DIA ADALAH AKU

DIA ADALAH AKU
Bab 33


__ADS_3

Jenita masih terdiam, semua nampak sulit untuk dicerna pikirannya. Kini mereka kembali ke rumah yang ditempati oleh Jenita saat ini. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, demikian pula Rendi yang berada di belakang kemudi.


Rendi merasa sangat beruntung dengan nasibnya saat ini. Walau dia bekerja sebagai orang suruhan, namun Alex tak pernah menyuruhnya untuk melakukan kejahatan. Lelaki pemarah nan arogan tersebut hanya membuat pertahanan bagi dirinya sendiri. Rendi sangat paham, sebagai seorang pembisnis yang sukses Alex membutuhkan orang lain untuk menjaga dirinya dan orang-orang disekelilingnya.


Sementara di bangku belakang. Alex membiarkan Jenita tenang. Dia tahu, gadisnya sedang dalam keadaan yang tidak baik baik saja. Namun Alex tak bisa untuk menyembunyikan semua yang diketahuinya terlalu lama. Jenita harus tahu dan harus bangkit kembali.


"Mau mampir ke tempat lain? atau kita makan dulu?" Tawarnya namun dijawab gelengan kepala oleh Jenita.


"Langsung pulang saja." Jawabnya lemah.


Dikecupnya kening Jenita lama. Gadis itu memejamkan matanya, meresapi segala rasa yang bergejolak dalam hatinya. Air mata yang sejak tadi ditahannya keluar tak terbendung. Alex membiarkan wanitanya terisak dalam dekapannya. Membiarkan Jenita membuang segala sesak didadanya.


"Menangislah untuk saat ini. Tapi berjanjilah untuk kembali tersenyum dan bangkit esok hari dan seterusnya. Jenita yang lemah sudah tak ada lagi mulai dari besok, berganti Jenita yang tangguh dan tak terkalahkan." Alex semakin mengeratkan pelukannya.


Bahkan Rendi pun sangat paham dengan isakan kecil yang coba ditahan oleh Jenita. Menjadi anak tunggal yang harus rela kehilangan papanya bahkan diusianya yang masih bayi dan juga harus mengungsi dan mengasingkan diri bertahun-tahun demi menyembunyikan jati diri nya. Saat ini barulah Jenita memahami, kenapa sang mama melarang nya untuk mencari tahu tentang masa lalu terutama tentang kehidupan kedua orang tuanya.


Mobil memasuki halaman rumah yang terlihat asri namun dengan penjagaan disegala penjuru tanpa membuat orang luar curiga. Alex menggendong Jenita yang tertidur karena lelah menangis selama perjalanan.


"Bi, tolong ambilkan air hangat dan handuk kecil ya. Bawakan ke sini,saya mau membasuh wajah nona biar tidurnya nyenyak."


"Iya den." Alex mengangguk, meletakkan tubuh Jenita ke atas ranjang dengan pelan pelan tak ingin membangunkan nya.


"Den."


"Makasih ya bi. Bibi nanti temani tidur nona bisa?"


Keadaan Jenita tidak sedang baik baik saja sekarang. Alex tak ingin terjadi hal yang tak diinginkan seperti saat pertama kali membawa Jenita dan harus menenangkan gadis itu setiap malamnya.

__ADS_1


"Iya, den. Kalau begitu bibi mau ambil baju ganti dulu dikamar." Alex kembali mengangguk.


Dibasuhnya wajah yang terlihat sembab tersebut dengan lembut. Disaat perjalanannya ke kota C kemarin, Alex mendapat kabar dari papanya. Kuncoro mengatakan bahwa telah terjadi pencurian di rumah Lidia. Seorang pengurus rumah mengalami luka dalam peristiwa tersebut. Beruntung Lidia sempat bersembunyi di dalam ruang ayahnya sesaat setelah mendengar kegaduhan di lantai bawah. Bersama seorang pembantu dirinya berada disana. Saat Kuncoro datang bersama beberapa orang yang dia tugaskan untuk menjaga kediaman Lidia barulah wanita itu keluar dari tempatnya bersembunyi.


Huuft


Alex menghembuskan nafasnya. Sungguh pelik kisah hidup yang harus Jenita lalui.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


"Kau gila!! kenapa kau harus memberitahu kan semuanya saat ini? keadaan nya belum pulih benar dan kau menambah beban hatinya." Andrian geram ketika mendapat kabar tentang Jenita pagi itu.


"Tapi itu terbaik untuk nya. Jen harus segera bangkit dan diapun harus tahu apa yang sebenarnya terjadi dibelakangnya. Ini lebih baik dari pada harus hidup dalam ketidaktahuan. Mereka memanfaatkan ketidaktahuan Jenita dan menjadikan itu kelemahannya." Alex mendesah. Semua sulit baginya.


"Tapi kau kan bisa menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukan semua padanya."


Andrian mendesah, dia juga tak bisa menyalahkan Alex sepenuhnya. Apa yang Alex katakan memang benar, Jenita harus bisa menjaga dirinya sendiri paling tidak gadis itu tahu siapa kawan dan siapa lawan.


"Lalu, apa rencana mu selanjutnya?"


"Masih sama, prioritas kita kali ini hanya menjaga Jen. Sambil kita menunggu petunjuk selanjutnya. Bagaimana dengan mu? apa ada ide?"


"Untuk saat ini aku masih harus berada disini. Mungkin minggu depan aku baru bisa bergabung dengan kalian. Dan pada saat itu, aku ingin Jenita sudah pulih. Aku akan mengajaknya untuk berkolaborasi membuat bolu dan akan mengadakan semacam ajang perlombaan. Acara tersebut selain bertujuan untuk menarik lebih banyak pelanggan toko dan menaikan jumlah konsumen. Juga bisa kita pakai sebagai kesempatan untuk mencari bukti bukti."


"Maksud mu?"


"Lisda, Angia, Leny dan Anti. Mereka bisa diandalkan untuk itu. Disaat semua sibuk, mereka lah yang akan bergerak mencari bukti. Saat ini, Angia bahkan sudah menemukan beberapa tempat yang terpasang cctv tersembunyi. Aku juga meminta Jenita menarik Rendi untuk membantunya menangani laporan mingguan. Nah pada saat itu Rendi bisa mengalihkan perhatian dengan dia berada di ruangan Jenita sementara Lisda dan Angia bergerak."

__ADS_1


"Baiklah, tunggu kamu kembali baru kita susun kembali rencana dengan matang."


"Jaga Jenita, aku percaya kamu bisa menjaganya dengan baik. Jika tidak, maka bersiaplah. Aku akan merebutnya darimu jika sampai hal itu terjadi." Andrian menekankan kata katanya.


"Jangan mimpi!!" Alex berucap keras seraya menutup panggilan nya membuat Andrian tergelak disebrang sana.


"Ada apa?" Jenita yang baru saja keluar dari kamarnya tentu saja terkejut mendengar ucapan Alex. Lelaki tersebut hanya mengusap tengkuknya pelan dan mendengus kesal dengan perkataan Andrian.


"Kamu mau ke toko, yang?"


Terlihat penampilan Jenita sudah rapi.


"Tidak, hari ini aku mau ke ruko saja. Rasanya sudah lama aku tidak berperang dengan tepung dan loyang. Aku sudah merindukannya." Jenita tersenyum.


Diam diam Alex turut menyunggingkan senyumnya. Jenita benar-benar melakukan apa yang dikatakan nya semalam. Tampil ceria seolah tak ada masalah yang dihadapinya. Dan itu memang yang Alex inginkan, agar orang lain tak dapat membaca apa yang tengah terjadi pada dirinya.


"Kamu mau ikut?"


"Aku bukan Andrian, mana bisa aku melakukan hal itu. Mungkin nanti aku akan menyusulmu."


"Kamu mau pergi?" Jenita menatap Alex. Lelaki tersebut juga nampak telah rapih dengan pakaian santainya.


"Ada beberapa pekerjaan yang harus aku lakukan di sini. Setelahnya aku akan bertemu dengan Anto ada hal yang harus dibahas dengannya."


"Kamu mempercayainya? kamu tak takut nanti dia berkhianat." Bukan tanpa alasan Jenita masih meragukan Anto. Bagaimanapun pemuda itu pernah menculiknya.


"Aku tahu, tapi tenanglah. Aku juga sudah menyelidiki semua tentangnya. Aku lebih mengkhawatirkan kamu, berjanjilah untuk menjaga dirimu dan selalu berhati-hati. Libatkan Rendi dalam segala kegiatanmu, dia akan membantumu nanti." Alex merengkuh Jenita dalam perlukannya.

__ADS_1


__ADS_2