DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 72


__ADS_3

Senyum yang terpancar dari bibir seseorang bisa mengandung banyak makna. Bukan hanya yang tersirat namun juga yang terpendam.


Dengan hanya tersenyum manusia bisa membodohi manusia lain. Tak ada yang bisa menduga, dibalik sebuah senyuman menyimpan banyak rahasia dan terkadang itu sangat mengerikan.


🍃🍃🍃🍃🍃


Diskusi khusus dengan menampilkan Jenita dan juga Andrian sebagai pembicara telah usai lima menit lalu. Kini semua tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang memang secara khusus dibuat untuk acara hari ini.


Sebagai ajang promosi tentu saja beberapa produk terbaru juga ikut dihadirkan. Andrian pun telah mengumumkan bahwa dalam waktu dekat dirinya akan mengakhiri karirnya sebagai chef artis. Namun sebagai gantinya, chef tampan tersebut akan membuka tempat les khusus bolu, kue dan cake. Tak tanggung tanggung, Andrian akan langsung membuka usaha pribadinya tersebut secara serentak di kota C, S dan juga A.


Semangatnya semakin bertambah ketika melihat antusiasme dari para pengunjung atas apa yang telah direncanakan dalam satu tahun kedepan. Bahkan Jenita dan Alex pun menyatakan siap membantunya kelak.


"Kau sudah yakin?"


Alex, Jenita dan Andrian memilih duduk di sisi panggung sebelah kiri. Ini adalah tempat strategis bagi Alex untuk bisa mengedarkan pandangannya ke segala di balik kacamata hitam yang dipakainya.


Dari sana dirinya juga bisa melihat perdebatan kecil yang terjadi antara Dira dengan sang papa, Hermawan. Hanya senyum yang sangat tipis tersungging disana bahkan nyaris tak terlihat.


"Tentu. Aku sudah memikirkan hal ini matang matang beberapa waktu lalu. Menjadi artis meski dibidang kuliner seperti aku ini terkadang juga menyita banyak waktu. Terkadang aku bahkan mengabaikan keluargaku sendiri demi syuting dan syuting. Papa dan mama tak pernah melarang atau memprotes ku. Namun aku tahu mereka sedikit menyimpan kesal karena waktunya lebih banyak kuhabiskan di studio."


"Semenjak mengenalmu, barulah aku menyadari bahwa ada yang lebih berarti dari sebuah karir dan juga harta. Yaitu keluarga, aku ingin memperbaiki semuanya. Membagi waktuku dengan sebaik mungkin hingga semua bisa seimbang meski tak akan bisa sempurna."


"Kalian memberikan ku pengalaman yang sangat berarti. Pengalaman yang tak kan pernah bisa ku lupakan hingga nanti. Kebersamaan dan juga rasa peduli yang kalian berikan membuatku merasa dihargai."


Alex hanya terdiam, sejak awal lelaki tersebut memang tak begitu masuk ke dalam pembicaraan kedua orang yang bersamanya itu. Fokusnya ada pada salah satu sudut dimana dirinya melihat Hermawan menatap tajam ke arahnya.

__ADS_1


Di balik kacamata hitamnya tentu saja memudahkan Alex untuk mengecoh pandangannya. Bibirnya tersenyum seolah menghayati segala obrolan yang terjalin antara Andrian dan Jenita namun mata lelaki tampan itu tak pernah lepas dari targetnya.


Getaran ponsel di saku membuyarkan fokusnya. Untuk sejenak Alex memilih mengangkat panggilan yang ternyata dari asisten kebanggaannya.


"Ya." Sahutnya singkat.


Sementara Aldi mengatakan alasan dirinya terpaksa untuk menghubungi Alex saat ini. Namun Alex hanya menanggapinya dengan tersenyum, karena tanpa Aldi ketahui. Sang bos sudah lebih tahu tentang sebuah rahasia besar yang mungkin tak ada orang yang mengetahuinya.


"Lex, kau masih disana?" Aldi mengira sang sahabat saat ini dalam keadaan terkejut. Namun ketika dirinya mendengar Alex tertawa lirih barulah dirinya sadar bahwa ada yang lain sedang sahabatnya tersebut lakukan.


Jemari nya segera bermain dan mencari titik dimana Alex kini berada karena setelah lelaki tersebut memutuskan panggilan secara sepihak dirinya mengirimkan sebuah sinyal yang langsung terhubung ke semua anak buahnya dilapangan. Dan kode itu bisa diartikan bahwa pertunjukan sebenarnya akan segera dimulai.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Mobil berwarna putih nampak melaju pelan membelah jalan. Disepanjang perjalanan nampak sepasang mata berkaca kaca. Dia yang selama puluhan tahun bahkan tidak mampu melihat sinar matahari meski hanya semburat kecil kini bahkan bisa merasakan suasana yang berbeda.


"Mas." Lidia mengusap pelan lengan suaminya. Wanita tersebut sangat tahu bagaimana perasaan Ikbar saat ini.


"Ya, sayang." Sahutnya lembut dengan diiringi usapan jemarinya di pipi wanita yang sangat dicintainya itu.


"Mas, baik baik saja." Sebuah pertanyaan yang seharusnya Lidia sendiri tahu jawabannya.


Ikbar tersenyum dan mengangguk kecil sebagai jawaban untuk menenangkan sang istri. Di genggamnya erat jemari wanita yang telah setia kepadanya tersebut meski semesta telah menganggapnya mati.


Dinyatakan sembuh bukan berarti Ikbar bisa bebas pergi kemanapun dia mau. Fisiknya yang tak lagi sekuat dulu membuatnya masih harus bergantung pada orang lain. Namun alasan utamanya tentu karena keselamatan dirinya lebih penting dari apapun. Terlebih, calon menantunya yang tak lain adalah putra dari sahabat baiknya mengambil alih segala bentuk pengamanan terhadap dirinya dan keluarganya. Ikbar tak ingin menyusahkan, dia sudah cukup puas dengan apa yang bisa di rasakan nya saat ini.

__ADS_1


Bertemu istri dan putrinya adalah mimpi terbesar dalam hidupnya. Dan kini semuanya telah berada di dalam genggamannya.


*


*


*


Susana di halaman toko Eyang kembali riuh. Selepas makan siang acara tersebut kembali dimulai. Pada kesempatan ini Jenita menegaskan bahwa toko Eyang dibawa kepemimpinannya akan melakukan kerja sama dengan berbagai pihak yang memang serius. Meski begitu ada beberapa poin penting yang nanti akan dibicarakan secara pribadi.


Ucapan Jenita disela acara memicu antusias yang tinggi dari para tamu undangan. Apalagi mengingat sisi lain Jenita yang merupakan pembisnis muda yang sukses. Karir Jenita tak bisa diragukan lagi.


Dira mulai memberi kode kepada kedua orang yang bekerja untuknya. Keduanya yang mengerti segera mengangguk cepat membuat Dira tersenyum puas.


Di tempatnya duduk, Hermawan nampak memilih tempat ternyaman untuk menyaksikan kehancuran anak dari pesaingnya sejak lama itu. Kebenciannya kepada keluarga Eyang Sulastri seolah sudah menggunung dan kini saatnya untuk membalaskan segala sakit hati yang dipendam nya dalam waktu yang cukup lama.


Sebuah gelas berisi jus jeruk menjadi minuman ternikmat yang dipilihnya untuk menemani dirinya menyaksikan drama kehancuran keluarga Eyang Sulastri.


Namun sejenak fokusnya teralihkan ketika melihat sebuah mobil berwarna putih perlahan masuk ke pelataran toko. Matanya membelalak lebar, dadannya bergemuru kala melihat seorang wanita turun dengan anggun dan melenggang menuju panggung dimana sang putri telah menunggunya dengan senyum yang mengembang.


"Lidia!!" Pekiknya lirih.


Hermawan benar-benar kaget kali ini, dia tak menyangka wanita cantik itu masih hidup. Terakhir kali dirinya berkunjung ke rumah Eyang untuk mencari informasi tentang nya tak menemukan jawaban apapun. Hingga dia menganggapnya mati.


Alex kembali tersenyum disana, wajahnya menampilkan sorot kepuasan. Namun masih banyak kejutan yang akan terjadi hari ini. Hingga kembali dia membuka kode dengan seringaian yang terlihat mengerikan di ujung bibirnya.

__ADS_1


"Siaga 1."


Yang langsung di tanggapi secara serentak oleh anak buahnya di bawa komando Aldi. Bahkan Anto dan Rendi pun telah berada di lokasi bertepatan dengan masuknya mobil yang membawa seseorang yang sedang terbaring lemah didalamnya.


__ADS_2