
Jam menunjukkan pukul 9 pagi ketika dokter Wirya masuk ke dalam ruang rawat Ikbar. Tubuh yang pada awalnya sangat memprihatinkan tersebut telah sedikit terlihat berisi. Tak lagi membuat orang mringis ngilu karena harus menatap tubuh yang hanya berbakut kulit tersebut.
Kulit yang awalnya pucat seolah tanpa darah itupun sedikit demi sedikit menunjukkan perubahan. Tak lagi pucat namun lebih bercahaya meski warnanya masih putih.
"Selamat pagi, nyonya." Sapanya dengan ramah pada Lidia yang baru saja selesai menyeka tubuh suaminya.
"Pagi dok. Silakan." Wanita cantik tersebut tersenyum dan menggeser tubuhnya menjauh. Memberi ruang pada dokter Wirya untuk memeriksa suaminya.
Belum ada tanda tanda Ikbar akan sadar namun respon tubuhnya sangat baik. Dokter Wirya mengatakan bahwa apa yang dialami oleh Ikbar saat ini akibat dari obat yang disuntikkan padanya.
Lidia kembali menangis mengingat fakta yang harus dihadapi suaminya seorang diri selama 23 tahun lamanya. Tak ada yang diharapkannya saat ini selain kesembuhan Ikbar dan juga keselamatan Jenita.
"Apa suami saya bisa pulih kembali, dokter?"
"Sejauh ini pengaruh obat obatan yang diberikan pada tuan Ikbar sudah sedikit demi sedikit berkurang. Kita bisa menekan ketergantungannya dan menggantinya dengan obat yang memang diperuntukkan bagi kekebalan tubuhnya. Nyonya jangan khawatir, tuan orang yang kuat. Terbukti beliau mampu bertahan hingga sekarang."
"Respon motoriknya juga sangat baik. Jarinya bisa bergerak dengan lentur lagi juga kedua kakinya. Kita hanya berharap hal yang sama untuk daerah pinggulnya."
"Semoga beliau secepatnya sadar, nyonya." Pungkasnya dengan menampilkan senyumnya.
Lidia mengangguk dan membalas senyum sebagai ungkapan terimakasih. Wanita dengan rambut sebahu tersebut mengantarkan dokter hingga ke depan pintu ruangan. Setelahnya dia kembali mengambil tempat disisi sang suami dan mengajaknya mengobrol. Hal itu selalu Lidia lakukan dengan harapan sang suami bisa mendengarkan suaranya dan segera sadar.
*
*
*
__ADS_1
Andrian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Chef tampan tersebut baru saja keluar dari sebuah restoran guna mengisi perutnya. Malam tadi dirinya tak sempat makan. Sebenarnya bukan tak sempat namun memang sedikit malas keluar karena dirinya sedang menikmati film kesukaannya.
Jam 7 pagi perutnya sudah berdemo karena minta diisi. Pada akhirnya Andrian menghentikan mobilnya di sebuah rumah makan sederhana tak begitu jauh dari apartemennya.
Tanpa menunggu lama seporsi nasi rawon menjadi santapan pagi hari ini. Tak butuh waktu lama makanan yang terhidang dalam piring dihadapannya langsung tandas berserta segelas air putih hangat. Andrian melirik jam tangannya kemudian meraih ponsel dalam saku kemejanya. Menunggu nasi dalam perutnya turun Andrian bermain game. Sedang seru serunya bermain, Telinga Andrian tak sengaja mendengar sesuatu yang membuatnya menghentikan jemarinya dan meng pause permainannya.
Menoleh ke kiri dan kanan pada akhirnya tatapan Andrian berlabu ke sisi kanan tempatnya duduk. Si sebuah meja pojok nampak ada 2 orang sedang duduk sambil berbisik. Jarak yang hanya beselang 1 bangku panjang memudahkan Andrian mendengar apa yang mereka obrolan.
Dengan sigap Andrian mengambil masker dan memakainya dan juga dirinya mulai mengenakan kacamata. Dua benda tersebut memang kerap dibawanya kemanapun sebulan ini. Seringnya orang asing mengikutinya membuat Andrian meningkatkan kewaspadaannya.
Kembali menghidupkan ponselnya namun bukan game yang dia mainkan. Andrian mencoba merekam apapun yang dia dapat meski sedikit susah.
Dua orang lelaki muda seumuran dirinya sedang berbicara serius. Percakapan keduanya terhenti ketika makanan yang mereka pesan datang. Dengan cepat Andrian berdiri dan keluar dari rumah makan setelah membayar makanannya.
Dari balik kaca mobilnya yang gelap. Andrian dapat melihat wajah keduanya. Dengan segera dilajukan mobilnya menuju toko. Namun di tengah jalan dirinya menghentikan mobilnya dan keluar guna berpindah mobil lain yang saat itu sedang menunggunya.
"Ada yang mengikutiku?" Tanya Andrian ketika dirinya sudah masuk ke dalam mobil.
"Tuan Alex meminta kami menjemput anda. Mengenai mobil nanti ada pihak bengkel yang akan menanganinya."
Andrian mengangguk, tak banyak bertanya lagi dirinya duduk diam dengan pikiran yang berkeliling entah kemana. Menjadi chef idola sudah lama dilakoninya, banyak bertemu dengan berbagai macam fans tak membuatnya risih ataupun mengeluh. Sejauh ini semua dia hadapi dengan santai.
Namun semenjak mengenal Jenita hidupnya yang lurus lurus saja mulai mengalami perubahan. Tak hanya hatinya yang nyatanya menyimpan rasa suka pada gadis itu. Namun lebih parahnya, Andrian malah menceburkan dirinya sendiri dan bersedia terlibat dengan masalah yang sedang membelenggu gadis itu.
Setiap hari dilakuinya kini penuh dengan sensasi. Tak jarang rasa takut sering datang menghantuinya namun terkadang pula timbul rasa penasaran yang membuat dirinya semakin bersemangat.
Andrian mendesah pelan. Apakah ini sebagian dari akibat dirinya merasakan cinta?
__ADS_1
Rasanya berdebar, penasaran namun juga bahagia. Entahlah, bahkan dirinya sendiri tak dapat memprediksikan arti rasa yang dia alami saat ini.
"Kita sudah sampai chef." Andrian mengernyap dengan kesadaran yang kembali.
"Alex ada di dalam?" Tanyanya yang dijawab anggukan kepala oleh pengawal tersebut. Dengan segera Andrian melangkah masuk ke rumah yang pernah Jenita tempati beberapa waktu lalu. Rumah yang kini menjadi milik bibi Su.
"Kau sudah datang?" Sapa Alex yang baru saja mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah.
"Ada apa? kenapa mendadak memintaku datang?"
Alex menatap Andrian sesaat sebelum dirinya menyodorkan tablet ditangannya. Dengan seksama Andrian membaca dan melihat apa yang ada di dalam tablet tersebut kemudian mengernyit bingung.
"Kenapa aku?" Tanyanya
"Hanya kamu orang luar yang bisa berdiri di dekat Jen tanpa ada yang mencurigai."
"Aku rasa bukan itu alasannya, jika hanya orang terdekat masih ada Rendi dan juga dirimu?"
"Aku jelas saja tak mungkin. Mereka bukan orang bodoh yang tak tahu bagaimana aku.Mereka tak akan berani mengambil resiko itu. Sedang Rendi, dia hanya seorang supir dan waktunya sangat terbatas berada di samping Jenita."
"Mereka membidikmu karena kamu punya potensi yang bagus. Kamu tak memerlukan waktu ataupun sesuatu yang mendesak hanya untuk mendekati Jen. Tapi aku rasa ada sesuatu yang mereka tangkap dari kedekatanmu dengan Jen yang ingin mereka manfaatkan."
Alex menatap lurus Andrian yang berada tepat di hadapannya. Chef tampan tersebut menghembuskan nafasnya pelan.
Andrian tak mengerti, mengapa gadis yang dulunya terlihat polos dan baik tersebut berubah menjadi seperti sekarang ini. Dalam laporannya, Marni dan kedua rekannya mengatakan jika Dira menargetkan Andrian untuk dijadikan alat. Hal itu diperkuat dengan sebuah rekaman yang diyakini sebagai suara Dira yang sedang menelfon seseorang menyebutkan nama Andrian.
"Ah sebentar, aku tak tahu ini ada hubungannya atau tidak tapi alangkah baiknya kita semakin waspada." Ucapnya kemudian sambil mengeluarkan ponselnya. Dan memberikan benda pipih tersebut kepada Alex.
__ADS_1