
Senyum tipis tersungging di bibir tipis Alex. Tak sia sia rasanya dia mengerahkan banyak orang demi usahanya mengumpulkan informasi. Peristiwa yang terjadi di keluarga Jenita telah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Hingga membuatnya sedikit kesusahan dalam menggali informasi.
Namun banyak hal yang dia dapat dari semua itu. Bahkan Ayunita tak luput dari incarannya dalam mencari informasi. Berbekal uang dia dapat mengorek banyak keterangan dari wanita yang tak lagi muda namun dengan kata kata yang selalu pedas tersebut.
Gaya Ayunita tak pernah berubah. Seperti yang papanya, Kuncoro pernah katakan. Ayu memang memiliki mulut pedas namun otak nya terlalu dangkal dan sangat mudah di tebak.
Wanita dengan obsesi yang tinggi tersebut selalu ingin tampil menonjol dan itulah kelemahan yang dimilikinya. Ayu tak akan segan memberikan apapun ke pada orang yang menyanjungnya. Dan itu dapat Alex buktikan saat ini.
*
*
*
Acara yang Jenita adakan sangat menuai nilai positif terhadap usahanya. Pada akhirnya banyak konsumen yang datang mengunjungi toko eyang setelah acara tersebut selesai keesokan harinya. Bahkan ada beberapa toko yang mengajukan kerja sama dengan toko Jenita bahkan bersedia menjadi toko cabangnya.
Jenita sendiri menyambut baik niat para pelaku pasar tersebut. Namun dirinya juga ingin semakin mengembangkan usahanya mengikuti jaman. Jenita masih bergelut dengan adonan tepung yang ketika merasakan sebuah lengan dari balik tubuhnya. Bau parfum yang menguar masuk ke indra penciuman nya, membuatnya tak lagi kaget ataupun reflex menoleh pada pemilik dagu yang sudah menempel indah di pundak sebelah kanannya.
"Aku sebentar lagi selesai." Ucapnya berharap Alex melepaskan pelukannya.
Tak begitu erat memang, namun pelukan tersebut membuat ruang gerak Jenita semakin terbatas.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Jadi cepatlah, karena aku tak yakin bisa menahannya, sayang." Ucap Alex pelan.
Lelaki tampan itu berbisik mesra di telinga Jenita. Membuat iri, Marni dan para karyawan yang melihat keberadaan mereka berdua.
__ADS_1
Alex melepaskan pelukannya setelah melabuhkan kecupan di puncak kepala Jenita dengan lembut. Jenita yang tak lagi konsen dengan adonannya memilih memejamkan mata merasakan kelembutan sentuhan Alex. Walau terbesit keraguan dalam hatinya, Jenita tak bisa memungkiri bahwa kehadiran Alex memberinya rasa nyaman. Lelaki tersebut selalu bisa mengembalikan mood nya yang berantakan.
"Aku tunggu di ruangan." Alex berjalan meninggalkan Jenita dan tersenyum ke arah para karyawan nya yang masih terbengong di sana.
"Dia selalu bisa menggoda ku." Gerutu Jenita sambil menatap punggung Alex yang perlahan menghilang di balik pintu.
Tidak, bukan godaan. Alex jelas jelas serius dengan ucapannya. Tak ada niat baginya untuk menggoda gadis yang selalu berada dalam pikirannya kini. Sejak beberapa jam lalu dirinya memikirkan cara yang tepat untuk bisa memberitahu Jenita tentang hasil dari kerja keras orang orang nya.
Tak sabar menunggu Jenita pulang, pada akhirnya Alex datang ke ruko tempat wanita cantik itu tengah ber experimen. Jenita yang memang tak mau larut dalam ke galaunya memilih menenggelamkan diri di balik tepung yang membuatnya bisa tersenyum puas akan hasilnya.
Untuk saat ini Jenita menyerahkan semua nya pada Alex. Untuk selanjutnya gadis cantik tersebut belum mau membebani pikirannya yang belum bisa dikatakan stabil tersebut. Bahkan untuk perusahaannya dia tak lagi ambil kendali. Semua berada ditangan Alex dan Sinta yang mengurusnya. Bukan juga Jenita mengacuhkan semuanya, namun untuk saat ini Jenita ingin membangun rasa tenang dan nyaman dalam dirinya terlebih dahulu.
Pintu ruangan terbuka disusul dengan kemunculan Jenita dengan sepiring irisan kue hasil dari uji cobanya tadi. Kue bolu yang masih terlihat hangat dengan terlihatnya uap samar yang keluar di atasnya itu nampak menggugah selera.
Alex mengulurkan tangannya meminta Jenita duduk disampingnya. Seperti biasa, lelaki tampan yang selalu tersenyum di hadapan Jenita tersebut melingkarkan sebelah tangannya ke tubuh Jenita.
Bohong rasanya jika Jenita tak penasaran. Gadis tersebut langsung saja mengutarakan apa yang dia pikirkan. Dan tindakannya tersebut membuat Alex tergelak.
"Tante ingin bertemu denganmu. Tapi aku memintanya untuk datang ke mari. Paling lambat besok malam beliau akan datang." Alex berujar sambil menatap lembut mata bulat jernih yang juga tengah menatapnya.
"Mama.Nggak ada sesuatu yang serius terjadi kan?"
Jenita setakut itu. Satu diantara ke dua orang tuanya telah meninggalkan dirinya. Jenita tak ingin kehilangan untuk ke dua kalinya terutama saat ini. Jenita masih memerlukan dukungan dan kasih sayang mamanya.
"Nggak ada, jangan khawatir. Tante berada dalam pengawasan orang-orang ku dan papa. Beliau aman, tenang saja."
__ADS_1
Ucap Alex menenangkan dengan usapan lembut di kening Jenita yang sempat berkeringat dengan kegiatannya tadi. Hembusan nafas legah jelas sekali terdengar dari bibir mungilnya yang perlahan tersenyum.
"Tapi kenapa harus besok malam baru sampai?" Perjalanan dari kota S ke kota C tak membutuhkan waktu 24 jam jika di tempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi. Kecuali kendaraan umum bisa membutuhkan sedikit waktu lebih panjang karena jalur yang dilalui pun berbeda.
"Aku yang meminta mereka besok berangkatnya. Untuk hari ini aku ingin memberitahu kamu tentang satu hal. Hingga nanti ketika mamamu datang kau tak lagi terkejut dengan semua faktanya."
Jenita mengernyitkan dahi mendengar ucapan Alex.
"Lex, kamu bilang tak akan ada masalah. Tapi kenapa sekarang bicara begitu. Itu artinya ada masalah yang sengaja kalian sembunyikan dari ku kan? Kenap..."
Suara Jenita yang gemetar tertekan oleh mulut Alex yang ********** lembut. Alex tak lagi bisa menahan dirinya menatap bibir Jenita yang sejak tadi seolah menggodanya. Gemas dengan segala pemikiran yang bersarang di kepala gadis cantik yang membuat harinya penuh warna di beberapa bulan terakhir.
Alex bersumpah tak akan pernah lagi melepaskan Jenita. Bahkan tekatnya sudah bulat untuk menjadikan Jenita milik nya seutuhnya.
Jenita berusaha memberontak namun ******* dan ******* lembut Alex membuatnya tak bisa berpikir waras. Ciuman pertama yang dilakukan lelaki tersebut masih terasa hangat di bibirnya hingga kini. Ditambah lagi dengan sekarang membuat Jenita semakin jatuh ke dalam pesona Alex yang benar-benar membuatnya tak berdaya.
"Jangan terlalu banyak berpikir, percaya padaku. Semua akan baik baik saja. I Love You."
Alex mengusap lembut bibir Jenita kemudian membawa gadis yang masih mematung tersebut ke dalam pelukannya.
Kata cinta yang baru pertama Alex ucapkan membuat jantung Jenita berdegub semakin kencang. Bukan hanya dirinya, karena Alex sendiri pun merasakan hal yang sama. Jantungnya berdebar tak karuan ketika kata yang dulu dia coba merangkainya dengan indah malah terucap tanpa sadar di saat ini.
Senyum tipis menghias di ujung bibirnya. Perasaan lega menyelimuti hati Alex ketika mengatakan hal tersebut.
"Aku sayang kamu, Jen. Percayalah, tak akan ku biarkan kamu menangis lagi setelah ini." Pelukannya semakin mengerat.
__ADS_1
Perlahan lengan Jenita membalas pelukan tersebut dan membenamkan wajahnya di pundak Alex. Cairan bening itu keluar dari mata indahnya. Senyum terukir di bibir keduanya. Tanpa kata namun pelukan mereka meng isyaratkan semuanya.