuda itu. Tubuh Habibi yang menurun dari sang ayah yang tinggi besar membuat orang tak akan percaya jika pemuda tersebut masihlah berusia 18 tahun.


Habibi menganggukan kepalanya. Apalagi ketika Jenita merentangkan kedua tangannya untuk memeluknya. Tak berbeda jauh dengan apa yang dilakukan oleh Jenita, Lidia pun melakukan hal yang sama. Bahkan wanita tersebut tak segan mengecup kening Habibi yang terpaksa harus menundukkan badannya agar bisa membalas pelukan wanita baya seusia mamanya tersebut.


Habibi menahan sesak dalam dadanya manakala mengingat sang mama. Wanita yang telah melahirkannya itu bahkan jarang sekali memeluknya. Meski begitu tak ada kebencian dalam hatinya.


"Kakak belum pernah melihatmu, ternyata kamu sudah sebesar ini. Andai saja kita bertemu diluar dan kamu tidak menyapaku. Mungkin kakak tak akan pernah mengenali Habib."


"Bukan salah kakak. Habib sendiri yang jarang pulang."


"Bang." Sapanya ketika melihat Alex mendekat ke arah mereka.


Jenita mengerutkan kening menatap keduanya.


"Ckckckck kau pikir aku tukang bakso." Alex mendelik kesal.

__ADS_1


Pemuda tanggung tersebut selalu membuatnya tarik urat bila bertemu. Padahal ini kali ke lima mereka bertemu terhitung dari beberapa hari lalu.


__ADS_2