DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 37


__ADS_3

Alex benar-benar menepati janjinya. Dia bahkan tak segan memperlihatkan hasil kerja anak buahnya beberapa hari terakhir. Berawal dari mereka yang mengintai mobil hitam yang sempat terlihat sesaat sebelum mereka melakukan penyelamatan kepada Jenita.


Alex membagi orang-orang nya menjadi beberapa kelompok untuk mempermudah ruang geraknya. Hasil memuaskan pun mereka dapatkan saat ini, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk bertindak. Semua telah diketahui hanya tinggal pelaku utama yang masih bersembunyi di balik topengnya.


Anto yang benar-benar menyesali perbuatannya membuktikan diri. Dialah yang banyak membantu orang-orang Alex menemukan jejak dan mencari informasi tambahan. Bahkan Anto mengakui bahwa dirinya lah yang menyamar sebagai lelaki tua pemesan kue yang menyambut Jenita di rumah kosong tempat pertama Jenita di culik dan di sekap.


"Ada yang kamu curigai?"


Jenita menggeleng dengan pertanyaan Alex. Gadis tersebut belum mempunyai gambaran pasti tentang semua hal yang dialaminya.


"Pelan pelan saja. Aku yakin semua akan terkuak nantinya, dan kita bisa menemukan pelaku sebenarnya di balik semua ini, sayang."


"Apa mungkin ada hubungannya dengan ke dua orang tuaku dan warisan eyang?" Jenita menatap Alex lekat.


Gadis cantik tersebut mulai merangkai peristiwa demi peristiwa yang menimpanya. Dulu kehidupannya sebagai Claudia terbilang mulus tanpa beban. Hanya ada kendala kecil dan itu sangat mudah ditangani olehnya. Namun masalah berubah pelik manakala dirinya menyanggupi permintaan eyang Sulastri dan kembali ke kota C.


"Semua kemungkinan bisa terjadi, namun yang jelas kita harus waspada dalam segala hal. Sepertinya lawan yang kita hadapi ini tidak mudah, sayang. Dia mengetahui seluk-beluk dirimu dan segala hal tentangmu. Itu hal yang paling membahayakan saat ini."


"Bagaimana dengan mama?"


"Tante sudah berangkat, mungkin nanti tengah malam beliau sudah sampai disini. Jangan khawatir, Aldi ada bersamanya."

__ADS_1


Aldi, Jenita menatap wajah Alex dengan seksama. Jika Aldi yang datang mengawal mamanya lalu bagaimana dengan perusahaan.


"Papa yang menghandel segala urusan perusahaan untuk sementara waktu. Dan Sita juga telah mengetahui mengenai ini. Ada lagi, yank. Orang-orang ku beberapa kali melihat Andrian bersama Sita. Mereka terlihat semakin akrab akhir akhir ini. Aku rasa terjadi sesuatu diantara mereka berdua." Alex tersenyum.


Sangat muda bagi seorang Alex untuk mendapatkan segala informasi yang dia butuhkan. Dia yang seorang pembisnis muda dengan otak cemerlang mampu membaca situasi, baik yang sedang berada di hadapannya maupun orang-orang terdekatnya tak luput dari pengamatannya.


"Kau tak cemburu kan?" Lanjutnya menatap lekat Jenita.


"Haa, maksudnya apa?" Jenita yang sedang melamun terang saja tak langsung bisa menangkap maksud dari pertanyaan Alex.


"Kamu tak cemburu kan, kalau Andrian ada hubungan dengan Sita diluar urusan kantor?"


"Tentu saja!! aku bahkan ikut merasa bahagia mengetahui sahabat baikku bersama. Apa maksudnya pertanyaanmu itu?"


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


"Kau tahu, sudah bertahun-tahun lamanya semua berjalan sesuai dengan yang ku inginkan. Namun beberapa bulan ini semuanya semakin kacau dan tak terkendali. Namun kau jangan berpuas diri terlebih dahulu. Karena aku pastikan semua akan kembali dalam kendaliku!!"


Seorang lelaki kurus dengan tangan dan kaki terikat dengan rantai. Juga rambut yang dibiarkan tak terurus. Wajahnya nampak kusam dan keriput. Sorot matanya tajam namun lingkaran hitam di sepanjang garis matanya terlihat jelas sangat dalam cekungan itu terlihat.


Tak ada sepata katapun keluar dari bibirnya yang nampak kering. Hanya tatapannya yang tajam menghujam seseorang yang tengah tersenyum sinis dihadapannya.

__ADS_1


"Bersiaplah!! karena mungkin akan ada yang datang menemanimu disini. Dan setelah itu, aku pastikan semua kembali terkendali. Semuanya!! ha haha hahah."


Langkah kaki terdengar semakin menjauh dengan diiringi tawa yang memekakkan telinga. Ruang lembab bawah tanah membuatnya tak bisa melihat matahari dan bulan. Tak tahu siang atau malam, yang dia tahu hanya kesunyian.


Tubuh lemah tak berdaya tersebut terpejam erat. Air mata perlahan luruh di pipinya yang tak lagi kencang. Entah sudah berapa lama dirinya berada di tempat ini. Berteman sepi dan kesunyian.


🍃🍃🍃🍃🍃


Tepat pukul 11.30 malam, mobil yang membawa Lidia terlihat memasuki halaman rumah Jenita. Lidia segera keluar dari mobil setelah pintu terbuka. Sejenak ditatapnya sekeliling sebelum melangkahkan kakinya mengikuti Aldi yang berjalan lebih dulu di depannya.


Diruang tengah nampak duduk dengan gelisah. Jenita tak henti meremas jemarinya demi mengurangi rasa cemas yang dirasakannya kini. Alex yang duduk disebelahnya mencoba menenangkan dengan menggenggam jemari yang saling meremas tersebut.


Ketika suara mobil terdengar, dengan tergesa Jenita bangkit dan melangkah menuju ke ruang tamu yang langsung terhubung dengan pintu menuju keluar.


"Ma." Pekiknya seraya menyongsong kedatangan wanita kebanggaannya tersebut.


Keduanya menangis dan saling memeluk penuh kerinduan. Tak dapat dipungkiri, Jenita merindukan pelukan hangat sang mama ketika dirinya terpuruk paska peristiwa penculikan dirinya waktu itu. Namun demi keselamatan semuanya, Jenita memilih pasrah ketika Alex menyembunyikan dirinya dari siapapun hingga di rasa semua benar-benar aman.


Keduanya pun berlalu menuju kamar yang memang disediakan untuk Lidia. Sementara Alex memilih berbincang dengan Aldi sebelum pada akhirnya mereka semua beristirahat.


Tak ada yang berubah, hanya saja Alex tak lagi bisa tidur dengan nyenyak malam ini. Teringat pesan sang papa yang dititipkan pada Aldi. Kuncoro berpesan agar Alex lebih mewaspadai orang-orang terdekat Jenita. Bahkan Kuncoro tak segan menyebutkan nama orang yang dicurigainya sebagai dalang semua masalah yang dihadapi Jenita. Namun karena belum ditemukannya bukti maka dia tak berani berpendapat secara langsung.

__ADS_1


"Apa mungkin? tapi bukankah selama ini baik baik saja. Bahkan tak terlihat sedikitpun ada hal yang mencurigakan."


Tubuhnya memang terlihat sedang rebahan. Namun otak Alex berputar putar dan memikirkan banyak hal. Menyusunnya menjadi satu kesatuan hingga membuat dirinya menemukan kesimpulan yang mendekati benar. Namun semua masih berada dalam otaknya.


__ADS_2