DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 62


__ADS_3

Mengetahui dirinya akan dijadikan target, Andrian membekali dirinya dengan baik. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang Alex yang lain kini dirinya membekali diri dengan alat perekam pada tubuhnya. Beruntung sekali dirinya karena nyatanya si muka datar malah memberinya peralatan untuk itu.


Sebuah Pin berbentuk burung elang kecil, ada juga penjepit dasi dan jam tangan. Barang barang itu terselip alat perekam. Di lengkapi dengan sensor yang akan merekam otomatis saat ada gesekan disalah satu sisinya.


Jangan bertanya mengapa mereka gampang mendapatkan benda-benda tersebut. Jawabannya adalah karena itu adalah salah satu bisnis yang sedang Alex kembangkan. Namun karena produknya belumlah banyak mereka baru menggunakannya sebagai uji coba.


Seperti biasa, Andrian tetap berangkat menuju toko untuk membantu Jenita. Gadis cantik tersebut sudah aktif kembali entah di toko maupun perusahaan. Meski sosoknya tak pernah muncul diperusahaan namun Jenita tak pernah lepas tanggungjawab disana. Membagi waktu sebaik mungkin saat ini dilakukan olehnya. Dalam sebulan dirinya akan bolak balik kota C dan S setidaknya 2 kali.


Pada awalnya Jenita ingin menyerahkan urusan toko pada Dira. Namun dengan pertimbangan yang matang Alex tak mengijinkannya terlebih dahulu. Setidaknya sampai mereka tahu peran Dira sebenarnya saat ini.


"Sudah dari tadi?" Gadis itu tersenyum ketika melihat Andrian yang sudah berada di ruang produksinya.


Dengan celemek hitamnya Andrian mulai beraksi.Pemuda itu nampak bertambah tampan berkali lipat ketika sedang melakukan aksinya. Banyak pengagumnya terpesona dengan aksi aksi Andrian meng eksekusi adonan berbahan dasar tepung, telur dan gula tersebut hingga menjadi fans setianya.


"Lumayan, sejam yang lalu mungkin. Mau buat?" Tawarnya pada selembar kertas pesanan bolu karakter yang akan diambil sore hari nanti.


"Hahaha, silakan saja. Aku mau cek laporan dulu nih, kalau ditunda terus nanti bakal keteteran."

__ADS_1


"Ya sudah, aku teruskan saja. Oh ya, Alex tak datang?" Lelaki itu sengaja bertanya untuk memancing. Pagi tadi, Alex mengatakan padanya kalau Jenita belum mengetahui kedatangannya ke kota C. Rencananya lelaki tersebut akan muncul memberi kejutan.


"Aku nggak tahu. Dia hanya mengatakan kalau akhir akhir ini akan sedikit sibuk. Kamu tahulah dia kan banyak banget kerjaannya."


"Iya sih. Kagak kayak kita ya." Andrian tergelak diikuti tawa yang keluar dari bibir Jenita.


*


*


*


Namun tak ada pilihan lain baginya. Kesehatan dan keselamatan sang suami lebih penting dari apa yang dia rasakan kini. Pengorbanan Ikbar tak sebanding dengan apa yang telah dilaluinya.


Menghirup udara siang hari yang sedikit panas sambil menikmati segelas jus jeruk dilakukannya guna mengusir rasa bosan. Ponsel yang memang jarang dia gunakan tergeletak begitu saja di meja kecil dekat brangkar dimana Ikbar masih berbaring.


Tak pernah aktif di sosial media apapun membuat Lidia benar-benar tak tahu perkembangan diluar sana. Benda pipih yang sebagian besar dipuja oleh orang baginya hanya sekedar alat untuk menghubungi sang anak. Tak banyak nomer yang tersimpan disana. Bahkan jika dihitung tak akan pernah lebih dari 10 nomer saja.

__ADS_1


Kening Ikbar berkerut samar, begitupun dengan salah satu jari di tangan kirinya yang masih terpasang selang infus terlihat sedikit bergerak. Tak banyak dan gerakan, kejadian itu pun tak disadari oleh siapapun termasuk Lidia yang masih asyik menikmati jus nya.


Kuncoro yang sudah kembali ke kota S. Membuat Lidia benar-benar hanya berdua dengan sang suami di sini. Meski ada belasan pengawal yang selalu siaga disekitar mereka tak membuat mereka bisa berakrab ria. Hanya Anto yang masih sering bertegur sapa dengan Lidia karena yang lain hanya akan menunduk ketika melihat wanita itu.


Lidia kembali ke dalam kamar dan mendekati brangkar dimana suaminya tengah berbaring. Seperti biasa wanita baya tersebut selalu bercerita tentang sang putri. Bagaimana dia sangat bangga dengan kecerdasan dan pencapaian Jenita hingga mampu menjadi pengganti sang ayah, almarhum kakek Jenita untuk menggantikannya menjadi pemimpin perusahaan.


Tak lupa Lidia juga menceritakan tentang pasangan Kuncoro dan Winarni beserta putra mereka Alexander.


"Mas tahu tidak, melihat mereka berdua itu mengingatkanku pada saat kita pacaran dulu. Tapi Alex terlihat lebih manis dari pada mas. Hihihihi." Senyum Lidia terdengar oleh ocehannya sendiri.


Meski tak pernah mendapatkan respon, namun Lidia yakin bahwa Ikbar bisa mendengarkannya. Dokter Wirya sendiri mengatakan jika semua indra pada diri Ikbar berfungsi dengan baik namun membutuhkan waktu untuk pulih.


"Mas, aku rasanya pengen makan steak buatan kamu. Sudah lama sekali, terkadang aku rindu rasanya. Dan aromanya ituloh yang paling menggugah selera. Hemm, pokoknya nanti kalau kamu sembuh harus buatkan aku seporsi besar. Jadi, ayo bersemangatlah mas. Aku menunggumu disini." Lidia menghela nafas panjang, digenggamnya jemari Ikbar dan diciumnya perlahan.


Tak bisa dipungkiri bahwa dirinya merindukan segalanya tentang lelaki yang selalu mengisi hatinya itu. Kenyataan yang membawa Ikbar kembali dan berada di hadapannya membuat Lidia kembali bersemangat. Wanita itu bahkan berhasil mengingat semua kenangan yang mereka lalui sebelum terpisah. Kenangan yang beberapa tahun ingin dia kubur dan lupakan seiring dengan kepergian sang suami.


Selama tinggal dirumah sakit Lidia menyempatkan diri untuk menghubungi Jenita meski hanya sebuah pesan. Dia tak ingin membuat gadis cantiknya merasa cemas. Meski hingga saat ini dirinya maupun Alex berusaha keras untuk menyembunyikan keberadaan Ikbar pada Jenita. Mereka sepakat akan membongkar semuanya nanti disaat kondisi Ikbar sudah lebih baik lagi.

__ADS_1


__ADS_2